Tuesday , November 19 2019
Breaking News
Jejak Pengaruh Syiah Di Sulawesi: Studi Kasus Suku Bugis, Makasar Dan Mandar [2/4]

Jejak Pengaruh Syiah Di Sulawesi: Studi Kasus Suku Bugis, Makasar Dan Mandar [2/4]

Dimensi Mistik dalam Islam

Ordo tarekat terbesar di Sulawesi Selatan adalah Khalwatiyah. Tarekat Khalwatiyah mengajarkan konsep Wahdat al-Wujud. Wujud adalah sesuatu yang tidak bisa disamakan dan dipersepsikan dengan segala sesuatu yang ada pada pemahaman manusia. Hanya Allah saja yang wujud hakiki, sementara segala sesuatu (makhluk) adalah noneksistensi (accident). Wujud Tuhan adalah mutlak (nondelimited), sementara lainnya terbatas. Wahdatul wujud bisa juga disebut dengan penyirnaan diri (al-fana). Wahdat al-Wujud atau al-fana adalah gagasan mistik yang luar biasa dalam hubungannya dengan keberadaan stasiun penciptaan spiritual dan fisik. Secara metafisik pemahaman tentang al-fana adalah penyatuan (al-Ittihad) dari dalam diri seseorang dengan esensi Allah. Husein Ibnu Mansyur Al-Hallaj adalah seorang Sufi dan mistik besar.

pembahasan sebelumnya Jejak Pengaruh Syiah di Sulawesi: Studi Kasus Suku Bugis, Makasar dan Mandar [1/4]

Berdasarkan sejarah keSufian, ia dikenal yang pertama kali memperkenalkan ajaran wahdatul wujud. Orang Persia itu dikenal telah mencapai maqam ‘alfana’ ketika ia mengeluarkan pernyataan yang terkenal ‘Anaal-Haqq (Akulah kebenaran). Atas pernyataan yang sungguh sangat berani itu harus dibayar mahal dengan kemartirannya di Irak. Belakangan, sesudah kemartirannya, ada banyak tulisan tentang doktrin ‘Ana al-Haq ala Al-Hallaj. Ada yang menolak, tetapi tidak kurang pula yang mendukung dan mengaguminya. Esensi doktrin Al-Hallaj boleh saja pada zamannya dan beberapazaman berikutnya masih terasa sangat “aneh dan berani”. Akan tetapi, pernyataan itu akan terasa sakralitas dan intelektualitasnya biladicerminkan pada teori dari pemikir cemerlang Persia lainnya, yang muncul setelah Al-Hallaj yaitu Mulla Sadra (1571-1640) dengan teorinya al-Hikmat al-Muta’aliyah fi ’l-asfar al-’aqliyah al-arba’ah (The Transcendent Wisdom in the Four Intellectual Journeys). Adapun empat perjalanan itu sebagai berikut: Perjalanan pertama adalah dari dunia ciptaan (makhluk) menuju Kebenaran (Tuhan)- (min al-khalq Ilal-Haqq). Perjalanan kedua adalah dari Kebenaran (Tuhan) kepada Kebenaran (Tuhan) oleh Kebenaran (Tuhan) min al-haqq Ilal-haqq bi’l-Haqq)

Perjalanan ketiga adalah dari Kebenaran (Tuhan) ke dunia penciptaan (Makhluk) dengan Kebenaran (Tuhan) -(minal-haqq Ilal-khalq bi’l-Haqq). Perjalanan keempat dan akhir perjalanan dari dunia penciptaan (Makhluk) ke dunia penciptaan (Makhluk) bersama Kebenaran (Tuhan) (min al-khalq Ilal-khalq bi’l-Haqq). Tentu saja, pandangan dari kedua pemikir bangsa Persia itu pada akhirnya mempersepsikan sebuah domain eksistensi yang pada dasarnya menegaskan hanya ada “Satu Realitas“ yang mana adalah wujud-Nya dan keberadan-Nya sendiri, yang abadi, sebab dari segala sebab, dan sebagainya. Realitas Maha Suci ini adalah pada dasarnya unik (Ahad) dan satu (Wahid) dalam esensi tapi tidak ‘satu’ dalam jumlah. Menegaskan kesatuan makhluk sebagaimana ayat: ”Kami telah menciptakan kamu dari satu jiwa” (Alquran 4:1). Oleh karena itu, muncul gagasan kesatuan realitas eksistensi pada semua dimensi tingkatan kosmos. Jenis manusia yang telah melakukan empat perjalanan tersebut telah mencapai ‘Realitas Transenden’ dan telah menghilangkan kedirian mereka sendiri untuk menjadi satu dengan yang ‘Satu’. Selanjutnya, secara bersamaan, konsep kesatuan (Wahdat al-Wujud) dalam budaya dan tradisi yang ada pada suku-suku di Sulawesi terkhusus suku Bugis juga berlandaskan pada empat tahapan dan memiliki empat dimensi yang disebut Sulapa Eppa (Segi Empat).

