Tuesday , November 19 2019
Breaking News
GPV Camp Bali: Berbuat Baik Itu Adiktif!

GPV Camp Bali: Berbuat Baik Itu Adiktif!

Jumat (5/12) Global Peace Foundation Indonesia atau disingkat GPF, sebuah NGO internasional yang concern dalam isu sosial dan kerukunan umat beragama menghelat Global Peace Volunteer (GPV) Camp angkatan 1.23 di Villa Shinta, Danau Berantan, Bedugul, Bali. Rangkaian acara berlangsung selama 3 hari terhitung sejak Jumat hingga Minggu (7/12) siang. Dari 40 delegasi yang terpilih mewakili berbagai universitas di seluruh Indonesia, hanya 28 orang yang dapat hadir. Peserta terjauh datang dari ujung barat mewakili Bangka Belitung dan dari Indonesia Timur diwakili Makassar.

Pada hari pertama pukul 14.00 WITA, delegasi terlebih dahulu mengikuti seminar internasional bertajuk Moral and Innovative Leader: Young People Make Change yang diselenggarakan oleh GPF di Hotel Puri Ayu, Denpasar. Selepas acara, 28 delegasi diberangkatkan menuju Bedugul untuk menerima pelatihan selama 2 hari berikutnya. Sesi hari Sabtu banyak diisi dengan pembekalan materi dalam kelas.

Shintya Rahmi Utami yang akrab disapa Kak Tya selaku general manager GPF Indonesia menyampaikan tentang pentingnya pengembangan cinta sejati, yaitu ketulusan untuk mendedikasikan diri bagi keluarga, masyarakat, dan dunia global. Menurutnya, keluarga sebagai entitas mikro memainkan peran penting dalam menghasilkan calon pemimpin masa depan yang berkualitas. “Sehingga, jika teman-teman nanti sudah berkeluarga, harus mampu menanamkan kesetiaaan, cinta, dan harmoni kepada pasangan, anak, dan saudara untuk menciptakan individu yang akan menebarkan kebaikan bagi lingkungan sosialnya,” ujarnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemutaran dan diskusi film Ryan’s Well, kisah seorang anak berusia 6 tahun di Kanada yang bekerja keras mengumpulkan dana untuk pembangunan sumur di wilayah sulit air Uganda. Refleksi yang dihasilkan adalah bahwa berbuat baik untuk sesama bersifat adiktif meskipun seringkali tantangan yang dihadapi tidaklah mudah.

Salah satu kelompok menyampaikan pandangan bahwa di kalangan generasi muda dan para orang tua harus belajar banyak dari ketulusan anak kecil seperti Ryan yang melakukan perbuatan baik bagi masyarakat karena rasa kemanusiaan yang besar tanpa tendensi apapun. Juga pentingnya menjalin relasi untuk membantu merealisasikan mimpi dalam mewujudkan kebaikan.

Selain sesi materi, ada pula sesi refreshing melalui games yang sarat makna maupun sesi heart to heart sebagai latihan berempati dan menjadi pendengar yang baik.

Di hari terakhir, seluruh delegasi yang terbagi atas kelompok kecil diwajibkan turun ke masyarakat sekitar pada sesi services project untuk mengimplementasikan konsep berbuat baik dan menjadi bermanfaat untuk sesama. Peserta dapat membantu apa saja. Salah satu kelompok ada yang membantu petani kentang menggarap lahan, menyiangi kebun strawberry, memungut sampah di jalanan, ikut mencuci mobil salah satu warga, bahkan ada yang berinisiatif mendatangi pura di sekitar villa sekadar untuk melakukan High-Five Project, yakni menyebarkan semangat di hari Minggu melalui senyum dan saling melakukan tos baik kepada wisatawan asing, pecalang, atau warga setempat yang hendak melakukan ibadah.

Setelah lebih kurang dua jam melakukan services project, refleksi dilakukan dan menghasilkan konklusi: meski perbuatan baik sekecil apapun tak selamanya mendapat kesan positif dari sasaran yang dituju, jangan sampai hal itu menyurutkan ketulusan kita untuk terus berbuat baik dan menyebarkan pesan perdamaian. (Fikri/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top