Tuesday , August 20 2019
Breaking News
Jabir bin Abdillah al-Anshari, Sahabat Nabi yang Pertama Menziarahi Makam Imam Husain

Jabir bin Abdillah al-Anshari, Sahabat Nabi yang Pertama Menziarahi Makam Imam Husain

Jabir bin Abdillah al-Anshari adalah sahabat Rasulullah saw dan termasuk orang yang ikut melakukan baiat pada baiat ‘Aqabah kedua. Ia termasuk orang yang banyak meriwayatkan hadis. Di antaranya, hadis Lauh dari lisan suci Rasulullah saw yang memuat nama-nama para Imam Syiah. Jabir merupakan orang pertama yang menziarahi Imam Husain as. [1] yang sampai di Karbala pada hari Arbain dan yang menziarahi Imam. Ia juga orang yang menyampaikan salam Rasulullah saw kepada Imam Baqir as.

Setelah Rasulullah saw hijrah dari Mekah ke Madinah, Jabir termasuk salah seorang yang ikut serta dalam peperangan dan ekspedisi (sariyyah). Ia hanya tidak ikut dalam perang Badar dan Uhud saja. [9] Alasan ketidak-hadiran Jabir dalam dua perang ini karena mentaati ayahnya yang telah menjadikannya sebagai pemimpin keluarga. [10]

Namun, dalam sebagian riwayat, ia disebut sebagai seorang Badri. Diriwayatkan, Jabir sendiri menyebutkan bahwa ia termasuk yang mengantarkan air dalam perang Badar. [11]Perlu disebutkan bahwa Jabir mengikuti sejumlah peperangan yang begitu banyak. Menurut penuturannya sendiri, ia ikut dalam 19 peperangan dari 27 peperangan yang dilakukan Rasulullah saw. [12] Telah disebutkan, Jabir juga ikut dalam beberapa ekspedisi. [13]

Perang Hamra’ al-Asad, yang terjadi setelah perang Uhud pada tahun 4 H/626, merupakan pengalaman perang pertama Jabir. Menurut sabda Rasulullah saw, hanya orang-orang yang pernah ikut perang Uhud saja yang diizinkan ikut serta dalam delegasi militer ini. Namun, Jabir adalah satu-satunya orang yang ikut serta dalam perang ini meskipun tidak hadir dalam perang Uhud. Hal ini karena Rasulullah saw menerima alasan ketidak-hadirannya pada perang Uhud. [14]

Menurut sebagian data, hubungan antara Rasulullah saw dan Jabir penuh dengan kecintaan dan persahabatan. Suatu hari Jabir jatuh sakit dan Rasulullah saw pun menjenguknya. Jabir yang sepertinya tidak memiliki harapan lagi untuk sembuh bertanya tentang hukum waris atas harta peninggalannya untuk saudari-saudarinya. Rasulullah saw memberi semangat dan harapan kepadanya dan memberi kabar gembira tentang umur panjangnya, dan turunlah sebuah ayat yang terkenal[15] dengan nama ayat Kalalah[16] yang menjawab pertanyaan Jabir.

Mengenai sikap Jabir terhadap khalifah pertama tidak disebutkan dalam dalam literatur sejarah. Kemungkinannya, ia pada mulanya bersama Anshar dan Muhajirin di Madinah, tapi kemudian bergabung dengan Imam Ali as dan Ahlulbait as. [17]

Pada masa Khulafaur Rasyidin, Jabir lebih aktif dalam aktivitas ilmiah, pengajaran dan menjauhkan diri dari urusan politik dan militer. Ia hanya berpartisipasi dalam satu delegasi perang. Itu pun hanya di awal penaklukan kaum muslimin pada masa khalifah pertama. Dalam sebuah laporan, disebutkan mengenai kehadirannya dalam pasukan Khalid bin Walid untuk mengepung Damaskus, membantu pasukan Syam. [18] Namun kemudian tidak diketahui lagi apakah Jabir ikut bersama pasukan Khalid dalam penaklukan Irak ataukah berada di tempat lain.

Jabir adalah seorang arif pada masa kekhilafahan Umar bin Khattab. [19] Seorang arif merupakan seseorang yang berasal dari suatu kabilah yang ditunjuk dan dinobatkan oleh khalifah menjadi pemimpin kabilah atau sukunya. Seorang arif dianggap sebagai perantara khalifah dan orang-orang kabilahnya.