Kalau menelusuri konsep pandangan hidup atau pun agama-agama yang ada di Sulawesi tak satu pun ajaran atau agama yang punya pandangan kesatuan eksistensi secara tegas. Bahkan di dalam La Galigo, dewa tidaklah tunggal, ia beranak-pinak. Yang punya pandangan demikian hanyalah kepercayaan dan agama Islam. Islam pun jika ditelusuri lagi dari segi teologis-filosofis maka yang punya konsep demikian hanya pandangan dan pemikiran yang akar sejarahnya bersumber dan berasal dari tanah Persia sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa konsep wahdatul wujud bersumber dari Mansyur al-Hallaj. Maka persinggungan konsep pandangan Wahdat al-Wujud itu dengan tradisi dan budaya suku-suku yang ada di Sulawesi di mana lagi kalau bukan warisan dan pengaruh dari ulama Islam Persia semisal Sayyid Jamaluddin Husein al-Kubra. Asumsi ini semakin kuat bila kita perhadapkan pada sebuah kenyataan sejarah yang mana kitab La Galigo merupakan kitab rujukan pandangan hidup sekaligus kitab sejarah keberadaan dan kemaujudan manusia Bugis disempurnakan oleh ulama Islam yang juga kelahiran Wajo bernama Husein bin Ismail, yang dikenal dengan gelar Guru Useng. Sangat besar kemungkinan bila Husein bin Ismail memasukkan pandangan ketauhidan dalam kitab La Galigo termasuk paham Wahdat al-Wujud. Bahkan besar kecurigaan penulis bila konsep To Manurung pun oleh Husein bin Ismail telah dimodifikasi dan disempurnakan sejalan dengan pandangan dan konsep tauhid.

Adapun Konsep Sulapa Eppa ini merupakan bentuk nyata perwujudan dari konsep kesatuan eksistensi dalam tradisi dan budaya etnis di Sulawesi. Konsep Sulapa Eppa dapat diterapkan dalam berbagai kasus, seperti:

Pertama, Lontara (Alpabet Bugis-Makasar). Sulapa Eppa bermakna segi empat (empat sisi). Konsep Sulapa Eppa berdasarkan kepercayaan dan mitos Bugis-Makasar bahwa alam semesta ini sebagai satu kesatuan yang diungkapkan oleh ◊ simbol = sa, itu berarti ◊ = seua (satu). Simbol ini (◊) juga merupakan mikrokosmos atau eppa sulapa ‘na taue (empat bagian tubuh manusia). Bagian atas adalah kepala; sisi kiri dan kanan adalah tangan; dan bagian bawah adalah kaki. ◊ ini simbol untuk mengekspresikan dirinya sendiri secara konkret pada bagian kepala manusia, itu disebut “saung” ◊, berarti mulut atau jalan keluar. Menurut manusia Bugis, mulut adalah bagian untuk mengekspresikan segala sesuatu, yang ◊ = sadda (bunyi). Suara dikonstruk sehingga memiliki makna ◊ (Simbol), hal itu disebut = ada (kata ilahi atau perintah). Dari kata ◊ ada (kata) keluar segala sesuatu yang mencakup seluruh alam semesta teratur (Sarwa Alam) diatur oleh ◊ ada (kata atau logos). Jika kata-kata yang ditambahkan artikel ◊ = E, ia menjadi ◊ adae (kata). Ini adalah sumber ◊ kata = ade ‘(hukum adat), yaitu kata ilahi atau mengatur dengan benar, membuat teratur, mengontrol, mendisiplinkan yangmencakup ◊ Sarwa alam = sa.

