Sunday , December 8 2019
Breaking News
Hikmah Milad Imam Musa Kazhim as

Hikmah Milad Imam Musa Kazhim as

Imam Musa Al-Kazhim as. merupakan Imam ke-7 dari jajaran Imam Itsna ‘Asyariah, putra Imam Ja’far Shadiq as. Lahir pada hari Ahad 7 Shafar 128 H / 745 M. Mendapat gelar Al-Kazhim karena ketegaran, kesabaran dan mempu mengendalikan diri dan tidak mudah emosi, serta beberapa gelar lain yang juga disandangnya. Beliau lahir di masa sulit yang pada masa itu merupakan masa-masa pergantian kekuasaan dinasti Bani Umayah ke Abbasiyah. Kedua dinasti yang tidak memberikan ruang bagi Ahlulbait mengembangkan ajaran suci yang dibawa kakeknya, Rasulullah Muhammad saw.

Sebagai keturunan Nabi serta pengemban amanah agama Ilahi, Imam Musa Al-Kazhim menjadi sosok yang berpengaruh di zamannya. Penguasa yang keji saat itu menganggap Ahlulbait dan pengikutnya sebagai sebuah ancaman. Tak heran jika pada saat itu banyak keturunan Ahlulbait dan pengikutnya dipenjara, disiksa bahkan dibunuh. Sehingga pada akhirnya Imam Musa Al-Kazhim as. pun wafat diracun oleh orang suruhan Harun Ar-Rasyid, penguasa Abbasiyah saat itu. Imam Musa Kazhim wafat pada Jumat 25 Rajab 183 H di usia 55 tahun.

Berkenaan dengan hal itu, Kamis (19/11), Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menggelar acara Milad Imam Musa Al-Kazhim as. Bertempat di aula Husainiyah ICC, peringatan milad yang diselenggarakan untuk menyelami khazanah ilmu keislaman yang dibawa Ahlulbait Nabi ini, menghadirkan HI. DR. Hamid Parsania (Komisi Revolusi Budaya Iran) dan HI. Nik Nejadi (Ketua Lembaga Penerangan Islam Prov. Tehran, Iran) sebagai pengisi tausiyah malam itu.

DR. Hamid Parsania membawakan sebuah riwayat Imam Musa Al-Kazhim as. berkenaan dengan akal, sekaligus menjelaskan kenapa peran akal sangat penting ditekankan Imam saat itu. Tausiyah berbahasa Persia ini diterjemahkan bebas oleh Ust. Abdullah Beik, dan penulis mencoba merangkum sebagian kecil pesan yang disampaikan.

Riwayat yang disampaikan DR. Hamid Parsania berisi tentang perbincangan Imam Musa Al-Kazhim as. dengan muridnya bernama Hisyam. Di antara pembicaraan yang pertama ialah berkenaan dengan akal. Di awal-awal riwayatnya, Imam menyebutkan tentang peran dan fungsi akal dan juga menyebutkan beberapa ayat Alquran yang mendukung sabdanya. Beliau juga menyebutkan tentang beberapa macam sikap, perlakuan, dan beberapa kelompok terhadap akal tersebut.

DR. Hamid Parsania berkisah: “Mengawali riwayatnya, Imam as. menyebutkan ‘bahwa Allah SWT memberikan kabar gembira wahai Hisyam, Allah SWT memberikan kabar gembira seperti dalam ayat atau firman-Nya, sampaikanlah kabar gembira kepada mereka yang membuka telinganya untuk menggapai, untuk mendapatkan berbagai informasi dan ilmu, kemudian memilih mana di antara berbagai pandangan dan ucapan (ilmu) itu yang terbaik’. Kemudian beliau melanjutkan ‘Hisyam ketahuilah, Allah SWT menyampaikan berbagai hujjah-Nya dengan akal’ dan dalam riwayat ini juga kita dapatkan, bagaimana Imam berdalil dan menggunakan ayat-ayat Alquran tentang peran akal dalam kehidupan kita.”

