Tuesday , November 19 2019
Breaking News
Jejak Pengaruh Syiah Di Sulawesi: Studi Kasus Suku Bugis, Makasar Dan Mandar [4/4]

Jejak Pengaruh Syiah Di Sulawesi: Studi Kasus Suku Bugis, Makasar Dan Mandar [4/4]

Dua Belas Anggota Bissu di Wajo

Secara tradisional, keyakinan dua belas (12) Imam bagi muslim Persia (Syiah) menganggap Ali dan sebelas para imam berikutnya tidak hanya membimbing umat manusia pada nilai-nilai dan ajaran agama yang benar, tetapi juga berhak atas kepemimpinan politik, berdasarkan sebuah hadist penting Nabi Muhammad. Kaum Muslim, di dalam kitab Shahih, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Bukhari di dalam shahihnya, pada awal Kitab Al-Ahkam, bab Al-Umara min Quraisy (Para Pemimpin dari Quraisy), juz IV, hlm. 144; dan di akhir Kitab Al-Ahkam, hlm. 153, sedangkan dalam Shahih Muslim disebutkan di awal Kitab Al-Imarah, juz II, hlm. 79. Hal itu juga disepakati oleh Ashhab al-Shahhah dan Ashhab al-Sunan, bahwasanya diriwayatkan dari Rasulullah, “Agama masih tetap akan tegak sampai datangnya hari kiamat dan mereka dipimpin oleh 12 orang khalifah, semuanya dari Quraisy.”

Pembahasan sebelumnya Jejak Pengaruh Syiah Di Sulawesi: Studi Kasus Suku Bugis, Makasar Dan Mandar [3/4]

Diriwayatkan dari Jabir bin Samrah, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Setelahku akan datang 12 Amir.” Lalu Rasulullah mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku dengar. Beliau bersabda, “Ayahku semuanya dari Quraisy.” Ringkasnya, seluruh umat Islam sepakat bahwa Rasulullah membatasi jumlah para Imam setelahnya sebanyak 12 Imam; jumlah mereka sama dengan jumlah Nuqaba bani lsrail; jumlah mereka juga sama dengan jumlah Hawari Isa. Dalam Alquran ada sejumlah ayat yang mendukung jumlah 12 di atas. Kata Imam dan berbagai bentuk turunannya disebutkan sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah Imam kaum Kaum Muslim yang dibatasi Nabi Muhammad. Kata tersebut terdapat pada ayat-ayat berikut: Al-Baqarah: 124, Hud: 17, Al-Furqan: 74, Al-Ahqaf: 12, Al-Hijr: 79, Yasin: 12, AI-Isra: 17, At-Taubah: 12, Al-Anbiya: 73, Al- Qashash: 5 dan 41, dan As-Sajadah: 24.

Setelah melakukan Revolusi Islam di Iran Ayatullah Ruhollah Khomeini dan pendukungnya mendirikan teori baru pemerintahan untuk Republik Islam Iran. Konsep itu didasarkan pada teori Khomeini tentang perwalian ahli hukum Islam yang merupakan ekstensi dari konsepsi Imamah pewaris Nabi Muhammad. Dalam sejarah awal pembentukan masyarakat Bugis terdapat Bissu yang punya peran sangat kuat dan penting. Dikisahkan bahwa Batara Guru ketika turun ke bumi dari ‘Dunia Atas’ (Boting langik) bertemu dengan We Nyili Timo yang berasal dari ‘Dunia Bawah” (Borikliung) yang kemudian menjadi permaisurinya. Batara Guru yang mendapat tugas dari Dewata mengatur bumi rupanya tidak mempunyai kemampuan manajerial yang handal, karenanya diperlukan Bissu dari Botinglangik untuk mengatur segala sesuatu mengenai kehidupan. Ketika Bissu ini turun ke bumi, maka terciptalah pranata-pranata masyarakat Bugis melalui daya kreasi mereka, menciptakan bahasa, budaya, adat istiadat, dan semua hal yang diperlukan untuk menjalankan kehidupan di bumi. Melalui perantara Bissu inilah, para manusia biasa dapat berkomunikasi dengan para dewata yang bersemayam di langit.

Di sini kita tidak membahas masalah kontraversi Bissu berkenaan gendernya dari sudut pandang Islam. Akan tetapi, perlu diingatkan bahwa metode asimilasi yang ditempuh oleh para ulama Syiah lebih mengedepankan penanaman nilai-nilai ajaran Syiah pada setiap bentuk kebudayaan yang ada pada masyarakat setempat dari pada harus bersitegang untuk menghilangkannya. Walhasil, nyaris semua suku di Sulawesi menerima bahwa Bissu bagian dari sejarah masyarakatnya. Akan tetapi, anehnya ada perbedaan jumlah anggota Bissu di setiap daerah; di Bone 40 orang, Soppeng 8 orang, Pangkep 22 orang, dan Wajo 12 orang. Hal ini bukanlah suatu kebetulan jika Wajo yang merupakan tempat pusat pengajaran Sayyid Jamaluddin al-Huseini ataupun pengikutnya menanamkan pengaruh jumlah sebagaimana jumlah khalifah setelah Rasulullah dalam pemahaman Syiah Persia.

