Wednesday , June 3 2020
Breaking News
Kapita Selekta Mozaik Islam: Sikapi Kemajemukan dengan Kasih Sayang

Kapita Selekta Mozaik Islam: Sikapi Kemajemukan dengan Kasih Sayang

“Dosa membiarkan hidup seribu orang kafir adalah lebih ringan dibandingkan dengan dosa menumpahkan beberapa tetes darah seorang Muslim.”

Kutipan dari Imam Ghazali di atas disampaikan oleh Prof. Dr. Umar Shihab dalam sambutan peluncuran bukunya yang berjudul Kapita Selekta Mozaik Islam pada Jumat (17/10) di Hotel Sari Pan Pasifik, Jakarta.

Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh Islam Indonesia seperti Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudin, Ketua MUI Dien Syamsudin, mantan Wakil Presdien Tri Sutrisno, Quraish Shihab dan masih banyak lagi tokoh nasional lainnya.

Kutipan di atas sengaja diambil sesuai kondisi memprihatinkan umat Islam Indonesia saat ini yang dengan mudahnya mengkafirkan dan menyesatkan golongan-golongan tertentu yang berbeda pendapat. Padahal bagi Umar Shihab, pengkafiran dan penyesatan itu adalah masalah serius yang perlu dikaji secara mendalam dan tidak main-main.

Masih banyaknya kelompok-kelompok tertentu yang apriori menolak kelompok-kelompok lain menurut Umar Shihab dapat menyebabkan perpecahan di antara umat Islam. Padahal akar masalah perbedaannya hanyalah sedikit, namun terus dibesar-besarkan. Menurut Umar Shihab, hal itu mungkin saja dipengaruhi urusan politik sehingga memecah belah umat Islam.

“Masalah perbedaan  yang sedikit sekali bisa dibesar-besarkan dan mungkin karena pengaruh politik sehingga kita terbius. Dan terpecah-pecahlah kita,” terang Umar Shihab.

Sementara itu, Dr. Dien Syamsudin, selaku Ketua Umum MUI Pusat dalam sambutannya mengatakan bahwa masalah kemajemukan sesungguhnya adalah sunnatullah oleh karena itu banyak ayat suci yang menegaskan bahwa Allah menciptakan semua yang ada di alam semesta ini dalam keragaman. Ditekankan pula bahwa keragaman merupakan sebuah keniscayaan di tengah umat manusia. Hal yang sebenarnya mudah dipahami, terutama bagi orang-orang yang berakal.

Dien juga mengakui bahwa akhir-akhir ini fenomena gerakan takfirisme di dunia Islam semakin gencar. Hal ini mungkin dikarenakan Islam memiliki kriteria yang sangat ketat dalam hal keyakinan keagamaan dibandingkan dengan agama lain. Namun bagi Dien, seseorang yang disebut Muslim atau beragama Islam cukup dengan berlandaskan syahadatain yaitu beriman kepada ke-Esa-an Allah dan Nabi Muhammad sebagai Rasul terakhir.

Dalam menghadapi fenomena penyesatan dan pengkafiran ini, Dien menegaskan bahwa umat Islam harus bersama-sama melakukan dialog antar sesama mereka.

Secara terus terang Dien menegaskan bahwa persoalan Sunni-Syiah merupakan persoalan terbesar dunia Islam saat ini. Padahal menurutnya perbedaan antara Sunni dan Syiah hanyalah perbedaan terhadap beda penafsiran atas beberapa hadis ataupun ayat Al-Quran saja.

Problematika terkait Sunni-Syiah bagi Dien tak lebih dari dinamika perkembangan politik pasca Rasulullan SAW sehingga itu adalah produk sejarah yang tidak murni mengacu pada persoalan dasar agama. Bahkan tidak sedikit dalam perkembangannya, dalam perbedaan itu terdapat pengaruh faktor politik yang kemudian ditarik ke teologi seolah-olah menjadi perbedaan teologis.

“Padahal pada pangkalnya adalah perbedaan politik, kalau ini kita sikapi secara jernih, tenang dan sedikit santai maka kita mungkin bisa berlapang dada,” terang Dien.

Maka Dien mendorong adanya upaya dialog guna mencari titik temu di antara keduanya dan hal ini diakuinya sebagai sebuah perjuangan besar, sebuah jihad yang harus senantiasa dilakukan.

Untuk itulah Majelis Ulama Indonesia berharap bisa menjadi tenda besar bagi seluruh kekuatan umat Islam yang ada di Indonesia sehingga semua pihak dapat merasa nyaman berada di dalamnya.

Sebagai pembicara ketiga, Menag Lukman menegaskan hal yang sama dengan Dien bahwa perbedaan pemikiran dan paham keagamaan perlu sering didialogkan sebab dengan dialog semua akan lebih memahami titik temu persamaan dan bisa lebih mendekatkan titik-titik perbedaan. Hingga pada akhirnya akan menjadikan umat Islam lebih dewasa dan semakin matang dalam menyikapi perbedaan.

Menag juga menegaskan bahwa seorang Muslim wajib menempatkan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai standar kebenaran di atas segala ijtihad dan hasil pemikiran manusia.
Lukman mengingatkan bahwa setiap ijtihad ulama masih tetap mengandung kemungkinan untuk keliru sebagaimana ijtihad yang dipandang keliru tetap mengandung kemungkinan untuk benar.

“Pandangan moderat semacam itu akan melahirkan sikap tawaduk dan tidak merasa paling benar sendiri,” jelas Menag.

Dien dan Lukman sepakat bahwa buku Kapita Selekta Mozaik Islam karya Umar Shihab akan membawa nuansa pencerahan dan mengajak umat Islam untuk bersikap moderat dan tidak fanatik buta pada mazhab tertentu sehingga menghindarkan umat Islam dari perpecahan.

Dalam menggalang upaya Ukhuwah Islamiyah, pesan kemajemukan dan keragaman yang ada dalam buku itu juga menuntun umat Islam untuk menyikapi kemajemukan  dengan penuh kasih sayang.  (Lutfi/Yudhi)

Sambutan Ketua Umum Majelis Ulama IndonesiaDien Syamsudin : Ana La Syi’i, La Sunni, Bal Islami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top