Sunday , August 18 2019
Breaking News
Gema Perlawanan Masyarakat Samin di Surabaya

Gema Perlawanan Masyarakat Samin di Surabaya

Rabu (15/04/2015), media online alternatif the-protester.com bekerjasama dengan perpustakaan kolektif C20 Library Surabaya yang terletak di Jl. Cipto 20 mengadakan kegiatan nonton bareng film “Samin vs Kendeng” dan diskusi terbuka bertajuk “Melawan Eksploitasi Alam.” Acara yang dihadiri sekitar 30 peserta dari elemen mahasiswa, jurnalis, aktivis, serta perwakilan LSM Paguyuban Warga Setren Kali Surabaya ini diselenggarakan tepat pukul 18:45 hingga 21:00 WIB dipandu oleh moderator Abdul Karim selaku salah satu penggagas the-protester.com

diskusi terbukaSelanjutnya adalah pemutaran film dokumenter berdurasi 39 menit besutan Dandhy Laksono. Adegan dibuka oleh pemandangan alam sawah di Pegunungan Kendeng yang masih asri serta penjelasan kronologi konflik pabrik semen melawan petani Rembang. Cerita kemudian berlanjut pada perjuangan dua bersaudara Gunretno dan Gunarti, keduanya merupakan penduduk adat Samin atau Sedulur Sikep, dalam menyadarkan warga petani di desa-desa Jawa Timur maupun Jawa Tengah agar bangkit melawan ekspansi pabrik semen yang merusak ekosistem karst serta lahan pertanian.

Setelah film diputar, sesi berikutnya adalah diskusi bersama narasumber Rere Christianto (Walhi Jawa Timur) dan Joeni Arianto (dosen muda Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya). Menurut Rere, wilayah Pesisir Utara termasuk Rembang kini mengalami bencana ekologis seperti banjir yang semakin parah akibat hancurnya pegunungan karst. Sejatinya, karst berguna sebagai daerah resapan air yang bermanfaat bagi stok sumber mata air. Rusaknya karst tidak lepas dari semakin masifnya industri pertambangan di daerah tersebut, terutama kapur sebagai bahan baku semen. 

Lebih jauh Rere menuturkan, berdasarkan temuan Jaringan Advokasi Tambang bahwa kini justru telah terbit 378 ijin usaha tambang dan mineral di Jawa Timur, 76 di antaranya adalah ijin pendirian perusahaan semen. “Padahal Pulau Jawa ini padat penduduk dan idealnya tidak boleh ada usaha ekstraktif (pertambangan-ed.). Ingin bukti? Bekas area Semen Gresik di Tuban dan Gresik yang ada di area pemukiman kini sudah terpolusi CO2. Sudah tidak layak huni karena berbahaya bagi manusia yang tinggal di sekitarnya.” Ia menegaskan, jika Rembang dan Pati nantinya berhasil dikuasai oleh perusahaan semen, maka ini bakal menjadi preseden buruk bagi kelangsungan lingkungan beserta penduduk sekitarnya.

Narasumber kedua lebih fokus pada aspek sosio-kultural dan hukum adat dalam kasus perlawanan komunitas Samin plus petani Rembang. Menurut Joeni, berdasarkan penelitian Lance Castles dan Hary J. Benda, masyarakat Samin dipuji sebagai gerakan petani militan yang mampu menerapkan konsep berdikari melawan penindasan. “Ini tidak lepas dari fakta sejarah bahwa sejak zaman kolonial hingga sekarang melawan pabrik semen, Samin konsisten tidak mau tunduk pada kekuatan penjajah yang hendak merusak tanah tempat tinggalnya,” kata dosen yang tesis masternya mengangkat tema gerakan petani Rembang ini. 

Lanjutnya, sikap Gunretno dan Gunarti yang rela berkeliling ke berbagai desa untuk menyadarkan dampak negatif pabrik semen turut diapresiasi, “Ini menunjukkan bahwa keduanya tidak egois. Mereka tidak hanya berjuang bagi komunitas Samin sendiri, tapi juga mengadvokasi penduduk non-Samin seperti di Rembang. Bahkan sampai menyeberang jauh ke Tuban, Jawa Timur, hanya untuk menyadarkan rekan sesama petani. Semangat inklusif tanpa sekat dan militan ini perlu ditiru gerakan mahasiswa saya rasa.

Sebagai penutup, Joeni mengingatkan bahwa gerakan rakyat seperti saat ini di Rembang acapkali berisiko kalah di pengadilan karena oknum berkuasa selalu punya cara membeli putusan hukum. Selain itu menurutnya, posisi hukum adat sebagai payung hukum komunitas masyarakat adat dalam mengelola tanahnya sendiri masih lemah karena rentan permainan pasal karet. “Oleh karenanya dalam mengorganisasikan gerakan rakyat, kita tidak boleh berharap banyak pada pengadilan. Di sinilah peran mahasiswa seperti Anda. Bantulah masyarakat kecil, misalkan dengan membentuk sekolah advokasi. Memang tidak mudah jika kita memilih berpihak bersama mereka yang tertindas sistem,” pungkasnya. (Fikri/Yudhi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top