Dalam struktur budaya Bugis, peran Bissu tergolong istimewa karena dalam kehidupan sehari-hari dianggap sebagai satu-satunya operator komunikasi antara manusia dan dewa melalui upacara ritual tradisionalnya dengan menggunakan bahasa dewa/langit (Basa Torilangi) karenanya Bissu juga berperan sebagai penjaga tradisi tutur lisan sastra Bugis Kuno: Sure’ La Galigo. Apabila Sure’ ini hendak dibacakan, maka sebelum dikeluarkan dari tempat penyimpanannya, orang menabuh gendang dengan irama tertentu dan membakar kemenyan. Setelah tabuhan gendang berhenti, tampillah Bissu mengucapkan pujaan dan meminta ampunan kepada dewa-dewa yang namanya akan disebut dalam pembacaan Sure’ itu. Bissu juga berperan mengatur semua pelaksanaan upacara tradisional, seperti upacara kehamilan, kelahiran, perkawinan (Indo’ Botting), kematian, pelepasan nazar, persembahan, tolak bala, dan lain-lain.

Dari Sure La Galigo sendiri sebagai referensi utama sejarah purbasuku Bugis, membuktikan bahwa justru kehadiran Bissu dianggap sebagai pengiring lestarinya tradisi keilahian/religiusitas nenek moyang. Di masa lalu berdasarkan sastra klasik Bugis epos La Galigo, sejak zaman Sawerigading, peran Bissu sangat sentral, bahkan dikatakan sebagai mahluk suci yang memberi stimulus ‘perahu cinta’ bagi Sawerigading dalam upayanya mencari pasangan jiwanya; We Cudai. Di tengah kegundahan Sawerigading yang walau sakti mandraguna tetapi tak mampu menebang satu pohon pun untuk membuat kapal raksasa. Wellerrengge, Bissu We Sawwammegga tampil dengan kekuatan sucinya yang diperoleh karena ambivalensinya; lelaki sekaligus perempuan, manusia sekaligus Dewa.

Dengan posisi dan peran sentral Bissu yang demikian besarnya maka secara antropologis akan membawa sebuah pemahaman pada masyarakat bahwa secara sosiologis dalam bangunan masyarakat meniscayakan sebuah struktur manusia dengan kualitas yang sedemikian sempurna. Dalam konsep teologis ajaran Syiah disebut dengan hak wilayah yang diberikan pada Ahlulbayt Nabi Muhammad.

Assikalaibineng (Etika Hubungan Intim)

Assikalaibineng dalam tradisi muslim Sulawesi tidak hanya untuk melepaskan libido sepasang suami istri, tetapi hubungan intim dari pasangan yang menikah secara esensial adalah simbolis kegiatan keagamaan atas nama Imam Ali dan bunda Fatimah Az-Zahra. Makna simbolik religiositas ini adalah memberikan semangat yang sakral untuk hubungan suami istri sehingga pasangan suami-istri mengikuti dan mematuhi aturan dan etika yang dilakukan oleh keluarga terpuji Imam Ali dan Fatimah Az- Zahra. Hubungan intim akan menjadi lebih mulia dan terhormat jika pasangan suami-istri melakukannya memiliki semangat dan prinsip Islam sebagaimana Imam Ali dan Fatimah Az- Zahra. Oleh karena itu, tradisi masyarakat muslim Sulawesi sebelum melakukan hubungan intim yang untuk pertama kalinya, maka sebaiknya lebih awal harus melakukan yang disebut Nikah Bathin. Mengenai aturan pernikahan
bathin sebagai berikut:

… Naiya bunge sitako makkunraimmu tapakkoro’ko riyolo/Mupakkitai mata atimmu ita alemu Alepu/Muita lapaleng Baaku makkunraimmu/Muinappa kkarawai limanna makkedae muberesellenggi/Assalamu alaikum aku y-Ali makkarawa Fathimah rikarawa/Narekko muwarekkenni limanna sahadae powadani/Asyadu ilaaha Allaa illaahu wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah/Nakkedana atimmu Ajiberaele panikaka Muhamma walliya Uwallie sabbiya pangelorenna Alla Taala Kumpayakung/Muinappa ppalani Pabbaummu cule-culemu iyamaneng/Makkonitu tarette’na riasengnge pakena parellu gauku Ali na Patima.

