Sunday , December 15 2019
Breaking News
Ironi Sejarah: Museum “Berdarah” Ahmad Yani Nyaris Tak Terjamah

Ironi Sejarah: Museum “Berdarah” Ahmad Yani Nyaris Tak Terjamah

Jederal A. Yani (tiga dari kiri)Pondasi merupakan poin penting dalam membangun sebuah bangunan. Jika pondasinya tidak kuat, bangunan pun akan mudah runtuh. Begitu pula dengan sejarah. Ia seperti sebuah pondasi untuk masa depan. Sebagai contoh, seorang remaja yang memutuskan menikahi seorang gadis tanpa ingin mengetahui latar belakang (sejarah) sang gadis, acapkali menimbulkan polemik bagi bahtera keluarga di kemudian hari jika ada hal buruk sang gadis yang kemudian terungkap.

“Agar tidak jatuh ke lubang yang sama” adalah istilah popular sebagai sebentuk pengingat sederhana agar setiap orang sadar arti pentingnya memahami sejarah. 

Begitu pula dengan sejarah bangsa Indonesia. Pengorbanan dan tumpahnya darah para pahlawan menghiasi jalannya sejarah kemerdekaan. Sekarang, hampir 70 tahun Indonesia telah merdeka. Jejak-jejak peninggalan para pahlawan itu pun menghiasi ruang-ruang museum kepahlawanan. 

Tapi berapa banyak orang yang tergerak mempersembahkan penghormatan yang layak atas jasa-jasa para pahlawan itu? Padahal sebuah bangsa yang enggan mempelajari sejarah, akan berpotensi mengalami kehancuran berulang, dan “jatuh ke lubang yang sama,” melalui jalan seperti yang telah dilalui para pendahulunya, padahal jalan itu seharusnya dihindari.

Sebab itu, mempelajari sejarah ibarat upaya memperkokoh kembali pondasi masa depan bangsa ini, agar setidaknya tidak mudah runtuh dalam menghadapi tantangan kehidupan baru, atau penjajahan model baru di negeri ini. Seperti kata Bung Karno, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Melawan bangsa sendiri seperti dimaksud Bung Karno adalah menghadapi pengkhianat bangsa ini. Entah mereka memang sengaja bekerja untuk kepentingan pihak asing, atau sekadar bekerja untuk meraih keuntungan pribadi dengan mengorbankan bangsa sendiri.  Itulah salah satu tabiat manusia yang lupa sejarah. Mudah menjual bangsa dan negaranya sendiri, yang di masa lalu dipertahankan dengan keringat dan darah pahlawan.

Lalu, masihkah anak jaman sekarang tertarik mempelajari sejarah perjuangan para pahlawan bangsa mereka? Dan seberapa besar minat dan antusiasme mereka mendatangi museum peninggalan para pahlawan itu, sebagai bentuk pembelajaran atau untuk keperluan mengisi diskusi-diskusi terkait sejarah? 

Untuk mencari tahu, ABI Press mendatangi salah satu Museum di Jakarta, yaitu Museum Sasmita Loka Ahmad Yani. Museum itu merupakan peninggalan Pahlawan Revolusi, Jenderal Ahmad Yani.

Sabtu (27/9) siang, ABI Press disambut ramah oleh dua orang pengurus museum, Wawan Sutrisno dan Bowo Laksono. Suasana Museum sangat sepi. Sekitar pukul 11 siang itu, dilihat dari daftar pengunjung, jelas belum ada satu pun yang datang. Suasana ini bertolak belakang dengan kondisi mall-mall yang tak pernah sepi setiap harinya.

Tak lama berselang, Bowo yang sudah hampir tiga tahun menjadi pengurus di Sasmita Loka langsung membawa kami masuk ke ruang dalam. Foto-foto peninggalan terjejer rapi menghiasi dinding. Berbagai barang pribadi milik Jenderal Ahmad Yani seperti seragam, lukisan, kemeja-kemeja pribadi, atribut kepangkatan, serta masih banyak pernak-pernik peninggalan Jenderal Ahmad Yani yang hampir dapat ditemui di setiap ruangan. Bahkan, baju kesayangan Jenderal Ahmad Yani yang digunakan sebagai lap darah saat pembunuhan dilakukan, juga diabadikan.

Namun, hal yang paling mengesankan adalah ketika Bowo memperlihatkan sebuah kaca pintu yang ditembus peluru saat penembakan oleh pasukan yang hendak menculik Jenderal Ahmad Yani saat itu, yang kemudian dikenal sebagai pemberontakan G. 30 S/PKI. Peristiwa tragis yang hingga kini masih menjadi bahan perdebatan: atas perintah siapa pembunuhan itu dilakukan?

Rumah tempat Jenderal Ahmad Yani dibunuh itulah, yang kemudian menjadi museum hingga sekarang.

“Tiga peluru bersarang di tubuh Jenderal,” kata Bowo. Sementara empat peluru lain, tampak bekasnya menghiasi dinding-dinding museum itu. 

Wawan Sutrisno yang sudah enam tahun menjadi pengurus museum merasa prihatin terhadap perkembangan anak-anak jaman sekarang. Sempat ia bertanya kepada seorang pelajar yang berkunjung tentang siapa Ahmad Yani, namun anak itu tidak bisa menjawab. “Bagaimana kita nggak sedih, bahwa ternyata adik-adik kita sekarang kok seperti itu, mereka lebih suka hal-hal yang modern daripada sejarah,” kata Wawan. 

“Sekarang, untuk menaikkan bendera saja sudah malas, padahal dahulu untuk mengibarkan bendera saja butuh perjuangan,”tambah Wawan. 

“Kemana semangat nasionalisme itu sekarang?” tanya Wawan.

Sebagian orang ke museum itu memang untuk mencari tahu tentang sejarah. “Kalau nggak mau cari tahu, kami coba menggugah, menggelitik agar mereka mencari tahu. Kami pancing dengan pertanyaan-pertanyaan,” kisah Wawan. 

“Saya berharap, mari mengangkat isu sejarah ini tidak hanya saat peringatan hari-hari nasional saja, tapi setiap saat,” kata Wawan. Sebab menurutnya, pisau saja kalau tidak diasah akan tumpul, apalagi pengetahuan tentang sejarah yang sangat berarti, kalau tidak selalu diasah, dibuka dan dipelajari, apakah otak mereka akan mampu mengingat dan menghargai sejarah? (Malik/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top