Wednesday , January 22 2020
Breaking News
Jumlah Nabi, Penerus Mereka, Serta Makna Nabi, Rasul, Dan Jumlah Kitab Wahyu [2]

Jumlah Nabi, Penerus Mereka, Serta Makna Nabi, Rasul, Dan Jumlah Kitab Wahyu [2]

sebelumnya Jumlah Nabi, Penerus Mereka, serta Makna Nabi, Rasul, dan Jumlah Kitab Wahyu [1]

Dari rantai perawi yang terpercaya, disampaikan bahwa seorang ateis menemui Imam Ali ibn Abi Thalib. Ia memintanya menjelaskan beberapa ayat Alquran. Setelah memperoleh penjelasan, ia masuk Islam. Salah satu pertanyaannya berkenaan dengan tafsir ayat dari surah asy-Syura ayat 51

Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

Sebenarnya, orang itu memperoleh kesan bahwa ada pertentangan antara ayat ini dengan ayat-ayat yang berisi firman Allah kepada Musa, Adam, Hawa, dan lain-lain. Imam Ali menjelaskan bahwa ayat itu menyatakan Allah tidak pernah berbicara dengan siapa pun sejak dulu hingga kapan pun kecuali melalui wahyu, atau ilham, atau dalam mimpi, atau melalui suara yang bisa didengar tanpa terlihat sumbemya, seperti orang yang berbicara dari balik tirai. Allah juga mcnurunkan malaikat dan wahyu secara langsung kepada insan tertentu. Memang, utusan langit adalah pembawa pesan ilahiah kepada pembawa pesan dunia. Kadang-kadang ada percakapan langsung antara Yang Mahakuasa dcngan nabi di bumi.

Misalnya, Rasulullah bcrtanya kcpada malaikat Jibril, dari mana ia memperoleh wahyu. “Dari Israfil,” jawabnya. Rasulullah bertanya lagi, “Dari mana Israfil mcndapatkannya?” Jibril menjawab, “Dari malaikat yang lebih tinggi lagi kedudukannya.” Ketika Rasulullah bertanya tentang sumber wahyu yang diterima malaikat itu, Jibril mcnjawab bahwa Yang Mahakuasa memberikan ilham kepadanya sccara langsung.

Dengan demikian, inilah pembicaraan Allah. Jelas bukan satu-satunya jenis pembicaraan. Karena kadang-kadang Allah berbicara pada para nabi, yang sebagiannya memperoleh ilham secara langsung. Nabi-nabi mendapatkan wahyu dalam mimpi. Jenis pembicaraan Allah lainnya ditampakkan oleh Allah dan manusia menyuarakannya. Jenis lainnya adalah melalui malaikat ke nabi di bumi.

Sang penanya merasa puas mendengar jawaban yang terperinci. “Wahai Amirul Mukminin,” katanya, “kau telah menguraikan simpul dalam hatiku. Semoga Allah membalasmu dengan pahala.

Dalam sebuah hadis terpercaya, diriwayatkan bahwa Imam Muhammad Baqir mengatakan, malaikat Jibril menggambarkan kepada Rasulullah bahwa Israfil adalah pembantu Yang Mahakuasa dan yang paling dekat dengan-Nya. “Dan Lauh yang terbuat dari batu rubi ditempatkan di antara kedua matanya. Ketika Yang Mahakuasa menyampaikan wahyu, Lauh pada dahi itu menyimpan kata-kata. Israfil melihat Lauh dan membaca apa pun yang tertulis di sana. Kami menyampaikan pesan ke langit dan bumi, kemudian menerapkannya. Ia adalah makhluk yang paling dekat dengan Allah. Ada sembilan puluh tabir cahaya yang memisahkannya dengan Allah. Cahayanya menyilaukan mata dan menggambarkan sifatnya adalah sesuatu yang mustahil. Di antara seluruh makhluk, akulah yang paling dekat dengan Israfil. (Namun) Jarak yang memisahkan kami tidak kurang dari seribu tahun perjalanan.”[1]

Zurarah bertanya kepada Imam Ja’far Shadiq tentang cara Rasulullah mengetahui bahwa wahyu yang diperolehnya adalah berasal dari Allah, bukan dari setan. Imam menjawab, “Ketika Allah mengangkat seseorang sebagai nabi, Dia menganugerahkan kemuliaan dan kehormatan kepadanya. Karena itu, apa pun yang disampaikan kepadanya akan begitu jelas, seakan-akan ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri.”

Dari sebuah hadis tepercaya, dikutip bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah tentang cara para nabi mengetahui bahwa mereka adalah nabi. Beliau menjawab, “Tabir diangkat dari hati mereka.” Maksudnya, mereka diciptakan sebagai insan dengan iman yang sempurna. Mereka tidak menyimpan keraguan apa pun.

