Monday , January 27 2020
Breaking News
Ilmu Siang Versus Ilmu Malam

Ilmu Siang Versus Ilmu Malam

Sewaktu masih bersekolah dan sering bertemu dengan sesama siswa, saya mengira bahwa ilmu itu terdiri dari diskusi yang berujung dengan berdebat, membaca, memainkan rumus dan istilah yang pelik (makin pelik makin ilmiah) dan sejenisnya. Lingkungan di sekitar juga tampaknya mendorong kita untuk berperilaku serupa. Bahkan, dan ini ironis sekali, ada desakan kuat untuk mengurung ilmu dalam sangkar yg sangat sempit itu. Maksudnya, di luar lingkungan sekolah atau kelas semuanya bukan orang yang berilmu. Bahkan, di luar buku yang kita baca dan informasi yang dengar, sama sekali tidak ada ilmu.

Sikap ini bisa menjadi lebih ekstrem, sehingga terlintas dalam pikiran bahwa guru kita adalah yang terpandai di seluruh jagat dan textbooks yang kita pelajari adalah yang paling berbobot di seantero jagat. Dan hasil bersihnya, kita adalah murid paling berbakat di muka bumi dan kelak akan menjadi orang paling pandai di tengah masyarakat. Masing-masing dari kita berhak membayangkan semua orang lain yang tidak berasal dari lingkungan sekolah kita adalah setengah awam atau awam. Mereka layak digurui, diperintah dan akhirnya dihakimi.

Ajang pembuktian bahwa kita adalah murid paling hebat berlangsung dalam perdebatan─dalam wacana dan wicara. Lucunya, perdebatan terjadi hampir setiap saat. Kita jadi seperti pasukan di medan perang yg harus selalu dalam kesiagaan penuh. Setiap saat kita harus berbicara ekstra hati-hati, sekaligus menyimak kata-kata lawan bicara secara hiper-kritis. Begitu ada titik-titik kelemahan, serangan adalah cara terbaik kita untuk bertahan. Maka, segenap energi kita curahkan untuk menumpuk amunisi yang diperlukan dalam perdebatan. Bila kita menemukan rumus baru, maka rumusan itu kita catat rapi untuk kemudian kita ingat dan kita cari-cari relevansinya dalam suatu perdebatan yg terjadi agar muncul kesan bahwa kita lebih superior dengan yang lain dalam hal keilmuan.

Ilmu yang saya puja dan saya jadikan sebagai perhatian itu kini terasa bagai “ilmu warung kopi” bagi saya. Dan di warung kopi, ada begitu banyak jenis ilmu. Para pakar “ilmu warung kopi” sangat giat mencari dan belajar, tapi yg mereka pelajari terbatas pada semesta “warung kopi”. Mereka betah tinggal di sana, lantaran dunia luar sudah tidak relevan dengan kehidupan mereka. Tentu bukan karena warung itu demikian megah dan mewah, tetapi justru lantaran karena dunia di luar warung itu jauh lebih maju dan bergerak lebih cepat.

Bandingkan misalnya dengan “ilmu ruang operasi”. Di sini ilmu berlangsung hening, tidak seheboh atau semeriah “ilmu warung kopi”. Para pakar di ruang operasi seringkali berkomunikasi hanya lewat isyarat. Setiap saat yg mereka lalui adalah untuk bertindak, tidak untuk berbicara─apalagi berbangga dengan sekadar berbicara. Meskipun ada yang hanya bertindak untuk mencari penghidupan, tapi nyaris semua berhubungan dengan menyelamatkan nyawa atau memberi harapan penyelamatan pada seseorang.

Di warung kopi, semua pihak hanya berbicara, termasuk berbicara untuk mencari penghidupan. Di ruang operasi semua pihak bekerja dan berbuat sesuai dengan kapasitas masing-masing. Dan anehnya, para pembicara di warung kopi─tentu setelah lelah berbicara dan muak dengan hasil-hasil palsu pembicaraan mereka─mulai meremehkan semua orang di luar warung yang lalu lalang bekerja, berkeringat, dan berbuat semampu mereka. Pada galibnya, para penghuni warung kopi bersembunyi di balik kedok bernama upaya ilmiah. Upaya-upaya ilmiah seperti mereka ini jelas berbeda dengan yang terjadi di laboratorium yang melibatkan energi besar dari sekujur tubuh, mungkin dengan sesedikit mungkin menggunakan organ mulut. Betapapun ilmiahnya perdebatan warung kopi ujung-ujungnya cuma menimbulkan kekosongan batin dan kekeruhan pikiran.

Para ilmuwan warung kopi hidup dalam dunia fantasi, sedangkan para ilmuwan ruang operasi hidup untuk realitas. Sekalipun pahit, tapi manisnya realitas jelas-jelas tidak bisa dirasakan oleh para penghuni warung kopi.

Kazuo Murakami, ahli genetika asal Jepang, secara jauh lebih optimis membedakan antara “ilmu warung kopi” dan “ilmu ruang operasi” ini dengan istilah ‘ilmu malam’ dan ‘ilmu siang’ dalam bukunya The Divine Code of Life: Awaken Your Genes & Discover Your Hidden Talents. “Ilmu pengetahuan siang”, kata Murakami, “terdiri atas kuliah, penelitian objek di bawah mikroskop, atau pemaparan hasil temuan riset dalam berbagai perdebatan…Anda dapat mengatakan bahwa ilmu pengetahuan siang adalah hasil penelitian, sementara ilmu pengetahuan malam adalah sebagian dari proses perwujudan hasil-hasil tersebut.” Seperti saya katakan, Murakami jauh lebih optimis ketimbang saya.

Beberapa bulan lalu saya dikritik oleh dua ilmuwan “warung kopi”. Saat saya mencoba menerangkan bahwa saya sudah tidak lagi berada di dalam “warung kopi”, mereka semakin menunjukkan jurus-jurus “warung kopi” yg lebih tajam dan garang. Akhirnya saya cuma berharap bahwa suatu saat kelak mereka berada di dalam “ruang operasi”, untuk bisa merasakan, misalnya, bagaimana suasan operasi gegar otak. Atau, bagaimana sulitnya berkarya di tengah-tengah himpitan keadaan, susahnya membuang-buang waktu berdebat di tengah melonjaknya tagihan dan sebagainya.

Di ruang operasi, semua orang dituntut untuk bekerja dengan intuisi dan perhitungan cepat. Tidak ada waktu lagi untuk berdiskusi, apalagi berdebat kusir, karena realitas dunia luar bukan seperti setumpuk teks yg dingin dan kaku.

Saat saya terpaksa menjelaskan hal ini pada para ilmuwan “warung kopi”, mereka menolak mentah-mentah. Perilaku mereka seperti kata pepatah Arab: “Dharabani wa syaka, sabaqani wa bakaa” (Memukul duluan, tapi cepat-cepat mengeluh; memulai pertikian, tapi lebih dahulu menangis).

Saya melihat ada cukup banyak lingkungan pendidikan, terutama bidang pendidikan agama yang saya geluti, yang dirancang menjadi “ruang operasi”. Tapi, para penghuni “warung kopi” tidak akan betah tinggal dalam “ruang operasi”. Mereka akan terjun kembali ke habitatnya di “warung kopi”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top