Tuesday , March 31 2020
Breaking News
Islam dan Spirit Kapitalisme

Islam dan Spirit Kapitalisme

Komunitas Salihara, sebuah komunitas yang berlokasi di Jakarta, mengadakan sebuah diskusi membahas tentang Kapitalisme dalam Islam. Acara itu digelar Selasa (19/8) lalu di bilangan Jakarta Selatan.

Diskusi bertema “Islam dan Semangat Baru Kapitalisme Abad Ke-21 di Indonesia,” itu menghadirkan Gwenael Nyoto-Feillard, seorang peneliti di bidang komodifikasi agama di Indonesia dan Asia Tenggara, serta Ahmad Najib Burhani, peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sebagai pembicaranya.

Dalam kesempatan itu, Najib Burhani mengungkapkan bahwa kapitalisme di dalam Islam merupakan sebuah rasionalisasi yang tergantung bagaimana seorang Muslim memaknai kapitalisme itu sendiri.

Najib menyontohkan misalnya, bahwa konsep kita menjadi kaya itu bukanlah sebuah keburukan.“Bukan berarti serakah, dan mengumpulkan harta di dalam sudut pandang kapitalisme itu bukan sebuah keburukan,” kata Najib. Akan tetapi menurutnya, baru akan menjadi buruk jika dalam mengumpulkan harta itu ada hak-hak orang lain yang dilanggar, termasuk juga ketika serakah.

Najib menambahkan, bahwa menjadi kaya merupakan hal yang positif dalam agama sebagai bukti kita sukses di hadapan Tuhan ketika kita sukses di dunia ini. Bukan hal yang final, namun kesuksesan itu ditujukan sebagai bekal ketika menghadap-Nya di akhirat nanti.

“Karena, dalam Islam ada etika welas asih. Jadi ketika kita mengumpulkan uang, maka uang itu biasanya di dalam Islam didonasikan di dalam organisasi dan sosial, bukan untuk kesuksesan individu,” tambah Najib.

Dari situlah, kapitalisme Islam yang dimaksud Najib adalah yang berfungsi kesejahteraan bersama, demi kemajuan agama Islam itu sendiri yang tentunya akan menghadirkan keridhaan Allah Swt.

Diskusi yang dilangsungkan dalam bahasa Inggris ini juga menyebutkan berbagai contoh pelaku kapitalisme dalam Islam di Indonesia yang namanya sudah populer di masyarakat di antaranya; Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), Arifin Ilham, Yusuf Mansyur dan lainnya.

Sebagai tokoh Muslim, mereka tak tepas dari perkembangan kapitalisme Islam itu sendiri.

Berbagai upaya pengembangan, melalui bisnis dan semacamnya, mereka berhasil meraup untung milyaran rupiah, membuat kapital Islam pun turut berkembang. (Malik/Yudhi)

One comment

  1. Kapitalisme itu relasi-sosial, bukan masalah etika; bukan masalah sederhana/serakah, pelit/dermawan.
    Kapitalisme itu salah bukan karena jahat, serakah, dsb.Tapi, karena memang eksploitatif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top