Saturday , August 17 2019
Breaking News
Infografis: Kepeloporan Syiah dalam Ilmu AIquran

Infografis: Kepeloporan Syiah dalam Ilmu AIquran

Sebelum memulai pembahasan, perlu diingatkan kedudukan Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. sebagai pemula dan pelopor dalam mengembangkan pelbagai ilmu Alquran. Sesungguhnya beliau telah mendiktekan enam puluhan cabang ilmu Alquran, dan menyebutkan contoh yang khas untuk setiap cabang. Semua itu terhimpun dalam sebuah buku yang kami riwayatkan dari beliau melalui bebarapa jalur yang ada pada kami sampai sekarang ini. Buku itu adalah pedoman pokok bagi setiap orang yang telah menulis mengenai macam-macam cabang ilmu Alquran.

Di antara mereka adalah Abdullah ibn Abbas. Ialah orang pertama dari kalangan ulama Syi’ah yang mendiktekan tafsir Alquran. Seluruh ulama kami telah memberikan kesaksian mereka atas kesyi’ahan Ibnu Abbas. Mereka juga memberikan keterangan riwayat hidupnya secara baik, seperti Sayyid Ali ibn Sadruddin Al-Madani di dalam kitab Ad-Darajat Ar-Rafi’at fi Thabaqot Syi’ah.  Ibnu Abbas wafat pada tahun 67 H. di kota Thaif, dan menjelang wafatnya, ia berikrar di dalam doanya; ”Ya Allah, Sungguh aku memohon kedekatan diriku kepadamu dengan kesetiaanku pada kepemimpinan Ali ibn Abi Thalib alahissalam.”

Jabir ibn Abdullah Al Anshari seorang sahabat mulia Nabi saw. Sebagaimana yang dicatat oleh Abul Khair di dalam Tabaqotul Mufassirin, Jabir tergolong sebagai bagian dari jajaran pertama para mufassir. Fadhl ibn Syadzan An-Naysaburi; seorang sabahat Imam Ali Ar-Ridha a.s. mengatakan bahwa Jabir ibn Abdullah Al Anshari ra adalah dari generasi pertama yang merujuk kepada Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Masih berkaitan dengan ihwal pribadi Jabir, Ibnu ‘quah mengatakan: ”Ia begitu tulus kepada Ahlul Bait”. Dan saya sendiri telah menyebutkan dalam Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam beberapa keterangan tambahan mengenai dirinya. Jabir ibn Abdullah meninggal di Madinah pada tahun 70 H., yakni pada usia 94.

Ubay ibn Ka’ab; pemuka para qori’ (pembaca bacaan khas Alquran). Para ulama dan ahli sejarah mencatatnya berada di jajaran pertama dari silsilah kedudukan para mufassir. Ia adalah seorang sahabat Nabi saw. Dan ia sebagaimana yang sudah diketahui, adalah seorang Syi’ah. Riwayat hidup Ubay dicatat secara memadai oleh Sayyid Ali ibn Sadruddin Al-Madani di dalam Ad-Darajatur Raji’at fi Thabaqot Syi’ah.

Abu Abdurrahman As-Sulami, seorang tokoh qiroah ’Ashim. Ibnu Qutaibah mengatakan: ”Ia adalah salah satu sahabat dekat Imam Ali ibn Abi Thalib a.s., dan ia adalah seorang pembaca Alquran yang baik, ia memiliki wawasan fikih yang luas. Ia wafat pada tahun 70H

Dan di antara para sahabat ialah As-Sudi, seorang ahli tafsir yang masyhur sebagaimana telah disebutkan sekelumit riwayat hidupnya pada bab Kepeloporan Syiah dalam Ilmu-ilmu Alquran: Pengarang Pertama Kitab Tafsir . Di antara mereka ialah Muhammad ibn As-Saib ibn Bishr Al-Kalbi; pengarang tafsir besar yang telah disebutkan ihwal hidupnya di bab pertama.