Kedua, Sulapa Eppa secara fi losofi s juga diterapkan pada arsitektur rumah. Rumah tradisional Bugis-Makasar terinspirasi oleh struktur kosmos di mana alam semesta dibagi empat bagian, yaitu:

(1) alam yang Maha Tinggi, alam yang tak akan pernah disentuh secara utuh dan sempurna oleh makhluk,
(2) bagian alam semesta yang teratas. Bagian ini dihuni oleh makhluk suci dan sekaligus juga merupakan tempat suci. (
3) bagian tengah alam semesta adalah tempat interaksi manusia dengan kehidupannya,
(4) bagian alam semesta yang rendah adalah tempat untuk interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya.

Pada saat yang sama dalam tradisi filsafat Iluminasi Persia alam pada garis besarnya juga dibagi dalam empat tingkatan: Alam Asma Ilahi, Alam Akal, Alam Mitsal (Imaginal), dan Alam Materi, yang mana tingkatan itu masing-masing di antara keduanya memiliki kesesuain penjelasan secara umum. Lantas dari manakah akar sejarah ilmu pengetahuan suku-suku di Sulawesi yang demikian itu? Orang Sulawesi juga ketika ingin membangun rumah sudah menjadi keharusan bagi mereka untuk meminta beberapa pertimbangan dari Panrita Bola (Ahli Rumah), seperti; mencari lokasi dan arah yangbaik. Arah yang baik adalah menghadap ke arah timbulnya matahari, yang menghadap ke daerah dataran tinggi, dan menghadap ke salah satu arah angin, termasuk untuk memilih waktu yang baik. Mereka juga tahu dan percaya pada Posi Bola (Bagian Tengah/Pusat Rumah) yang harus ditentukan lebih awal dari tiga pilar lainnya. Setelah itu baru bisa membangun yang lainnya.

Ketiga, Sulapa Eppa merupakan filosofi hidup masyarakat tradisional Sulawesi (Bugis, Makasar, Toraja, dan Mandar). Sebuah pandangan ontologi guna memahami alam semesta yang universal. Sulapa Eppa sebagai filsafat hidup dianggap sebagai sumber mitos penciptaan manusia yang terdiri dari tanah, air, api, dan angin. Empat elemen ini tidak dapat dipisahkan untuk membangun manusia yang sempurna.

Keempat, Sulapa Eppa juga untuk memahami hubungan keseimbangan dalam empat dimensi kehidupan masyarakat, yaitu:

(1) Hubungan harmonis antara manusia dengan Allah;
(2) Hubungan harmonis antara manusia dengan masyarakat; (
(3) Hubungan harmonis antara manusia dengan alam;
(4) Hubungan harmonis antara masyarakat dengan pemerintah.

Ide harmoni berdasarkan pada pengalaman eksistensial umat manusia dan keberadaan negara ideal adalah sesuatu yang sangat didambakan. Seorang individu tidak bisa mendapatkan dan menikmati hidup yang nyaman dan menyenangkan bila tanpa harmoni dengan Tuhan, masyarakat, pemerintah, dan alam. Dalam konsep hubungan Eppa Sulapa tak ada satu pun yang berada pada posisi dominan. Semua dari mereka dalam hubungan yang sama satu sama lain. Kunci utama untuk menerapkan dan mempraktekkan konsep Sulapa Eppa itu adalah ‘assedingengnge’ (Wahdat al-Wujud). Kita tidak bisa memisahkannya. Kita tidak bisa hanya mengambil dan menjalankan satu aspek saja dan lainnya ditolak. Semuanya diatur oleh hukum adat. Bentuk aturan itu akan membuat kemakmuran dan konsistensi. Pelaksanaan dan konsistensi pada empat unsur itu akan sangat mampu menjaga kondisi yang dinamis dalam rangka menangkal dan menghadapi segala tantangan baik dari dalam maupun luar negeri.