… Jika Anda ingin melakukan hubungan seksual untuk pertama kalinya dengan istri Anda, harus melakukan kontemplasi sebelumnya. Lihatlah bagian dalam diri Anda sebagai Alif dan melihat istri Anda sebagai Ba. Kemudian genggaman tangannya, lalu katakan salam, “Assalamu alaikum, Ali memegang, Fatimah digenggam.” Jika Anda pegang tangan istri Anda, katakan, “Asyhadu Allaa ilaaha illaahu wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah” Katakanlah dalam hatimu, “Malaikat Jibril yang menikahkan saya pada istri saya, Muhammad adalah wali saya, semua orang suci saksi saya untuk kehendak Allah. Kunfayakum (Jadilah, maka jadi-lah). Lalu berikan ciuman kepada istri Anda, termasuk segala macam permainan Anda. Itu adalah aturan wajib milik perilaku Ali dan Fatimah.

Artefak

Arsitektur Masjid Agung/Raya di Sulawesi dahulu kala pada umumnya memiliki dua pintu utama dengan dua belas Jendela. Sebagaimana sebelumnya bahwa angka 12 jumlah jendela masjid tidak mungkin hadir begitu saja kalau sekirannya tak ada pengertian dan pemahaman tertentu tentangnya. Angka 12 itu punya makna khusus dalam arsitektur bangunan masjid. Dua gerbang utama berarti dua pintu keselamatan. Menurut ajaran Syiah, sebagaimana Sayyid Jamaluddin Husein al-Kubra percaya bahwa Nabi Muhammad berkata, “Sesungguhnya Aku meninggalkan dua hal yang berharga (thaqalayn)di antara kamu: Kitab Allah dan keluarga Saya (Ahl al-Bayt-ku), kedua tidak akan pernah terpisah sampai mereka kembali kepada saya di telaga al-Kausar pada hari kiamat (Hadist-Tsaqalain).”

Sementara arti dari 12 jendela juga didasarkan pada sabda Nabi Muhammad. Dikisahkan Jabir bin Samurra: Saya mendengar Muhammad berkata, «Akan ada dua belas penguasa Muslim.» Dia kemudian berkata, “Saya tidak mendengar.” Ayahku berkata, “Semua mereka (orang-orang penguasa) dari Quraisy.” Itulah sebabnya kami percaya bahwa Nabi tidak hanya menunjuk penggantinya bahkan menyebut nama semua imam berikutnya. Ada sejumlah hadist yang menetapkan 12 nama Imam yang pertama Ali bin Abu Thalib dan yang terakhir yang dijanjikan Mahdi.

Dalam hadist tertentu lainnya nama semua 12 khalifah telah tegas disebutkan, yaitu:

(1)  Amir Imam Ali al-Mu’minin;
(2) Imam Hasan;
(3) Imam Husein,
(4) Imam Zain al-Abidin;
(5) Imam Muhammad al-Baqir;
(6) Imam Ja’far as-Shadiq;
(7) Imam Musa Al-Kazim;
(8) Imam Ali ar-Reza;
(9) Imam Muhammad at-Taqi;
(10) Imam Ali an-Naqi;
(11) Imam Hasan al-Askari;
(12) Imam Muhammad al-Mahdi.

Kesimpulan

Asimilasi budaya Syiah Persia dengan suku-suku di Sulawesi tidak bisa disangkal. Ada banyak bukti yang menunjukkan ketegasan pengaruh itu. Di antaranya bisa melalui pintu tasawwuf, filsafat, tradisi, dan budaya agama seperti; Maulid, Asyura, Barazanji dan sebagainya. Sepanjang pembahasan, kita dapat membuat kesimpulan bahwa budaya Islam pertama yang datang di Sulawesi adalah budaya Syiah Persia dibanding warna Islam lainnya seperti Arab atau Gujarat. Hal ini dapat ditandai dengan kedatangan ulama besar Persia di Sulawesi yaitu Sayyid Jamaludin Huseinal-Kubra, sekitar 300 tahun lebih awal dari Datuk Ribandang, Datuk Patimang, dan Datuk Ditiro yang disebut sebagai penyebar Islam di Sulawesi Selatan. Metode yang digunakan oleh Sayyid Jamaluddin Husein al-Kubra memperkenalkan budaya atau ajaran Syiah Persia pada masyarakat dan suku-suku di Sulawesi adalah mengembangkan budaya lokal dengan menyisipkan sebuah keyakinan baru berupa keyakinan tauhid yang lebih baik dan lebih mencerahkan serta perilaku atau upacara keagamaan yang dapat menjadi alat untuk mengenal keyakinan tauhid itu.

Dikutip dari tulisan Supratman dalam buku  Sejarah dan Kebudayaan Syiah di Asia Tenggara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top