Wednesday , December 11 2019
Breaking News
Hak Timbal Balik antara Penguasa dan Rakyat (Khutbah Imam Ali pada Pertempuran Shiffin)

Hak Timbal Balik antara Penguasa dan Rakyat (Khutbah Imam Ali pada Pertempuran Shiffin)

Kemudian daripada itu, Allah Yang Mahasuci, dengan menempatkan saya atas urusan Anda, telah menciptakan hak saya atas Anda, dan Anda pun mempunyai hak atas diri saya, sebagimana saya mempunyai hak atas Anda. Suatu hak adalah sangat luas dalam uraian tetapi sangat sempit dalam kesesuaian tindakan. la tidak menambahkan bagi seseorang kecuali apabila ia menambahkan terhadapnya pula, dan hak tidak menambah terhadap seseorang kecuali apabila ia menambah bagi (keuntungan)nya. Apabila ada suatu hak yang hanya menguntungkan bagi seseorang tanpa hak (sehubungan dengan itu) terhadap dirinya, adalah itu semata-mata bagi Allah Yang Mahasuci, dan bukan bagi makhluk-makhluk-Nya, karena (berdasarkan) kekuasaan-Nya atas makhluk-makhluk-Nya dan keadilan yang menembusi seluruh ketetapan-Nya. Sesungguhnya la Yang Mahasuci telah menciptakan hak-Nya atas makhluk bahwa mereka harus menyembah-Nya, dan telah menetapkan bagi Diri-Nya (kewajiban) atas ganjaran bagi mereka yang sama dengan beberapa kali imbalan sebagai tanda rahmat-Nya dan kemurahan yang la sanggupi.

Kemudian, dari hak-hak-Nya la Yang Mahasuci menciptakan hak-hak tertentu bagi orang-orang tertentu atas yang lain-lainnya. la membuatnya sedemikian rupa sehingga sebanding antara satu sama lainnya. Beberapa dari hak-hak ini menimbulkan hak-hak lain. Beberapa hak adalah sedemikian rupa sehingga mereka tidak menambah kecuali dengan yang lain-lainnya. Yang paling besar dari semua hak-hak yang telah diwajibkan Allah Yang Mahasuci ialah hak penguasa atas yang dikuasai dan hak yang dikuasai atas penguasa. Ini kewajiban yang telah ditetapkan Allah Yang Mahasuci atas satu sama lainnya. la telah menjadikannya basis bagi saling kasih sayang mereka, dan suatu kemuliaan bagi agama mereka. Sebagai akibatnya, yang dikuasai tak mungkin makmur apabila penguasanya tidak sehat, sedang para penguasa tak akan sehat kecuali rakyatnya tabah.

Apabila rakyat memenuhi hak-hak penguasa dan penguasa memenuhi hak-hak rakyat, maka hak beroleh kedudukan terhormat di antara mereka, jalan agama menjadi mapan, tanda-tanda keadilan menjadi tetap dan sunah beroleh jalan.

Dengan jalan ini waktu akan membaik, kelanjutan pemerintahan akan diharapkan, dan tujuan-tujuan musuh akan digagalkan. Tetapi, apabrla rakyat menguasai si penguasa, atau penguasa menindas rakyat, maka perselisihan muncul pada setiap kata, tanda-tanda penindasan muncul, bencana memasuki agama, dan jalan sunah ditinggalkan. Kemudian orang bertindak berdasarkan hawa nafsu, perintah (agama) disingkirkan, penyakit rohani menjadi banyak, dan tak ada ragu-ragu dalam mengabaikan hak-hak besar sekalipun, tidak pula dalam melakukan kesalahan-kesalahan besar. Dalam keadaan semacam itu, orang bajik dihinakan sementara orang jahat dihormati, dan ada azab yang pedih dari Allah Yang Mahasuci kepada manusia.

Oleh karena itu, Anda harus saling menasihati (untuk memenuhi kewajiban Anda) dan bekerjasama. Bagaimanapun luar biasa hasrat seseorang untuk mendapatkan keridaan Allah, dan betapapun ia sepenuhnya berusaha untuk itu, ia tak dapat melaksanakan (kewajiban bagi) ketaatannya kepada Allah Yang Mahasuci sebagaimana yang sesungguhnya hak bagi-Nya, dan adalah suatu hak Allah yang wajib atas manusia bahwa mereka harus saling menasihati sekuat kemampuan mereka, dan bekerjasama untuk menegakkan kebenaran di antara mereka. Tak ada orang, betapa besar pun kedudukannya dalam urusan kebenaran, dan betapa maju pun keutamaannya dalam agama, yang berada di luar batas kerjasama sehubungan dengan kewajiban-kewajiban yang diletakkan padanya oleh Allah. Lagi, tak ada orang, betapapun kecilnya ia dipandang oleh orang lain, dan betapa rendah pun ia mungkin tampil di mata, yang terlalu rendah untuk bekerjasama atau ditawari kerjasama dalam urusan ini.

Salah seorang sahabat Amirul Mukminin menjawab kepadanya dengan suatu pidato panjang di mana ia memujinya (Amirul Mukminin) dan menyebutkan bahwa ia sendiri mendengarkannya dan menaatinya, yang atasnya Amirul Mukminin berkata:

Apabila di dalam pikirannya seseorang memandang kesucian Allah tinggi, dan dalam hatinya beriman bahwa kedudukan Allah mulia maka, karena besarnya hal-hal ini, adalah haknya untuk memandang semua hal lainnya kecil. Di antara orang-orang semacam itu, orang yang padanya rahmat Allah besar dan nikmat-nikmat Allah ramah, mempunyai kewajiban yang lebih besar, karena rahmat Allah kepada seseorang tidak akan bertambah tanpa bertambahnya hak Allah atasnya.