Keterpaduan dan kemanunggalan (Asseddingengnge atau Wahdat al-Wujud) senantiasa harus menjadi sikap dasar dalam sistem pelayanan seperti; pemerintah harus selalu berpikir masalah kesejahteraan rakyat, pemimpin harus pintar untuk menjawab dan merumuskan solusi atas problem yang sedang dihadapi masyarakat, pemimpin dan masyarakat harus selalu dalam koridor hukum dan mengupayakan menegakkan hukum dan aturan yang baik di lingkungan masyarakat dan pemerintah. Sebab setiap individu dan elemen-elemen lain adalah fondasi untuk membangun suatu bangsa dan negara. Oleh karena itu, individu harus memiliki sikap hidup dan kepribadian yang konsisten bagi setiap manusia Bugis, Makasar, Mandar, dan Toraja, khususnya bagi aparat negara (Pakkatenni Ade). Mengenai sikap dan kepribadian yang paling ditekankan dalam konsep Sulapa Eppa yaitu; Malampu (Kejujuran dan Integritas), Acca, Warani (Kepandaian dan Keberanian), Temmapasilengeng (Keadilan), dan Reso (Etos Kerja).

  1. Malempu (Kejujuran dan Integritas). Ini merupakan nilai universal yang sangat penting dan strategis bagi individu dan pemerintah. Malempu memiliki arti yang sangat signifikan apabila dimiliki oleh pemerintah yang bisa menjadi penyebab masyarakat mendukungnya dan memberikan respon yang baik kepada mereka. Di waktu lampau, ada tradisi dan kebiasaan masyarakat di Sulawesi (Suku Bugis, Makasar, Mandar, dan Toraja) untuk mendeklarasikan sumpah di depan publik antara rakyat dan raja: Angiko kiraukkaja, raao’miri riakkeng mutappalireng, elo’mu rikkeng, adammu kuwa mattampako kilao, mallauka kiabbere, imolliko kisawe, mauni anamming pattarommeng rekkuwa mateai wi kiteai toisa. Iya kiya, ammpirikking temmakare, dongirikkeng temmatippe, musalipurikkeng temmadinging.Rakyat menjawab: Anda adalah angin, kami adalah daun pohon. Arah mana angin bertiup, kami pergi bersama-sama dengan Anda. Keinginan dan ketentuanmu berlaku atas kami. Titahmu kami laksanakan jika Anda mengharapkan. Perintahlah kami, dan kami taat. Jika Anda tidak suka anak-anak, istri (gundik) kami, kami pun tidak menyukainya. Tapi, tolong Anda memimpin kami semua aman dan damai. Anda peduli pada kemakmuran kami dan melindungi kami dari segala bentuk kemiskinan dan kesakitan.

    Raja membalas: Ujujungi uparibottoulu Ada-adamu tomaega upatei ri pakka-pakka-ulaweng alebbrenna Ada-adamu, ri wettu mabbulo sipeppamu, rima’elo’mu pancajia ‘arung. Aku meletakkan dan menyimpan kata-katamu di atas kepala, oh rakyatku, ketika kalian bersatu menjadikan ku raja kalian.

  2. Acca na Warani (Kepintaran dan Keberanian). Ketika kita menghadapi beberapa tantangan dan permasalahan, kita membutuhkan aparat pemerintah dan pemimpin yang memiliki kecerdasan dan keberanian untuk mengambil suatu sikap agar bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya.
  3. Temmapasilengeng (Keadilan) adalah sebuah nilai yang harus diterapkan oleh seluruh aparatur pemerintah guna memberikan layanan kepada masyarakat tanpa membedakan satu dengan yang lainnya. Masyarakat akan simpati dan secara tulus memberikan dukungan kepada pemimpin dan bpemerintah sehingga tujuan pembangunan dan pengelolaan pemerintah akan tercapai dengan mudah.
  4. Reso (Etos Kerja). Nilai ini terungkap dalam ungkapan tradisional “resopa namatinulu naletei pammase dewata” yang artinya hanya dengan kerja keras, kerajinan, dan ketekunan akan mendapatkan rahmat dan dari yang Maha Kuasa. Dalam kehidupan sosial yang penuh dengan kompetisi, kita perlu meningkatkan nilai etos kerja sebagai motivasi dan semangat rakyat untuk meningkatkan daya saing mereka.