“Ketahuilah bahwa Allah SWT telah mengutus untuk kita dua hujjah, dua utusan Allah SWT; pertama hujjah atau utusan yang bersifat lahiriah, yang disebut dengan Nabi dan Rasul dan yang kedua adalah hujjah yang batin utusan Allah SWT yang batin yaitu akal.”

“Dan beliau melanjutkan dalam riwayat itu, ‘wahai Hisyam, ketahuilah andai di dalam genggaman tanganmu ada sebuah kacang yang semua orang mengatakan bahwa itu bukan kacang tapi itu adalah sebutir permata, maka apa yang dikatakan orang itu tidak akan mengubah apa yang ada di tanganmu. Sebaliknya, jika apa yang ada di tanganmu adalah sebuah permata dan semua orang di dunia mengatakan itu hanyalah sebuah kacang saja, maka itu juga tidak akan memberikan kemudharatan kepadamu dan kerugian kepadamu. Ia (permata) tidak akan berubah menjadi kacang.’ Ini mengajarkan kepada kita bahwa apa yang kita miliki, ilmu yang kita miliki, keyakinan yang kita miliki, maka itulah yang harus kita lakukan. Tidak peduli apa yang dikatakan orang lain karena apa yang dikatakan orang lain itu tidak akan mengubah sebuah realitas, tidak akan mengubah sebuah hakikat yang kita raih.”

“Kemudian Imam Musa Al-Kazhim as. melanjutkan, ‘wahai Hisyam, ketahuilah bahwa Allah Swt tidak hanya menguji dan mewajibkan kita mengikuti akal tetapi Allah SWT juga mencela orang yang tidak menggunakan akalnya. Allah SWT di dalam Alquran menceritakan tentang mereka yang meninggalkan dan mengabaikan akalnya dan mengikuti apa yang telah mereka dapatkan dari nenek moyang mereka, walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapatkan hidayah.’ Selanjutnya Imam juga memesankan kepada Hisyam supaya berhati-hati terhadap mayoritas. Sesuatu yang banyak tidaklah meniscayakan sebuah kebenaran yang harus diikuti. Bahkan di dalam Alquran Allah SWT mencela sesuatu yang banyak, seperti firman-Nya dijelaskan; ketika engkau wahai Nabi mengikuti mayoritas dan mengikuti yang banyak di muka bumi, maka mereka akan menyesatkanmu dan sesungguhnya kebanyakan mereka adalah tidak tahu dan kebanyakan mereka tidak menggunakan akalnya.”

Imam Musa Al-Kazhim as. hidup di pertengahan abad ke-2 H. Saat itu merupakan awal keruntuhan dinasti Umayah yang menutup rapat peran akal sebagai sarana berpikir dan beragama.

“Di abad 1 H Bani Umayah mengajarkan masyarakat, serta memprioritaskan beberapa mazhab, di saat yang sama dikembangkan paham determinism (Al-jabr), yang memandang segala sesuatu adalah kehendak Tuhan dan segala sesuatu adalah perbuatan Tuhan. Karena itu tidak ada yang bisa disalahkan apapun yang terjadi, apapun yang dilakukan orang, dan rezim saat itu adalah pekerjaan Tuhan dan kehendak Tuhan maka semuanya kembali pada Tuhan. Mereka disebut Qodariyah. Mereka juga disebut Ahli Zahir atau Zahiriyah karena mereka mencukupkan pemahaman lahiriah saja terhadap ayat maupun hadis yang kebanyakan hadisnya lemah atau palsu. Dalam hal ini kesimpulan akal tidak digunakan. Mereka tidak mendalami apa yang terkandung dalam teks tersebut. Selain itu Bani Umayah juga mengumpulkan hadis-hadis dari orang mereka sendiri, para penceramah dan khatib mereka yang kebanyakan palsu. Serta tidak ada hadis-hadis yang menyebut keutamaan Ahlulbait –kalaupun ada, juga disertai hadis tandingan yang menyebut keutamaan Bani Umayah.”