Dalam sebuah hadis yang autentik, Imam Ridha mcngatakan bahwa mimpi para nabi adalah wahyu. Dalam scbuah doa nisfu Sya’ban yang diriwayatkan Ummu Daud dari Imam Ja’far Shadiq, terdapat nama beberapa nabi. Imam mengatakan, “Semoga Allah merahmati Habil, Syith, Idris, Nuh, Hud, Shaleh, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Al-Asbaat (pemimpin Bani Israil), Luth, Syu’aib, Ayub, Musa, Harun, Yusha’, Mitha, Al-Khidhr, Dzulkarnain, Yunus, Ilyas, Al-Yasa’, Dzulkifli, Talut, Daud, Sulaiman, Zakariya, Shayda, Yahya, Turakh, Matti, Meya, Haiquq, Denial, Uzair, Isa, Shamoun, Jirjis, dan hawariyin (para murid), Atba, Khlaid, Hanzalah, dan Lukman.”

Dalam sebuah hadis autentik, Mufadhdhal bertanya kepada Imam Ja’far Shadiq tentang bagaimana beliau mengetahui segala kejadian di seluruh pelosok bumi sementara beliau tetap di rumah dan tirai menutupi pintunya. Imam berkata, “Wahai Mufadhdhal, Allah YangvMahakuasa mengaruniai lima ruh kepada para nabi.

  1. Ruh kehidupan yang dengannya mereka bergerak dan berjalan.
  2. Ruh hati yang dengannya mereka berdiri dan berjihad.
  3. Ruh Shahur yang dengannya mereka makan, minum, dan berhubungan dengan wanita.
  4. Ruh keyakinan yang dengannya mereka beriman dan bersikap adil.
  5. Ruh suci yang dcngan nya mercka menyandang posisi kenabian.

“Ketika seorang nabi wafat, ruh sucinya berpindah ke Imam yang melanjutkannya. Ruh ini tidak ada sangkut-pautnya dengan tidur, kesembronoan, menyia-nyiakan waktu, atau kesombongan. Sedangkan keempat ruh lainnya terkadang cenderung pada tidur dan ketidakpedulian. Ruh-ruh itu terkadang bcrhubungan pula dengan kesia-siaan dan kesombongan. Para nabi dan imam melihat melalui ruh suci dan mengetahui berbagai kejadian.”

Berdasarkan riwayat yang terpercaya, Imam Muhammad Baqir berkata bahwa Allah Yang Mahakuasa mengambil sumpah Adam untuk tidak mendekati pohon terlarang. Tetapi ia mendekatinya juga dan mencicipi buahnya, sebagaimana yang tertuang dalam firman Allah,

Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. [QS. Thaha: 115]

Ketika Allah mengutus Adam ke bumi, lahirlah anak kembarnya, Habil dan saudara perempuannya. Kemudian lahir anak kembar lainnya, Qabil dan saudara pcrempuannya. Adam memerintahkan kedua putranya berkurban untuk Yang Mahakuasa. Habil memiliki sekawanan domba, sementara Qabil bercocok tanam. Habil mengorbankan domba jantan terbaiknya. Di lain pihak, Qabil yang tidak terlalu cakap bekerja, menawarkan beberapa tongkol jagung dan hasil panen lain yang kualitasnya buruk. Akibatnya, hanya persembahan Habil-lah yang diterima. Alquran menyebutkan,

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. [QS. al-Maidah: 27]

Pada masa itu, setiap kali suatu persembahan diterima Allah, biasanya akan tampaklah api yang melahap persembahan itu. Maka, Qabil membuat perapian dan dialah orang pertama yang membuat tempat pcmbakaran. Qabil berkata, “Aku akan memuja api supaya ia menerima persembahanku.” Setan, musuh Allah, telah memberitahu Qabil bahwa persembahan Habil diterima, sedangkan persembahannya tidak. “Jika kau membiarkan saudaramu tetap hidup, ia akan melahirkan anak-anak yang kelak membanggakan diri terhadap anak-anakmu karena saudaramu itu lebih unggul darimu.” Termakan bujukan, Qabil membunuh saudaranya. Kemudian ia menemui Adam. Ketika sang ayah menanyakan keberadaan Habil, ia menjawab, “Aku tidak tahu, kau tidak memercayakannya kepadaku.”

Setelah Adam mcngetahui bahwa Habil telah dibunuh, ia berseru, “Wahai bumi, terkutuklah kau! Karena kau telah menerima darah Habil.” Adam terus menangis selama empat puluh hari dan berdoa supaya Allah menganugerahkannya seorang putra lagi. Doanya dikabulkan dan lahirlah sang putra yang diberi nama Haibatullah, karena ia adalah hadiah (hibah) dari Allah. Adam sangat menyayangi putranya ini. Setelah Adam berusia lanjut dan kenabiannya hampir berakhir, Allah mewahyukannya untuk menyerahkan pengetahuan dan warisan kenabiannya kepada Haibatullah.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami tidak akan mencabut warisan dan ilmu kenabian dari keturunan Haibatullah hingga Hari Hisab. Aku tidak akan membiarkan bumi kosong dari ulama keturunannya. Umat manusia akan mengambil pengetahuan agama dan bimbingan spiritual melalui ulama ini. Siapa pun yang mematuhi Nuh atau dirinya, pasti akan terbebaskan.”