Tidak ada informasi mendetail tentang aktivitas-aktivitas Jabir pada masa khalifah ketiga. Hanya diketahui pada masa akhir kekhilafahan Utsman ketika para demonstran Mesir datang menuju Madinah. Ia bersama 50 orang dari Anshar diperintah khalifah untuk berdialog dengan para penentang dan memulangkan mereka ke rumahnya masing-masing. [20]

Jabir termasuk pasukan Imam Ali as pada perang Shiffin. [21] Di masa akhir kekhilafahan Imam Ali as, pasukan Muawiyah melakukan perampokan dan penjarahan kota-kota dan memaksa masyarakat untuk berbaiat. Madinah juga tidak luput dari perampokan dan penjarahan ini. Pada tahun 40 Hijriah/661, Busr bin Arthah memberontak di Madinah dan meminta baiat warga Madinah, termasuk memintanya dari kabilah Bani Salamah yang merupakan kabilah Jabir.

Jabir yang menganggap sesat baiat kepada Busr berlindung ke rumah Ummu Salamah, istri Rasulullah saw. Namun, pada akhirnya ia terpaksa mengikuti saran Ummu Salamah supaya berbaiat kepada Busr guna menghindari pertumpahan darah. [22]

Setelah Muawiyah memegang tampuk pemerintahan, ia hendak memindahkan mimbar Rasulullah saw dari Madinah ke Damaskus pada tahun 50 H/671. Jabir termasuk salah seorang yang mendatangi Muawiyah dan memintanya membatalkan rencana pemindahan mimbar tersebut. [23]

Pada tahun 50 H/671 Jabir pergi ke Mesir. Sejumlah orang Mesir meriwayatkan dari Jabir. [24] Pada saat itu, Maslamah bin Mukhallad Anshari yang merupakan satu kabilah dengan Jabir, adalah seorang gubernur Mesir. Menurut penuturan Ibnu Mandah, Jabir pergi ke Syam dan Mesir bersama Maslamah. [25]

Menurut laporan sumber-sumber hadis, Jabir pergi ke Syam untuk mendengarkan sebuah hadis tentang qisash dari Abdullah bin Anis[26]. Namun tidak ada data tanggalnya. Ia juga pergi ke Syam pada masa pemerintahan Muawiyah yang mendapat sikap dingin Muawiyah. Jabir yang tidak suka dengan sikap Muawiyah memilih pergi menuju Madinah dan menolak hadiah Muawiyah berupa 600 Dinar. [27] Sikap Muawiyah terhadap Jabir ini dianggap sebagai bukti sikap kelompok Bani Umayah dalam menistakan warga Madinah karena terbunuhnya khalifah ketiga.

Jabir yang mengalami periode Rasulullah dan mengetahui Al-Quran dan sunah, sangat kesal dengan bid’ah dan kebobrokkan-kebobrokan Bani Umayyah. Ia berharap menjadi tuli sehingga tidak mendengar berita-berita bid’ah dan perubahan nilai-nilai agama. [28]

Hajjaj bin Yusuf dari Bani Umaiyah memegang kekuasaan di Hijaz pada tahun 72 H/692 – 75 H/695. Pada tahun 74 H/694 ia pergi ke Madinah dan selama dua bulan berusaha menistakan warga Madinah. Hajjaj menempelkan benda panas ke tubuh para sahabat Rasulullah saw seperti Jabir, laksana para budak. [29] Meskipun demikian, Jabir tidak menunjukkkan reaksi apapun kecuali mengubah sikapnya semata[30] dan berwasiat supaya Hajjaj tidak menshalati jenazahnya. [31]

Di masa akhir hayatnya, Jabir tinggal di samping Baitullah di Mekah selama satu tahun. Selama itu, para pemuka dari tabi’in, seperti Atha’ bin Abi Rabah dan Amr bin Dinar bertemu dengannya. Jabir mengalami kebutaan pada masa akhir hayatnya. Ia meninggal dunia di Madinah. [32] Mizzi[33] menyebutkan beberapa riwayat tentang tahun kematian Jabir. Ia menyebutkan sejarah yang berbeda antara tahun 68 H/688 – 79 H/699. Dinukil dalam sebuah riwayat dari sebagian sejarawan dan ahli hadis bahwa Jabir wafat pada tahun 78 H/698 di usia 94 tahun. Disebutkan bahwa Aban bin Utsman, gubernur Madinah, ikut menshalati jenazahnya. [34]