 Yahya ibn Ya’mur; seorang tabi’in dan tokoh kaun Syi’ah di bidang ilmu Alquran. Ibnu Khalkan mengatakan: ”Yahya adalah salah satu qorie, imam bacaan Alquran dari Basrah, dan kepadanya Abdullah ibn Ishaq belajar qiroah. Ia amat menguasai Alquran, ilmu Nahwu dan pelbagai cabang ilmu bahasa Arab. Yahya mempelajari Nahwu pada Abul Aswad Ad-Duali. Dan ia dikenal sebagai seorang tokoh dari generasi pertama kaum Syi’ah yang mengakui kedudukan tinggi Ahlulbait a.s., tanpa merendahkan orang mulia selain mereka.

Abu Soleh. Ia dikenal pula dengan panggilan nama nasabnya. Abu Soleh merupakan murid Ibnu Abbas di bidang tafsir Alquran. Nama asli Abu Soleh sendiri adalah Mizan Bashri. Tak syak lagi, ia adalah seorang tabi’in Syi’ah. Syeikh Mufid Muhammad ibn Nu’man di dalam Al-Kafiah fi Ibtholi Taubatil Khotiah, telah memberikan kesaksian atas kesyi’ahan dan keterpercayaan Abu Soleh, yaitu tatkala Syeikh Mufid menyinggungnya setelah mengulas ihwal Ibnu Abbas. Abu Soleh wafat pada tahun 100 H.

Thawus ibn Kisan Abu Abdillah Al-Yamani.Ia mempelajari tafsir pada Ibnu Abbas. Syeikh Ahmad ibn Taimiyah menganggapnya sebagai orang yang paling menguasai tafsir, sebagaimana yang dicatat pula di dalam Al-Itqon oleh Jalaluddin As-Suyuthi.  Ibnu Qutaibah dalam kitab Al-Ma’arif juga memberikan kesaksian atas kesyi’ahan Thawus. Dalam cetakan Mesir, hal. 206, dia mengatakan: ”Dari kaum Syi’ah adalah Al-Harts Al-A’war, Sha’sha’ah ibn Shuhan, Ashbagh ibn Nabatah, Athiyah Al’Aufi, Thawus dan Al-A’masy”. Thawus meninggal di Mekkah pada tahun 106 H. Dan ia dikenal sebagai oang yang amat Setia pada Imam Ali ibn Husein As-Sajjad a.s.

Al-A’masy Al-Kufi Sulaiman ibn Mehran Abu Muhammad Al-Asadi. Dan sebagaimana yang telah lalu, Ibnu Qutaibah telah memberikan kesaksian atas kesyi’ahannya. Begitu pula Syahristani di dalam kitab Al-Milal Wan Nihal serta selain mereka berdua. Adapun dari ulama kami yang memberikan kesaksian yang sama ialah Syeikh Syahid Tsani Zainuddin dalam Hasyiyatul Khulashah dan Muhaqqiq Bahbahani di dalam At-Taliqoh dan Mirza Muhammad Baqir Ad-Damad di dalam Ar-Rawasyih. Al-A’masy Al-Kufi meninggal pada tahun 148 H. pada usia 88.

Sa’id ibn Al-Musayyab. Ia belajar tafsir pada Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. dan Ibnu Abbas. Ia tumbuh cerdas di bawah didikan guru pertamanya. Sa’id senantiasa menyertainya dan tidak pernah berpisah dengannya. Ia telah ikut bertempur dalam perbagai peperangan secara langsung. Imam Ja’far Ash-Shadiq dan Imam Ali Ar-Ridha a.s. telah memberikan kesaksian atas kesyi’ahan Sa’id, sebagaimana yang tercatat di dalam juz ketiga dari kitab Qurbul Isnad, karya Al-Humairi. Sa’id ibn Al-Musayyab adalah imam qiroah di Madinah dan telah dinukil dari Ibnu Al-Madaini bahwa “Aku tidak mengenal dari kaum tabi’in yang lebih luas ilmu dan wawasannya daripada Sa’id ibn Al-Musayyab.” Sa’id wafat pada tahun 70 H., yaitu ketika ia berusia lebih dari 80 tahun.

Himron ibn A’yan. Dia adalah saudara Zurarah ibn A’yan Al-Kufi dan sesepuh keluarga Syaiban. Himron adalah seorang tokoh bacaan khas Alquran yang belajar pada Imam Ali Zainal Abidin dan Imam Muhammad Al-Baqir a.s. Ia wafat kurang lebih pada tahun 100 H.