Selanjutnya, pengaruh pemahaman Syiah (Persia) dalam konsep To Manurung. Kepercayaan masyarakat Sulawesi, khususnya masyarakat Bugis bahwa To Manurung adalah seorang pemimpin yang berasal
dari kerajaan bonting langiq (Kerajaan Langit) turun ke bumi untuk menjadi raja di kerajaan bumi. Masyarakat Bugis sendiri mempercayai bahwa ada dua periode Manurung: Episode pertama episode La Galigo, turunnya Batara Guru ke bumi menjadi penguasa. Episode ke dua yaitu episode lontaraq yaitu tujuh generasi dari To Manurung pertama semuanya kembali ke Bonti Langiq dan Boriq Liu. Setelah itu dunia menjadi kacau balau dan turunlah To Manurung Periode kedua di beberapa daerah antara lain; Wajo, Pinrang, Bone, Soppeng, Luwuk, Barru, Gowa, dan Toraja. Semua To Manurung tersebut turun dengan perlengkapan kerajaannya masing masing untuk digunakan di bumi. Dalam pandangan teologi Syiah ada konsep wilayah yang wewenangnya diberikan Allah kepada Nabi Muhammad dan Ahl al-Baytsebagai wakil Allah di muka bumi. Wilayah, diambil dari kata wila, yang berarti kekuasaan, wewenang atau sebuah hak atas hal-hal tertentu.

Dalam teologi Syiah, wilayah memiliki empat dimensi:

(1) Hak kecintaan dan ketaqwaan (wilayah mahabbat). Hak ini menempatkan kaum Muslim di bawah kewajiban untuk mencintai Ahlul Bait;
(2) Wilayah dalam bimbingan ruhani (wilayah imamat). Hak ini mencerminkan kekuasaan dan wewenang Ahl al-Bayt untuk menuntun pengikutnya dalam urusanurusan spiritual;
(3) Wilayah dalam bimbingan sosial politik (wilayah ziamat). Dimensi wilayah ini mencerminkan hak bahwa Ahl al-Bayt harus menuntun kaum kaum Muslim dalam kehidupan sosial dan politik; dan
(4) Wilayah semesta (wilayah tasarruf). Dimensi wilayah ini mencerminkan kekuasaan yang meliputi semesta raya yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad dan Ahl al-Bayt telah dianugerahkan oleh Allah.

Akan tetapi, kekuasaan itu harus dipahami dalam kerangka kekuasaan yang tetap bersumber dari Tuhan. Kekuasaan yang tetap pada ruang koridor dan seizin Tuhan untuk dipergunakan seperlunya atas seluruh realitas. Suatu waktu muncul manusia suci yang datang untuk menerangkan segala bentuk perselisihan yang terjadi di dunia. Demikianlah pengaruh ajaran Syiah (Persia) meresap masuk pada akar nilai kearifan budaya lokal tanpa harus menghilangkan nama dari budaya lokal tersebut. Para pembawa ajaran Syiah lebih cenderung menggunakan metode peleburan diri pada budaya lokal daripada harus melakukan konfrontasi dengan budaya setempat. Hal ini menyebabkan banyak orang tidak bisa mengenal dan melacak jejak ajaran Syiah pada budaya lokal. Inilah yang disebut dengan cara asimilasi kebudayaan yang tentu saja cara ini sangat humanis, cerdas, sekaligus pragmatis: efisien dan efektif untuk sebuah hubungan humanosphere yang terpadu dan holistik.

Selanjutnya Jejak Pengaruh Syiah Di Sulawesi: Studi Kasus Suku Bugis, Makasar Dan Mandar [3/4]

Dikuitp dari tulisan Supratman dalam buku  Sejarah dan Kebudayaan Syiah di Asia Tenggara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top