Wednesday , July 8 2020
Breaking News
Jejak Persia di Nusantara; Interplay antara Agama dan Budaya [3/3]

Jejak Persia di Nusantara; Interplay antara Agama dan Budaya [3/3]

Pengaruh Persia dalam Budaya

Pengaruh Persia dalam Budaya Melayu, khususnya Aceh, antara  lain, dapat diduga sebagai berikut ini:

Pembahasan sebelumnya Jejak Persia di Nusantara; Interplay antara Agama dan Budaya [2/3]

  1. Pemakaian huruf P, G dan C (tj) dalam tulisan Jawi
    Ketika alphabet atau abjad Melayu diperkenalkan, maka kita tidak mewarisi dari Hindi, yang mirip tulisan Jawa, juga bukan tulisan Arab murni. Benar abjad kita datangnya dari huruf Arab, tapi yang sudah termodifi kasi lewat abjad Persia. Persia sudah lama memakai abjad Arab modifi kasi tersebut. Yaitu adanya huruf P (Jawi pakai huruf fa pakai tiga titik, sedangkan abjad Persia memakai huruf ba dengan tiga titik bawah, پ), huruf G (kaf titik atas, sedangkan Persia pakai kaf dengan garis miring di atas, گ), dan C (huruf jim tiga titik, چ). Ketiga huruf abjad itu tidak terdapat dalam alphabet bahasa Arab. Makanya dalam hal ini sangat mungkin datang dari Persia.
  2. Istilah-istilah dalam bahasa dan sya’ir
    Beberapa istilah bahasa seperti “bandar”, “dewan”, “syah” dan lain-lain, bahkan kata “fi rdaus” pun dipahami sebagai berasal dari Persia, yang kemudian diadopsi ke dalam Bahasa Arab. Kata “syah” sebenarnya juga terdapat dalam bahasa Arab, tetapi jarang dipakai karena ia dekat dengan syatun, yang berarti “kambing betina” (konotasi negatif). Kalau disukunkan baris akhir akan dapat dibaca “syah” juga. Di Persia “syah” itu bermakna “raja” secara meyakinkan. Makanya, kata syah itu jadi nyaman dipakai tanpa ada konotasi lain. Sebagai contoh, ada nama orang Aceh seperti Daud Syah, Kaoy Syah, Muhammad Syah, Hasan Syah, dan sebagainya. Dalam bahasa sya’ir juga dipakai kata “syah” seperti “Amma ba’du Syahi Alam.” Syahi sama dengan syah, artinya di sya’ir ini sebagai “Raja Dunia”.
  3. Kisah-kisah rakyat
    Kisah Putro Bungsu, Malem Diwa, Kulam Ru dan sejenisnya itu semua dipahami datangnya dari Persia, bukan India, apalagi dari Arab. Dalam sastra klasik Persia dikenal dengan salah satu dongeng yang mengisahkan tentang sang putri yang mandi dalam sebuah kolam di suatu tempat yang jauh dari istana yang dikelilingi oleh dayang-dayang sebanyak tujuh orang. Kemudian ada pemuda (kemungkinan anak raja) yang mengintip dan ingin mencuri baju putri, yang dengan baju itu sang putri dapat terbang lagi kembali ke istananya. Cerita yang ada di Aceh itu skenarionya sangat mirip dengan yang di Persia, nampaknya, cuma lokasi setting yang berbeda.
  4. Tokoh-tokok ulama seperti Fatahillah dan Hamzah Fanshuri dianggap datang dari Persia
    Ada beberapa indikasi berkaitan dengan hal ini. Misalnya penyebutan kata Persia beberapa kali dalam tulisan Hamzah Fanshuri. Ada ungkapan Hamzah yang berbunyi dengan “mendapatkan wujud di Syahr Nw” (nun dan waw: ن dan .و ) Syahr = kota atau kuta. Nun dan waw sering dibaca dengan “Nawi”. Dalam Bahasa Persia, ada kata nu yang berarti baru. Syahr Nu artinya “Kota Baru”. Nah, di mana tempat yang dikatakan Kota Baru itu di mana Hamzah mendapat “wujud” yang artinya kira-kira “bertemu dengan Tuhan,” yang kemudian dipahami sebagai Wahdat al-Wujud. Sangat mungkin tempat itu berada di Aceh, atau bahkan dekat dengan Banda Aceh di mana Hamzah bertempat tinggal.Menariknya, nama tempat diungkapkan oleh Hamzah dalam Bahasa Persia. Berkaitan dengan Fatahillah, atau Fathullah, atau kemudian Falatehan (dalam Bahasa Portugis), dipahami sebagai berasal dari Persia. Beliau kemudian dikenal sebagai ulama yang sangat berperan di Kerajaan Samudera Pase sebelum penyerbuan Portugis kesana. Bahasa Melayu sejauh ini juga dipahami sebagai berasal dari Bahasa Pase. Berkaitan dengan kehadiran dan peran orang dari Persia (dan orang asing lainnya) di Pase, juga diungkapkan oleh Ibnu Battutah dalam masa singgahnya di sana. [Ini terjadi sekitar tahun 1340, saat Sulthan Malik al-Zhahir menjadi raja. Nama dua orang asal Persia itu dikenal dengan qadhi Amir Sayyid al-Syirazi, dan faqih Tajuddin al-Isfahani. Dari gelar yang dimiliki nampaknya mereka itu berperan di Kerajaan. Lihat Feener, Memetakan
    Masa Lalu Aceh,hlm. 24-25]
  5. Budaya keilmuan
    Di antara negeri Muslim yang paling dianggap sebagai pencinta ilmu adalah bangsa Persia. Hampir semua kota di Persia terdapat pusat-pusat kajian, terutama kajian Islam, filsafat dan sejenisnya. Tradisi keilmuan ini masih terpelihara sampai sekarang. Ketika dulu Aceh dikenal sebagai center of excellence, sangat mungkin diilhami oleh budayaPersia yang kuat tentang itu. Lebih-lebih lagi, ketika melihat catatan sejarah, sebenarnya lebih banyak sarjana besar Muslim yang berasal dari Persia, termasuk Imam al-Ghazali, Ibnu Sina, dan lain-lain dibandingkan dengan jumlah dari negeri-negeri Muslim yang lainnya.

