Thursday , January 23 2020
Breaking News
Jalan Mengenal Kenabian [2/4]

Jalan Mengenal Kenabian [2/4]

Pembahasan sebelumnya Jalan Mengenal Kenabian [1/4]

4. Menyelamatkan Manusia dari Kegelapan

Di antara tujuan bi’tsah kenabian lainnya adalah melepaskan dan menganggkat manusia dari jurang kegelapan menuju lembah cahaya, Tuhan berfirman: “…(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.”[QS Ibrahim : 1]

Kejahilan ilmu dan amal, keduanya adalah kegelapan; orang jahil yang durjana dan orang alim yang fâjir, keduanya terperangkap timbunan kegelapan dan mengklaim diri mendapat petunjuk tanpa dalil ilmu dan bukti amal adalah bentuk keterselimutan dalam kegelapan yang tebal. Satu-satunya perahu keselamatan dan pelita hidayah adalah misykât kenabian, dimana ia akan memberangkatkan manusia dari istana ego menuju tempat kerja taklif dan kehambaan pada Tuhan dan menerangi hati-hati gelap serta menyusulkan orang-orang sesat kepada para penapak jalan cahaya.

5. Menyembah Tuhan dan Menjauhi Taghut

Juga yang menjadi tujuan inti dan pokok bi’tsah kenabian adalah seruan dan ajakan kepada masyarakat untuk menyembah Tuhan Yang Tunggal dan menjauhi Taghut beserta menifestasi-manifestasinya, di dalam Alquran kita membaca: “Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Taghut”, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).”[QS an-Nahl: 36]

Amirul Mukminin tentang ini berkata: Tuhan mengutus para nabi supaya hamba-hamba-Nya yang tidak mengetahui makrifat ketuhanan mempelajarinya (dari para nabi), dan supaya mereka beriman kepada Tuhannya dan mengesakan-Nya, sesudah mereka ingkar dan ‘inad terhadap-Nya.[Bihârul Anwâr, Jld. 4, Hal. 287]

Oleh karena itu, fokus asli dakwah para nabi adalah menjaga tauhid fitri dan menolak segala bentuk penyekutuan Tuhan; sebagaimana dalam ungkapan “Tiada Tuhan selain Allah” maknanya tidak kembali kepada dua qadiyah (proposisi) negatif dan positif yang baru; sebab makna ungkapan tauhid ini adalah selain Tuhan Yang Mahaesa yang diterima secara rasional oleh pandangan dan diterima secara amal oleh perbuatan, semua yang lainnya adalah ternafikan. Jadi, pada hakikatnya makna menyembah Tuhan dan menjauhi Taghut yakni segala bentuk penyembahan kepada yang lain selain penyembahan dan ibadah kepada Tuhan Yang Tunggal yang diterima akal teoritis dan akal praktis, adalah batil dan ternafikan.

6. Menghakimi dan Memutuskan Perselisihan Masyarakat

Menghakimi dan menghilangkan perselisihan di antara masyarakat, juga menjadi salah satu dari tujuan bi’tsah para nabi, firman Tuhan: “Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan dan Dia menurunkan bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan….”[QS al-Baqarah : 213]

Ayat yang disebutkan di atas mengandung dua poin penting: pertama, memberi kabar gembira dan peringatan, di mana keduanya ini juga merupakan tujuan dari bi’tsah nabi-nabi, sebab motivasi dan ancaman adalah dua rukun signifikan dalam tarbiyah jiwa dan penjamin bagi keselamatan mereka. Kedua, memutuskan perkara secara benar berasaskan pengajaran kitab-kitab langit, khususnya kitab Alquran; sebab dalam menghakimi manusia harus berdasarkan undang-undang yang sempurna, dan hanya kitab-kitab langit yang memiliki aturan yang universal dan sempurna.

Juga dari ayat ini dapat diketahui bahwa terdapat dua tipe pertentangan dan perselisihan dalam masyarakat manusia; pertama, perselisihan sebelum hak (kebenaran) jelas, tipe perselisihan ini adalah tabii dan tidak tercela dan memiliki kesiapan untuk sampai pada kebenaran serta realitas, dan lainnya, perselisihan sesudah hak jelas, dimana jenis perselisihan ini adalah setani dan tercela, dan menjadi wasilah fitnah serta tersembunyinya kebenaran.

selanjutnya Jalan Mengenal Kenabian [3/4]

Dikutip dari buku Ayatullah Taqi Misbah Yazdi, Merancang Piramida Keyakinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top