Sunday , May 31 2020
Breaking News
Intelektual Jangan Jadi Alat Oligarki

Intelektual Jangan Jadi Alat Oligarki

Kaum intelektual semestinya menjadi sumber gerakan kerakyatan yang membela rakyat, mendorong dan melindungi publik mendapatkan hak-hak sipilnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Tapi celakanya, saat ini banyak kaum intelektual yang melacur, justru menjadi kaki-tangan kekuatan oligarki yang menindas rakyat kecil. 

Hal ini diungkapkan dosen Unair, Airlangga Pribadi dalam diskusi  Politik Lokal dan Good Governance di Ciputat School, Ciputat, Jumat (22/1).

“Tampilnya kekuatan oligarki, kekuatan bisnis-politik yang menguasai politik Indonesia ini beradaptasi dengan perubahan sistem politik di Indonesia. Ia tidak habis setelah masa Orba, tapi ia menunggangi sistem demokrasi sekarang ini,” terang Airlangga.

“Di sinilah peran intelektual dibonsai pengetahuannya, yang hanya digunakan oleh kekuatan oligarki untuk melanggengkan cengkeramannya. Alih-alih membela rakyat, intelektual malah membela oligarki,” kritik Airlangga.

Denny JA juga mengkritik kalangan intelektual sekarang yang menurutnya kurang tertarik membahas diskursus publik.

“Sekarang, karya-karya intelektual semakin teknis dan semakin sulit dipahami publik. Mereka lebih fokus pada menelurkan teori-teori baru ketimbang memberi perhatian pada diskursus publik,” keluh Denny.

“Akibatnya kalangan intelektual bukannya menjadi alat untuk membentuk good governance, tapi malah jadi intelektual yang jatuh membebek pada pemerintahan yang buruk,” ujar Denny. 

Menurut Airlangga, Indonesia sangat membutuhkan intelektual-intelektual organik yang tak membebek pada kepentingan politik-ekonomi kekuatan oligarki. Intelektual yang konsisten membela kepentingan publik. Dan untuk itu dibutuhkan tak hanya wacana, tapi juga basis politik yang sehat dan kuat.

“Ingat, tanpa konsolidasi konkret di ruang politik praktik, gerakan demokrasi partisipatoris bisa melemah,” ingat Airlangga. 

Menurut Airlangga, intelektual-intelektual organik pembela rakyat kecil bukannya tidak ada. Tapi menghadapi cengkeraman kekuatan oligarki dan intelektual-intelektual bayarannya ini, mampukah mereka melawan? (Muhammad/Yudhi) 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top