Kesimpulan

Ada beberapa hal yang dapat disimpulkan dari uraian di atas, bahwa:

Hubungan antara Nusantara, khususnya Aceh, dengan Persia sudah berjalan sangat lama. Bahkan mungkin telah berlangsung lebih dahulu dari hubungan atau kontak dengan Semenanjung Arabia. Alasannya sederhana, bahwa Persia lebih dekat dengan Nusantara dibanding Arabia. Kemajuan ilmu pengetahuan, termasuk pelayaran, tentunya, lebih dulu dimulai di Persia. Persia juga dikelilingi dua sisi laut di bagian Selatan dan Barat negeri itu.

Hubungan dua arah ini telah berdampak pada dua aspek perilaku: keberagamaan dan kebudayaan. Tidak dapat dipungkiri bahwa kedua aspek tersebut, sedikit atau banyak, telah diwarisi dari Persia.

Dalam hal beragama, walaupun masyarakat Nusantara umumnya menganut fiqh Syafi ’i dan teologi Asy’ariyah, tetapi dalam beberapa hal, sadar atau tidak, banyak perilaku Muslim Persia yang terwariskan. Memuliakan Ahl al-Bayt adalah di antara yang paling kelihatan nyata. Dengan sikap ini, maka muncullah beberapa perilaku dan praktek seperti yang telah diuraikan di atas.

Dalam hal berbudaya juga tidak kurang, dari abjad, nama orang sampai beberapa kosa kata, diambil dari Persia. Sayangnya, dalam abad-abat terakhir ini, hubungan yang sudah ada itu seolah terlupakan, baik dalam bentuk hubungan budaya, dagang, apalagi politik dan keberagamaan.

Apa yang diungkapkan di atas adalah masa lalu, di mana dampaknya masih terasa sampai kini. Karena itu, usaha kita masa depan sebaiknya ditujukan pada pencapaian tujuan bersama yang saling memberi manfaat. Dengan berkembangnya arus komunikasi dan globalisasi, maka hubungan antara Nusantara, Indonesia, khususnya Aceh, dibangkitkan kembali dalam hal-hal yang menguntungkan kedua belah pihak: dagang/investasi, budaya, pendidikan/ ilmu pengetahuan, dan bahkan hubungan berkaitan dengan keagamaan.

Kalau ini terjadi, maka Nusantara dan Persia/Iran mampu muncul menjadi satu kekuatan di belahan bumi, menjadi penyeimbang dalam percaturan globalisasi yang kian menggelora.[]

Dikutip dari tulisan Yusni Saby dalam buku Sejarah dan Budaya Syiah di Asia Tenggara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top