Wednesday , February 19 2020
Breaking News
Ibunda Para Pengungsi Sampang Akhirnya Berpulang

Ibunda Para Pengungsi Sampang Akhirnya Berpulang

Inna Lillah Wa Inna Ilaihi Raji’un.

Setelah hampir delapan tahun berada di pengungsian, kini kedukaan kembali menyaput ratusan pengungsi Sampang, Madura, di Rusun Jemundo – Sidoarjo. Tadi malam, (Rabu, 12 Februari), sekitar pukul 11.00 WIB, Umah binti Maruki, salah seorang pengungsi Sampang, berpulang ke rahmat Allah Swt. Ibunda Ustadz Tajul Muluk itu wafat di usia 69 tahun, setelah sebelumnya menderita sakit cukup lama. Kepulangan almarhumah ke haribaan Allah Swt menyusul sejumlah warga Sampang lainnya, yaitu almarhum Busidin, almarhumah Kuriyah binti Syafii, dan almarhum Syaiful Ulum yang juga telah wafat selama dalam pengungsian.

Baca juga  Satu Lagi Pengungsi Sampang Meninggal Semasa Mengungsi

Dalam percakapan melalui sambungan telepon dengan pihak unit penerangan ABI, Ustadz Tajul Muluk menceritakan bahwa pada mulanya, pihak keluarga berencana memakamkan almarhumah di desa asalnya, di Sampang, Madura. Salah satu tujuan dari rencana itu adalah untuk menjadikan peristiwa itu sebagai momen rekonsiliasi dan membangun kerukunan antar warga di Sampang, Madura.

Namun, dikarenakan adanya sejumlah kendala, baik berupa komunikasi maupun kondisi, akhirnya Ustadz Tajul Muluk berinisiatif untuk memakamkan ibunda beliau di daerah Bangkalan, Madura. Setelah berkoordinasi dengan saudara-saudara beliau di Bangkalan, lalu disepakati bahwa almarhumah akan dimakamkan di sana.

Baca juga Komunitas Syiah Sampang 7 Tahun di Pengungsian, Noda Hitam di Kening Negeri Toleran

Tak hanya dari pihak keluarga, Ustadz Tajul bahkan mengakui bahwa warga Bangkalan di lokasi penguburan merespon dengan sangat baik dan mempersilahkan keluarga Ustadz Tajul memakamkan ibunda beliau di situ.

Sikap menerima dan responsif warga Bangkalan diwakili langsung oleh pihak Kepala Desa setempat yang menghubungi Ustadz Tajul melalui telepon. “Alhamdulilah, sesampainya di Bangkalan (almarhumah-red.) langsung dimakamkan, dan berjalan dengan lancar, warga desa tidak ada yang mempermasalahkan apa-apa,” ujar Ustadz Tajul. Setelah disalatkan di langgar (mushola), kemudian jenazah dimakamkan sekitar pukul sepuluh pagi. Hampir seluruh sanak dan kerabat almarhumah dari berbagai daerah, seperti Surabaya dan Madura, khusuk menghadiri prosesi pemakaman bersama warga setempat. “Termasuk sejumlah kerabat yang masih tinggal di Sampang,” imbuh Ustadz Tajul.

Semoga almarhumah yang layak disebut “ibunda para pengungsi Sampang”, mendapatkan kebahagiaan di alam barunya dalam naungan kasih sayang Allah Swt bersama kecintaannya pada Ahlulbait Nabi Saw.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top