Aban ibn Taghlab sebagaimana telah saya sebutkan ihwal riwayat hidupnya. Ia seorang Muslim yang terdepan di setiap bidang ilmu. Aban belajar qiroah pada Al-A’masy; salah seorang sahabat Imam Ali Zainal Abidin a.s. dan Imam Muhammad Al-Baqir a.s. Ia wafat pada tahun 141 H.

 ’Ashim bin Bahd. Ia adalah salah seorang tujuh tokoh qiroah Al-Quran, belajar Pada Abu Abdurahman As-Sulami yang ia sendiri belajar qiroah pada Imam Ali ibn Abi thalib a.s. ‘Ashim adalah salah seorang tokoh Syi’ah dan wafat pada tahun 128 H. di Kufah, atau di Samaweh menurut sebuah pendapat, yaitu dalam perjalanannya menuju Syam dan dimakamkan di sana. Ia tidak dapat melihat seperti juga Al-A’masy. Al-Qodhi Nurullah Al-Mar’asyi di dalam Majalisul Mu’minin, memberikan kesaksian atas kesyi’ahan ‘Ashim, dan menempatkannya di kelas pertama ulama Syi’ah.

Setelah mereka di atas, muncullah tokoh-tokoh qiroah dari pengikut tabi’in. Termasuk dari tokoh-tokoh ilmu Al-Quran yang datang setelah nama-nama sahabat di atas ialah para tabi’in.

Di antara mereka ialah

Sa’id ibn Jubair; seorang tabi’in yang paling ulung di bidang tafsir. Ini berdasarkan kesaksian Qotadah atas hal ini. Begitu pula kesaksian pengarang Al-Itqon, yaitu As-Suyuthi.

Abu Hamzah Ats-Tsumali. Nama lengkapnya adalah Tsabit ibn Dinar; salah seorang tokoh Syi’ah di Kufah. Abul Faraj Muhammad ibn Ishaq ibn Abu Ya’qub yang masyhur dengan nama nasabnya; Ibnu Nadim, di dalam Al-Fehrest mengukuhkan ihwal kitab tafsir Abu Hamzah Ats-Tsumali dan salah satu sahabat dekat Imam Ali Zaibal Abidin a.s. Ia amat dihormati, tepercaya dan bersahabat dekat dengan Imam Muhammad Al-Baqir a.s. Abu Hamzah wafat pada tahun 150 H.

Di antara pengikut tabi’in ialah Abul Jarud Ziyad ibn AlMundzir. Ia telah meriwayatkan kitab Imam Muhammad Al-Baqir berkenaan dengan tafsir Al-Quran, yaitu sebelum ia menjadi pengikut mazhab Zaidiyah. Abul Bashir Al-Asadi telah belajar tafsir ini darinya, sebagaimana telah dising’ gung sebelum ini. Abul Jarud wafat pada 150 H.

Yahya ibn Al-Qosim Abu Bashir Al-Asadi. Ia adalah Muslim pelopor di bidang fiqih dan tafsir. Ia juga memiliki karya terkenal di bidang tafsif sebagaimana yang telah disebutkan An-Najasyi, da” sanadnya bersambung sampai periwayatan tafsir tersebut. Yahya wafat pada masa hidu Imam Jafar as, tepatnya Pada 148 H.

Dan masih ada puluhan ulama dari kalangan Syiah yang berjasa dalam kepeloporan ilmu Alquran dari kalangan murid para tabi’in sampai terakhir kepada Muhammad ibn Ahmad ibn Ibrahim ibn Sulaim Abul Fadhl Ash-Shuli Al-Ja’fi dari warga Kufah, yang terkenal dengan panggilan Ash-Shobuni. Ia menulis kitab Al-Fakhir fil Lughah, Tafsir ma’ani Tafsiril Quran dan Tasmiyatu Ashnajil Kalamihil Majid. Ash-Shobuni adalah salah satu ulama besar Syi’ah. Ia tinggal di Mesir dan meninggal di sana pada tahun 300 H.

Ayatullah Sayyid Hassan Ash-Sadr, Peradaban Syiah dan Ilmu Keislaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top