Tuesday , August 20 2019
Breaking News
Jangan Jadikan Aksi Kamisan Sebagai Monumen Ketidakadilan

Jangan Jadikan Aksi Kamisan Sebagai Monumen Ketidakadilan

Aksi Kamisan, Monumen Ketidakadilan

Sudah 70 tahun Indonesia merdeka. Namun bagi sebagian orang, kemerdekaan itu masih terasa hampa. Seperti aksi korban pelanggaran HAM berat yang sudah ke-407 kali melakukan aksi diam di depan Istana. Karena teriakan mereka menuntut keadilan tak pernah didengar.. 

Diawali aksi ruwatan pecah kendi dan tabur bunga tanda masih berkabung, karena belum adanya keadilan di negeri ini, korban pelanggaran HAM berat kembali melakukan Aksi Kamisan, Kamis (13/8).

Menurut Direktur LBH Jakarta, Al Ghiffari Aqsa, SH, yang juga hadir dalam aksi Kamisan ini, belum tuntasnya kasus pelanggaran HAM berat hingga saat ini menandakan Indonesia belum dewasa dalam berbangsa dan bernegara.

“Meski 70 tahun Indonesia berdiri, kita belum dewasa dalam berbangsa dan bernegara. Kasus-kasus pelanggaran HAM, jutaan orang yang dibantai dalam kasus 65 masih belum diselesaikan, kemudian kasus Petrus, kasus Talangsari dan lain-lain juga belum diselesaikan,” ujar Aqsa.

“Seharusnya kita sudah dewasa berbangsa dan bernegara, hukum harus ditegakkan, pelaku-pelaku harus diproses melalui peradilan dan pemerintah harus memperhatikan aspirasi rasa keadilan korban,” tambah Aqsa.

Jangan Ada Lagi Aksi Kamisan!

“Bagi kami kemerdekaan hanya isapan jempol belaka. Kami masih berjuang menuntut hak hingga hari ini,” ujar Sumarsih, salah satu korban pelanggaran HAM yang hadir dalam aksi ini, usai memecahkan kendi dan menaburkan bunga sebagai simbol duka belum tegaknya. keadilan.

“Kemerdekaan itu nyata bila negara berani menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu dan masa kini. Berani adili jendral-jenderal pelanggar HAM dan hapus impunitas.”

“Saya harap Aksi Kamisan ini selesai. Jangan terus jadikan Kamisan sebagai monumen ketidakadilan,” pungkas Sumarsih.

Namun meski negara belum menunjukkan ketegasan sikapnya, menurut Aqsa, advokasi aksi Kamisan ini memiliki efek mendidik bagi generasi muda. 

“Efek yang saya rasakan di Kamisan adalah masyarakat, terutama anak-anak muda jadi ngerti fakta pelanggaran HAM,” ujar Aqsa. (Muhammad/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top