Friday , November 22 2019
Breaking News
#Imamah: Masa Kemunculan Imam Mahdi

#Imamah: Masa Kemunculan Imam Mahdi

sebelumnya #Imamah: Rahasia Keghaiban al-Mahdi Afs

Teka-teki kapan Imam Mahdi akan muncul sama misterinya dengan teka-teki kapan kiamat akan terjadi. Hanya Allah Swt saja yang mengetahui jawabannya. Karena itu, orang-orang yang mengaku mengetahui kapan beliau akan muncul sama sekali tidak beralasan. Berbagai riwayat yang ada hanya menyebutkan tanda-tandanya secara garis besar, itupun terbagi menjadi dua kategori pasti dan tidak pasti.

Makna Penantian

Di masa kegaiban Imam Mahdi afs apa yang harus dilakukan oleh umat Islam? Menurut beberapa riwayat, al-Qaim sendiri menyatakan bahwa di masa kegaiban beliau umat harus menyerahkan urusan agama dan dunia kepada para mujtahid yang adil dan berwawasan serta menjadikan petunjuk mereka sebagai pedoman, karena kepatuhan kepada petunjuk itu tidak lain adalah pengamalan terhadap Alquran serta sunnah Rasul dan Ahlulbaitnya. Selain itu, umat juga harus menantikan kedatangan Imam Mahdi ajjalallahu farajahusy-syarif dan selalu memohon supaya kedatangan beliau disegerakan.

Namun, apakah makna penantian (intizhar) itu? Kata “intizhar” secara harfiah berarti “penantian”, sedangkan dalam istilah teologis berarti penantian kedatangan Imam Mahdi. Penantian dalam pengertian terminologis ini mengandung sebentuk tindakan dan upaya. Artinya, penantian kedatangan bukan berupa duduk berpangku tangan menanti tanpa tindakan konstruktif, melainkan harus berupaya membangun keadaan yang mendukung bagi kedatangan beliau. Gambarannya adalah seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub as ketika menanti dan berharap kedatangan putera kesayangannya, Yusuf as. Dalam penantian itu beliau memerintahkan putera-puteranya yang lain:

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.”

Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik amalan bagi umatku adalah penantian kelapangan dari Allah Azza wa jalla.”[Hasan bin Syu’bah al-Harrani, Tuhaful Uqul, hal.37]

Hadis Nabi saw ini memandang penantian sebagai amal perbuatan, bukan sikap diam berpangku tangan dan pasif. Atas ini, untuk pertanyaan apakah yang harus dilakukan umat di masa kegaiban Imam Mahdi afs, maka jawabannya ialah umat harus membangun diri, menciptakan perubahan dan menggalang terwujudnya masyarakat yang ideal dengan cara mengamalkan ajaran agama dan mendakwahkannya dengan kata dan tindakan agar tercipta keadaan yang mendukung kedatangan beliau. Sebab, sunnah Allah yang berlaku bukanlah perubahan pada umat manusia melalui keajaiban dan spontanitas. Sebaliknya, nasib mereka hanya akan berubah apabila mental, pikiran dan fitrah mereka benar-benar siap untuk menerima perubahan.

Baca #Imamah: Makna Imamah dan Wilayah

Allah Swt berfirman, Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. [QS. al-Ra’d: 11]

Untuk kesiapan itu umat Islam harus bertakwa dan berakhlak mulia. Tentang ini Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Siapa ingin bahagia menjadi sahabat Imam al-Qaim maka harus menantinya, dan dalam penantian itu dia harus wara’ dan berakhlak mulia.”[Muhammad Baqir al-Majilisi, BiharuIAnwar, 52/140]

Kondisi Umat Manusia di Era Kehadiran Imam Mahdi 

Era kehadiran Imam Mahdi as adalah era berakhirnya era kezaliman dan kebobrokan. Era kehadiran beliau adalah era tegaknya keadilan dan kelapangan di semua dimensi dan bidang kehidupan umat manusia. Kondisi demikian menurut Muhammad Baqir Majlisi, dalam Biharul Anwar mencakup di antara beberapa hal sebagai berikut:

1. Melejitnya rasionalitas (aqlaniyyah) ke titik yang tertinggi.
2. Meratanya ilmu, makrifat dan hikmat dalam bentuk yang sempurna.
3. Terciptanya persatuan dan solidaritas.
4. Membuminya agama dan spiritualitas.
5. Meningkatnya akhlak mulia ke tahap yang sempurna.
6. Lenyapnya diskriminasi dan meratanya kesejahteraan hidup.
7. Terealisasinya kebebasan.
8. Terwujudnya perdamaian universal.
9. Tegaknya keadilan universal.
10. Melimpahnya kenikmatan, kesuburan dan sumber-sumber alam.
11. Meratanya keamanan.
12. Meningkatnya taraf kesejahteraan hidup dan teratasinya kemiskinan.
13. Meratanya kemakmuran.
14. Pesatnya kemajuan sektor industri dan teknologi.
15. Terjaganya lingkungan hidup.
16. Terwujudnya kepuasan umat manusial.76
17. Hancurnya negara-negara batil.

Jurnal Bayan, vol. III, No.1, thn 2013.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top