Dalam pandangan orang bajik, kedudukan terbumk penguasa adalah bila mereka dianggap mencintai kemuliaan, dan urusan mereka dianggap berdasarkan kebanggaan. Sesungguhnya saya membenci kalau-kalau terjadi pada pikiran Anda bahwa saya mencintai pujian tinggi atau mendengar lagu pujian. Dengan rahmat Allah, saya tidak seperti itu. Sekalipun misalnya saya menyukai disebut seperti itu, saya akan menyerahkannya dalam ketundukan ke hadapan Allah Yang Mahasuci ketimbang menerima kebesaran dan kemuliaan yang atasnya la lebih berhak. Pada umumnya manusia merasa senang pada pujian setelah pelaksanaan kerja yang baik; tetapi janganlah menyebutkan bagi saya pujian bagus atas kewajiban-kewajiban yang saya lakukan kepada Allah dan kepada Anda, karena (saya) takut akan kewajiban-kewajiban yang tidak saya laksanakan dan karena mengeluarkan perintah-perintah yang tak terelakkan, dan janganlah menyapa saya dengan sapaan pada raja-raja.

Janganlah menghindari saya sebagaimana (menghindari) manusia-manusia hawa nafsu, jangan menemui saya dengan puji-pujian, dan jangan berpikir bahwa saya akan menyalahkan apabila suatu hal yang benar dikatakan kepada saya, karena orang yang merasa muak bilamana kebenaran dikatakan kepadanya atau suatu hal yang adil diletakkan di hadapannya akan mendapatkannya lebih sulit untuk melaksanakannya. Oleh karena itu janganlah berpantang dari berkata benar atau menudingkan masalah keadilan, karena saya tidak memandang diri saya di atas kekeliruan.[1] Saya tidak luput dari membuat kekeliruan dalam tindakan saya melainkan Allah menolong saya (dalam mengelakkan kekeliruan) dalam urusan-urusan di mana la lebih berkuasa daripada saya. Sesungguhnya saya dan Anda adalah hamba-hamba yang dimiliki Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. la memiliki diri kita yang tidak kita miliki. la membawa kita dari mana kita berada kepada yang berarti kemakmuran bagi kita. la mengubah kesesatan kita dan memberikan kepada kita kecerdasan setelah kebutaan.

——————————————————————————–

Syarh; Bahwa kesucian malaikat berbeda dengan kecucian manusia tak perlu lagi dibahas secara mendetail. Kesucian malaikat berarti bahwa mereka tidak mempunyai dorongan untuk berbuat dosa, sedangkan kesucian manusia berarti bahwa walaupun ia mempunyai kelemahan manusiawi dan hawa nafsu, namun ia memiliki kemampuan khas untuk melawannya dan ia tidak mesti dikalahkan olehnya sehingga berbuat dosa. Kemampuan ini sendiri disebut kesucian, dan itu mencegahnya untuk membangkitkan hawa nafsu dan dorongannya. Kata-kata Amirul Mukminin bahwa “saya tidak memandang diri saya di atas kekeliruan” merujuk dorongan hawa nafsu manusiawi itu, dan ucapannya bahwa “Allah menolong saya dalam menjauhi kekeliruan” merujuk kesucian. Nada yang sama terdapat dalam Al-Qur’an dalarn kata-kata Nabi Yusuf (as),

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 12:53)

Sebagaimana dalam ayat ini, karena adanya pengekecualian, bagiannya yang pertama tak dapat digunakan untuk argumen menentang kesuciannya. Demikian pula, karena adanya pengecualian, “tetapi Allah menolong saya dalam menjauhkan kekeliruan” dalam ucapan Amirul Mukminin, bagiannya yang pertama tak dapat digunakan sebagai argumen melawan kesuciannya, karena apabila demikian maka kesucian nabi pun akan harus ditolak. Demikian pula, kalimat terakhir khotbah ini tak boleh diartikan bahwa sebelum maklumat pertama kenabian beliau berada di bawah pengaruh kepercayaan jahiliah, dan sebagai orang lain sebelumnya adalah kafir beliau pun dahulunya berada dalam gelapnya kesesatan. Karena, sejak lahirnya Amirul Mukminin dibesarkan oleh Nabi, dan efek latihan dan pengasuhan beliau telah meresap ke dalam dirinya. Tak dapat dibayangkan bahwa orang yang sejak masa kecilnya melangkah pada jejak Nabi akan menyimpang dari bimbingan walau sejenak. Maka Mas’ûdî menulis,

“Amirul Mukminin tak pernah mempercayai tuhan lain kecuali Allah sehingga tak mungkin ada masalah tentang penerimaan Islamnya. la malah mengikuti Nabi dalam seluruh tindakan … dan dalam keadaan itu sendiri ia mencapai kedewasaannya. (Murûj adz-Dzahab, II, h. 3)

Di sini, dengan orang-orang yang dipimpin Allah dari kegelapan kepada bimbingan, mjukannya ialah kepada orang-orang yang kepadanya Amirul Mukminin berkata. Ibn Abil Hadtd menulis, “Rujukannya di sini bukanlah kepada dirinya sendiri, karena ia tak pernah kafir sehingga menerima Islam setelah itu, tetapi dalam kata-kata ini ia merujuk kelompok orang-orang kepada siapa ia berkata.”

Syarh Nahjul Balâghah, Kitab II, hal. 108

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top