Diantara keturunan Jabir adalah Abdur Rahman, Muhammad[35], Mahmud, Abdullah[36] dan Aqil. [37] Terdapat laporan adanya keturunan-keturunan yang dinisbatkan kepada Jabir di Afrika[38] dan Bukhara[39]. Terdapat juga sejumlah keturunannya di Iran. Diantaranya yang paling terkenal adalah Syaikh Murtadha Anshari, seorang fakih dan ahli ushul terkemuka Syiah kontemporer. [40]

Jabir temasuk kelompok sahabat yang banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw. Ia disebut sebagai penjaga sunah Nabawi dan pemilik banyak hadis. [41] Sumber-sumber riwayat, sirah dan sejarah, banyak bersandar pada riwayat-riwayat Jabir dan riwayat-riwayatnya menjadi perhatian semua mazhab Islam. Dalam ranah hukum-hukum fikih, Jabir adalah seorang yang memiliki pendapat dan memberi fatwa. [42] Dzahabi[43] menyebutnya sebagai seorang mujtahid dan fakih.

Selain menyampaikan riwayat-riwayat langsung dari Rasulullah saw, Jabir juga meriwayatkan dari sahabat dan tabi’in. Di antara riwayat-riwayat sahabat yang dibawakan oleh Jabir adalah riwayatnya Ali bin Abi Thalib as, Thalhah bin Ubaidillah, Ammar Yasir, Mu’ad bin Jabal dan Abu Said Khudzri. [44]

Jabir sangat berusaha untuk mendapatkan nilai-nilai pengetahuan agama. Ia melakukan lawatan ke Syam untuk mendengar hadis Rasulullah saw secara langsung dari salah seorang sahabat. [45] Antusiasme ini memaksa Jabir di akhir umurnya untuk tinggal selang beberapa lama di samping Baitullah supaya dapat mendengarkan hadis-hadis. [46] Dalam perkara hadis, ia adalah seorang kritikus handal dan dalam menjauhi persaingan dan fanatisme kesukuan dalam menyampaikan berita dan riwayat. Misalnya, meskipun berasal dari kabilah Khazraj, namun ia mengakui bagaimana para perawi Khazraj menyelewengkan sabda Rasulullah saw dalam memuji penghakiman Saad bin Mu’adz tentang Bani Quraidhah, karena Saad pemimpin kabilah Aus. [47]

Imam Baqir as, Imam Shadiq as dan Imam Kazhim as yang menukil dari Imam Baqir as menyebutkan beberapa riwayat Rasulullah saw dari Jabir. [48]

Nama Jabir disebutkan dalam periwayatan hadis-hadis populer Syiah, seperti hadis Ghadir[49], Tsaqalain[50]Ana Madinah al-Ilm wa Ali Babuha [51], hadis Manzilah [52], Rad al-Syams (mengembalikan matahari) [53] dan hadis Sad al-Abwab (penutupan pintu-pintu). [54]

Jabir juga menjadi perawi hadis dimana dalam hadis itu Rasulullah saw menyebutkan nama-nama para Imam sepeninggalnya [55] dan menjelaskan ciri-ciri Imam Mahdi. [56] Hadis Lauh termasuk hadis terkenal yang diriwayatkan oleh Jabir. Dalam hadis Lauh disebutkan nama-nama para Imam dua belas, pengganti Rasulullah saw. [57]

Sehubungan dengan referensi rijal [Imamiyah], Jabir adalah orang yang dihormati dan mendapat penegasan sebagai perawi. Ia termasuk sahabat para Imam, mulai dari Imam Ali as sampai Imam Baqir as. [64] Namun perlu diperhatikan bahwa Jabir wafat pada masa keimamahan Imam Sajjad as dan ketika itu usia Imam Baqir as masih kecil atau remaja. Dengan demikian, Jabir tidak bisa dikategorikan sebagai salah seorang sahabat Imam Baqir as. [65]

Dalam sebagian referensi rijal disebutkan bahwa karena pujian atas popularitas riwayat-riwayatnya, dalam periwayatannya, Jabir tidak lagi memerlukan pengesahan. [66] Meskipun Jabir dalam peristiwa Saqifah bukan termasuk sahabat Imam Ali as, namun setelah itu ia bergabung dengan Imam Ali dan termasuk sahabat Ahlulbait as yang setia dan ikhlas. [67]Kasyi[68] menilai Jabir sebagai anggota kelompok yang berkorban untuk Imam Ali as dan senantiasa mentaati perintahnya. Kelompok ini populer dengan nama Syurtah al-Khamis. [69]