Mengapa Imam Musa Al-Kazhim as dalam hadis menyampaikan betapa pentingnya menggunakan akal dan peran akal dalam  kehidupan dan beragama? Karena Imam Musa hidup setelah abad seperti ini , ketika berargumentasi, berdalil menggunakan akal adalah sesuatu yang dianggap bid’ah. Sesuatu yang tidak boleh dilakukan. Di samping saat itu memang hidup di bawah penguasa zalim yang membenci Keluarga Nabi.

“Pada abad-abad berikutnya, perubahan besar terjadi saat dicabutnya pelarangan penulisan hadis oleh penguasa-penguasa sebelumnya. Lalu di awal-awal abad kedua dimulai penulisan hadis karena itu kemudian setiap orang yang punya hafalan hadis semuanya datang berbondong-bondong menuliskan hadis tersebut, saat itu dimulailah pencatatan dan modifikasi penulisan hadis dan sejarah Rasulullah.”

“Mereka yang punya konsentrasi sangat besar yang kemudian mengumpulkn hadis, pelan-pelan disebut Ahlulhadis dan Ahlusunnah. Dari situ salah satu makna, atau salah satu sebab munculnya kata Ahlusunnah.”

“Terjadi perubahan besar di pertengahan abad 2 H dari tadinya khalifah hanya disebut 3 (oleh penguasa Bani Umayah) menjadi 4 khalifah. Ini adalah usaha daripada mereka yang mengumpulkan hadis-hadis saat itu yang belum pernah dicatat sebelumnya. Sehingga kemudian hal itu mampu mengubah pandangan umum terkait khalifah yang tadinya 3 menjadi 4. Bahkan di antara mereka ada yang mengorbankan nyawanya karena membela, bahwa ada khalifah ke-4 (Sayidina Ali bin Abi Thalib).”

“Di antara mereka yang menyusun hadis adalah Ahmad bin Hambal, An-Nasa’i,.. itu mereka adalah orang-orang yang juga menjadi korban karena mereka berusaha mengumpulkan hadis-hadis keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib as. dan menganggapnya khalifah ke-4.”

“Karena itu umat Islam harus punya kesadaran dan menghormati dan membesarkan para ulama yang mengumpulkan hadis di zaman itu, sehingga mereka mengorbankan nyawa dan hartanya!”

“Dari sini kita memahami betapa Ahlulbait as. yang dipelopori oleh Imam Musa Al-Kazhim as, tentu juga oleh para Imam yang lain, tapi Imam Musa Al-Kazhim as. dalam hal ini sampai menyebutkan kepada Hisyam hadis berhalaman-halaman tentang peran akal, bagaimana seharusnya orang beragama itu menggunakan akal dan rasionya di saat orang yang mendominasi kehidupan umum telah mengabaikan akal dan tidak memberikan tempat pada akal bahkan tidak boleh untuk sekadar bertanya.”

Andai tidak ada Ahlulbait as, tidak ada Imam Musa Al-Kazhim as. yang terus berjuang menegakkan Islam walau harus berada di balik jeruji besi hingga wafat diracuni, apa yang akan kita dapatkan dari Islam hari ini?

“Karena kita berada di bulan Muharam, penting juga kita mengingat apa yang dilakukan Imam Musa Al-Kazhim as. di zamannya untuk membela kebenaran, dengan menyampaikan berbagai hal seperti tadi dan mengubah apa yang terjadi di masyarakat, itu juga dilakukan oleh Imam Husein as. di zamannya dengan sesuatu  yang lebih mahal, yaitu dengan jiwa dan raganya serta darahnya tertumpah di jalan Allah SWT.” (Malik/Yudhi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top