Pada momen itu, Adam diingatkan tentang kedatangan Nuh. Ia berkata, “Allah akan mengutus seorang nabi yang akan menyeru umat manusia kepada-Nya. Manusia akan menolaknya dan Allah akan mcmbinasakan mercka melalui bcncana banjir.” Antara Adam dan Nuh terbentang jarak sepuluh generasi. Semua leluhur Nuh adalah nabi. Adam mewariskan kepada Haibatullah dan berpesan bahwa siapa pun yang bertemu dengan Nuh, maka ia harus beriman kepadanya dan mcmatuhinya supaya selamat dari petaka.

Menjelang ajalnya, Adam memanggil Haibatullah dan memintanya menyampaikan salam kepada malaikat Jibril atau malaikat lainnya jika ia bertemu dengan mereka. “Katakan bahwa ayahmu meminta buah dari surga.” Haibatullah bertemu dengan malaikat Jibril dan menyampaikan pesan itu. Jibril bcrkata, “Wahai Haibatullah, ayahmu telah pergi untuk bertemu Sang Pencipta dan aku datang untuk melakukan salat jenazah baginya.”

Ketika Haibatullah pulang, ia mendapati ayahnya telah meninggal dunia. Malaikat Jibril mengajarkan cara memandikan jenazah kepadanya. Haibatullah memandikan Adam dan ketika tiba waktunya untuk menunaikan salat jcnazah, Haibatullah meminta Jibril untuk memimpin salat. Jibril bcrkata, “Karena Allah telah memerintahkan kami untuk bersujud kepada Adam, tidaklah patut kami memimpin putra-putranya.” Maka Haibatullah mengambil posisi di depan dan memimpin salat jenazah. Jibril dan sekélompok malaikat lainnya berdiri di belakangnya dan membaca takbir tiga puluh kali.”

Kemudian Allah memerintahkannya untuk mengurangi takbir hingga menjadi dua puluh lima kali bagi kcturunan Adam. Selanjutnya, kita melakukan lima kali takbir, meskipun Rasulullah membaca tujuh dan sembilan takbir bagi para syuhada perang Badr.

Ketika Haibatullah menguburkan ayahnya, Qabil mendekatinya dan berkata, “Aku tahu, ayahku percaya kepadamu, dan beliau memercayakan pengetahuan yang dirahasiakannya dariku. Dan pengetahuan itulah yang dimohonkan Habil dalam doanya dan membuat persembahannya diterima. Aku membunuhnya supaya ia tidak memiliki keturunan yang kelak membanggakan diri di hadapan keturunanku. Jika kau tidak memberikan sedikit pengetahuan yang diwariskan oleh ayah kita itu, aku pun akan membunuhmu.”

Karena itulah, Haibatullah dan putra-putranya menjaga pengetahuan dan warisan kenabian itu rapat-rapat hingga masa Nuh. Selama masa Nuh, wasiat Adam diperlihatkan kepada umat manusia. Isinya adalah nubuat Adam tentang kemunculan Nuh. Umat pun meyakini Nuh, bersaksi akan kebenaran klaimnya, dan mematuhinya.

Selain itu, Adam memerintahkan Haibatullah membaca wasiatnya di setiap awal tahun dan memperbarui sumpah mereka. Hari istimewa itu menjadi hari raya mereka. Ritual ini terus dijalankan dari tahun ke tahun. Setiap nabi penerus menyampaikan pewarisan ini hingga kcdatangan Nabi Muhammad. Umat manusia mengenal Nuh melalui pengetahuan sebelumnya dan inilah makna dari sebuah ayat,

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya”. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). [QS. al-A’raf: 59]

bersambung…

Catatan Kaki

  1. Hijab dalam riwayat ini adalah hijab spiritual-sesuatu yang menabiri Isram dari hakikat sejati Yang Mahakuasa. Bisa juga berartijarak yang sangat jauh antara Israfll dan Arsy, tempat wahyu berasal. Seperti yang disebutkan dalam riwayat lain, ada dua pendapat GKStrem mengenai Lawh aI-Mahfuz. Salah satunya mengatakan tempatnya diArsy, yang lainnya berpendapat pada dahi lsrafll. Ketika Allah berflrman melalui wahyu, Lawh tersebut menyentuh dahi lsrafll dan ia menatap Lawh tersebut dan menyampaikan segala yang dilihatnya kepada malaikat Jibril.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top