Thursday , July 9 2020
Breaking News
Imamah dalam Arti Pemimpin Masyarakat dan Keagamaan

Imamah dalam Arti Pemimpin Masyarakat dan Keagamaan

Imamah: Pemimpin Masyarakat

Makna pertama imamah seperti disebutkan sebelumnya adalah tugas umum masyarakat. Salah satu jabatan Nabi yang kosong pasca Nabi wafat adalah kepemimpinan masyarakat. Jelas, masyarakat butuh pemimpin. Siapa pemimpin masyarakat sepeninggal Nabi? Semua kaum muslim sepakat bahwa masyarakat membutuhkan pemimpin dan panglima tertinggi.

Imamah: Otoritas Keagamaan

Nabi saw menyampaikan wahyu Allah SWT yang diterimanya kepada orang yang bertanya kepadanya apa saja yang ingin diketahuinya tentang ajaran Islam. Orang juga bertanya kepada Nabi tentang apa yang tak didapati mereka dalam Al-Qur’an. Sekarang pertanyaannya adalah apakah isi Al-Qur’an dan apa yang telah disampaikan Nabi kepada khalayak umum adalah apa yang diinginkan Islam, yaitu menyampaikan petunjuk, ajaran dan pengetahuan Islam?

Karena itu, Nabi saw mendidik Imam Ali as, penerusnya, sebagai pakar luar biasa, dan mengajarkan kepada Imam Ali as segalanya tentang Islam, setidak-tidaknya semua prinsip dan norma umum Islam. Imam Ali as adalah sahabat Nabi yang paling mencolok keunggulannya. Dia maksum sepertia  halny Nabi Muhammad saw, Dia bahkan tahu apa yang disiratkan oleh Allah SWT.

Nabi saw bersabda ketika memperkenalkan Imam Ali as: “Sepeninggalku, bawalah semua masalah keagamaan kepada Ali, tanyakan kepada Ali dan penerus-penerusku yang lain apa saja yang ingin kalian ketahui.”

Dalam hal ini, imamah merupakan spesialisasi dalam Islam, suatu spesialisasi yang luar biasa dan ilahiah, yang jauh di atas derajat spesialisasi yang dapat dicapai mujtahid. Para imam adalah pakar dalam Islam. Pengetahuan istimewa mereka mengenai Islam bukan didapat dari akal pikiran mereka sendiri yang bisa saja salah. Mereka menerima pengetahuan dengan cara yang tak kita ketahui. Imam Ali as menerima pengetahuan tentang ilmu-ilmu Islam langsung dari Nabi saw. Dan Imam-imam berikutnya menerimanya melalui Imam Ali bin Abi Thalib as. Dalam kasus imam-imam, pengetahuan ini tak mengandung kekeliruan. Pengetahuan ini diturunkan dari satu imam ke imam yang lain.

Allah SWT menurunkan ajaran Islam dengan lengkap kepada Nabi saw, dan Nabi saw menyampaikannya dengan lengkap kepada umat manusia. Namun Nabi saw tidak menyebutkan segala sesuatunya kepada manusia pada umumnya. Sesungguhnya banyak pertanyaan diajukan selama hayat Nabi saw. Namun, Nabi saw menyampaikah semua ajaran yang diterimanya dari Allah kepada murid istimewanya, Imam Ali bin Abi Thalib as, dan meminta Imam Ali as untuk menyampaikannya kepada masyarakat bila diperlukan.

Di sinilah muncul masalah kemaksuman, bahwa karena Nabi saw, sengaja atau tidak, tak mungkin salah bicara, murid istimewanya pun harus tak mungkin salah, karena Nabi saw mendapat pertolongan dari Allah SWT, murid istimewa ini pun mendapat pertolongan dari Allah SWT. Inilah satu lagi karakter imamah.

Murthada Muthahari. Manusia dan Alam Semesta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top