Wednesday , June 3 2020
Breaking News
Idulfitri Momen Kuatkan Persatuan Umat Islam

Idulfitri Momen Kuatkan Persatuan Umat Islam

Hari Raya Idulfitri telah tiba. Momen kemenangan menahan nafsu dirayakan oleh kaum Muslimin di seluruh dunia. Apa makna dan hakikat dari Idulfitri menurut pandangan Ahlulbait? Berikut wawancara ABI Press dengan Ustaz Abdullah Beik, MA.

Ustaz, apa sebenarnya makna Idulfitri ini?

“Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad. Idulfitri dalam ajaran Ahlulbait memiliki dua dimensi besar. Pertama adalah hubungan kita dengan Allah SWT. Ied artinya tempat kembali kepada Allah, waktu kembali kepada Allah Swt dan kita kembali kepada-Nya sebagai manusia yang suci, yang fitri. Kembali seperti kita dilahirkan oleh Ibu kita tanpa kesalahan dan dosa, karena kita telah memohon maaf dan memohon ampun kepada Allah Swt sepanjang bulan suci Ramadhan, pada malam-malam (Lailatul) Qadr, begitu juga pada Hari Raya ini kita sujud dan memohon ampun kepada Allah Swt.”

“Kedua, adalah bagaimana kita melakukan hubungan silaturahmi, menjalin hubungan persaudaraan dengan kerabat kita yang mungkin sudah lama tak ketemu, hari ini bisa ketemu. Begitu juga dengan tetangga dan handai taulan semuanya. Kita saling mempererat hubungan kita dan saling maaf-memaafkan. Itulah dua dimensi besar Idulfitri.”

Sebagai momen mempererat silaturahmi, apakah ini bisa dijadikan sebagai momen menguatkan persatuan dan ukhuwah Islamiyah?

“Tentu saja. Karena itu untuk seluruh kaum Muslimin, dan lebih khusus kepada pengikut Ahlulbait di mana saja mereka berada, kami berpesan, marilah kita jadikan momentum Idulfitri 1436 H ini sebagai momentum untuk kembali membuka persaudaraan yang mungkin selama ini terputus, yang mungkin selama ini karena satu dua hal renggang, maka mari hari ini kita sambung kembali.”

“Kita sambung kembali segala kesalahan dan luka yang ada di antara kita. Semuanya kita maafkan, untuk semuanya kita lebarkan dada untuk menerima persaudaraan dan persahabatan. Untuk bangsa kita, untuk membangun sebuah negeri, untuk menciptakan masyarakat yang makmur dan adil seperti yang diinginkan oleh setiap diri kita sebagai bangsa Indonesia.”

Bagaimana dengan sebagian saudara kita, Muslimin yang masih tertindas dan teraniaya di Hari Fitri ini, Ustaz?

“Nah, sebagai salah satu bukti bahwa kita adalah sebuah komunitas kaum Muslimin yang bersatu tanpa melihat adanya perbedaan suku bangsa, bahasa, dan mazhab, maka tentu kita harus tunjukkan bahwa persatuan kita inilah yang akan menyelesaikan berbagai problema yang masih dihadapi oleh sebagian kaum Muslimin. Seperti sebagian kaum Muslimin saudara-saudara kita di Yaman, di Rohingya, di Sampang, begitu juga di Palestina masih dalam kondisi yang tertindas dan terzalimi.”

“Maka momen Idulfitri adalah momen ketika kaum Muslimin harus mempererat persatuannya hingga dengan persatuan itulah kita akan mengalahkan setiap kekuatan besar penindas di dunia dan kita akan mampu untuk menyelamatkan kaum Muslimin yang tertindas di mana pun berada. Sekaligus membantu mereka menyelesaikan problemnya.”

Tiap Jumat terakhir bulan Ramadhan selalu ada Yaumul Quds, apa kaitan maknanya dengan Idulfitri ini?

“Sama sebenarnya bahwa pada Jumat terakhir yang dijadikan hari solidaritas rakyat Palestina, itu adalah hari saat kita menunjukkan bahwa sebagai kaum Muslimin kita harus bersatu dan membantu serta memperjuangkan kemerdekaan rakyat Palestina, maka Yaumul Quds adalah mukadimah untuk kita menuju ke Idulfitri.”

“Yaumul Quds dan Idulfitri adalah satu paket; ketika kaum Muslimin memulai untuk menjalin persatuan dan memperkuat kekuatan guna mengalahkan semua kekuatan musuh serta menyelamatkan dan memerdekakan bangsa Palestina secara khusus.”

Bagaimana peran Negara dalam momen Idulfitri ini?

Negara tentu adalah fasilitator yang memiliki kekuatan besar bisa mengerahkan segala kemampuan dan potensi untuk membantu kaum Muslimin satu sama lain saling mempererat persaudaraan. Sehingga dengan demikian persatuan serta persaudaraan akan lebih kokoh ketika difasilitasi oleh negara.”

“Pada saat yang sama tentu Negara tak boleh ikut campur dalam hal merusak persaudaraan dan persatuan umat. Negara harus melindungi dan tak boleh merusak persatuan umat dan kaum Muslimin. Di saat ada riak-riak konflik kecil, ada usaha untuk memperlemah dan mencerai-beraikan persatuan, maka negara tentu dengan kekuatan yang dimilikinya harus berdiri mencegahnya. Jangan malah membiarkannya.” (Muhammad/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top