Menurut perspektif Jabir, Imam Ali as memiliki sedemikian kedudukan di masa hidup Rasulullah saw yang dikategorikan sebagai tolok ukur kebenaran. Orang-orang munafik teridentifikasi dengan kebencian kepada Imam Ali as. [70] Jabir melewati gang-gang Madinah dan ikut serta dalam majelis-majelis Anshar. Jabir menasihati mereka supaya mendidik keturunan-keturunannya dengan kecintaan kepada Ali as. Ia berkali-kali mengatakan bahwa barang siapa yang tidak mengenal Ali as sebagai makhluk terbaik, maka dia tidak bersyukur. [71] Ucapan populer Jabir tentang Imam Ali as: “Ali Khairul Basyar”—Ali adalah sebaik-baik manusia—menjadi inspirasi para penulis Syiah. Salah satunya adalah Ja’far bin Ahmad Qummi yang mengutip sepertiga riwayatnya dari Jabir, dalam bukunya yang berjudul Nawadir al-Atsar fi Ali Khair al-Basyar,. [72]

Dalam tragedi Karbala dan kesyahidan Imam Husain as, Jabir bin Abdullah salah satu dari orang-orang yang berusia lanjut di kota Madinah yang gelisah terhadap keturunan Rasulullah saw. Imam Husain as ketika berargumentasi kepada para tentara Ubaidillah bin Ziyad mengenalkan Jabir sebagai saksi dalam ucapannya. [73]  Dalam Arbain kesyahidan Imam Husain as, Jabir adalah orang pertama yang menziarahi Imam. [74]

Imam Sajjad as memiliki sahabat yang sangat sedikit pada masa keimamahannya. Jabir termasuk salah satu dari sahabat Imam Sajjad yang sedikit tersebut. Karena usianya yang lanjut, ia luput dari pengejaran Hajjaj bin Yusuf. [75] Dalam hadis-hadis, disebutkan peristiwa pertemuan Jabir bin Abdillah dengan Imam Baqir as. [76] Jabir mendengar Rasulullah saw berkata, “Engkau akan memiliki umur panjang yang akan bertemu dengan putraku dari keturunanku dan namanya sama denganku. Ia adalah pembelah ilmu (Yabqur al-Ilmu Baqran). Maka sampaikanlah salamku kepadanya.”[77] Jabir senantiasa mencari keturunan Rasulullah ini, sampai akhirnya di masjid Madinah ada panggilan, “Wahai Baqirul Ilm!” Suatu hari akhirnya Jabir menemukan Muhammad bin Ali dan ia teringat sabda Rasulullah saw. Jabir pun mencium Muhammad bin Ali dan menyampaikan salam Rasulullah saw kepadanya. [78]

Hadis-hadis musnad Jabir yang dikutip melalui jalur referensi riwayat Ahlusunah mencapai 1540 hadis, dimana Bukhari dan Muslim menukil 58 hadis darinya. [79] Ahmad bin Hanbal mengumpulkan riwayat-riwayat Jabir dalam musnadnya. [80] Terdapat naskah-naskah khat musnad Jabir bin Abdullah di Khazanah al-Ribath (Maroko) dengan riwayat Abu Abdirrahman Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal [81], yang mungkin merupakan riwayat-riwayat Jabir dalam musnad Ahmad bin Hanbal. Husain Watsiqi juga mengutip riwayat-riwayat Jabir dari referensi-referensi riwayat Syiah dan menuliskan dalam bukunya “Jabir bin Abdullah al-Anshari, Hayatuhu wa Musnaduhu”—Jabir bin Abdullah Anshari; Kehidupan dan Musnadnya.

Karya terpenting Jabir yang dikenal dalam kepustakaan adalah Sahifah Jabir. Sahifah ini—yang merupakan contoh bentuk penulisan hadis terkuno—dikumpulkan oleh Sulaiman bin Qais Yasykari. Namun, karena pendeknya usia Sulaiman, para perawi lain mengutipnya tanpa membaca dan mendengar teks sahifah tersebut [82]. Naskah sahifah ini terdapat dalam antologi Syahid Ali Pasha di perpustakaan Sulaimaniyah (Sulaimaniya Library) Istanbul. [83]

Sumber dan catatan kaki klik wikishia.net

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top