Monday , June 17 2019
Breaking News
Karomah Sunan Kudus, Panglima Para Wali

Karomah Sunan Kudus, Panglima Para Wali

Nama Sunan Kudus begitu melegenda bagi warga muslim Nusantara, khususnya di tanah Jawa di samping Sunan Kalijaga. Itu karena banyak cerita mengenai karomah, kesaktian dan keistimewaan dari Sunan Kudus. Salah satunya adalah menjadi Panglima atau Senapati Kerajaan Demak Bintoro. Sebagai Senopati Kerajaan Demak, Sunan Kudus mampu menunjukkan kepiawaiannya di medan perang.

Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan Syarifah Ruhil atau Dewi Ruhil yang bergelar Nyai Anom Manyuran binti Nyai Ageng Melaka binti Sunan Ampel. Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad SAW. Dalam perjalanan hidupnya, Sunan Kudus banyak berguru kepada Sunan Kalijaga. Cara berdakwahnya pun sejalan dengan pendekatan dakwah Sunan Kalijaga yang menekankan kearifan lokal dengan mengapresiasi terhadap budaya setempat.

Sunan Ngudung adalah putra Sultan di Palestina yang bernama Sayyid Fadhal Ali Murtazha (Raja Pandita/Raden Santri) yang berhijrah fi sabilillah hingga ke Jawa dan sampailah di Kesultanan Islam Demak dan diangkat menjadi Panglima Perang. Namun ayah Sunan Kudus gugur saat memimpin pertempuran dengan Kerajaan Majapahit. Lalu oleh Sultan Trenggana, Sunan Kudus diperintahkan untuk menyerang Majapahit. Lalu berkat kepiawaiannya Sunan Kudus berhasil memimpin pasukan Kesultanan Demak mengalahkan Kerajaan Majapahit.

Setelah itu Sunan Kudus juga diminta mendatangi kerajaan kecil yang dipimpin Raja Pengging, di kaki Gunung Merapi. Sunan Kudus pun berhasil menaklukan Pengging. Selanjutnya Sultan Trenggana meminta Sunan Kudus untuk memimpin pasukan untuk mengembangkan wilayah Kerajaan Demak ke arah timur hingga mencapai Madura dan arah Barat hingga Cirebon.

Sunan Kudus diberikan Badong semacam rompi, yang mana rompi tersebut dapat mengeluarkan jutaan tikus yang bila dipukul, tikus tersebut tidak mati bahkan semakin mengamuk yang membuat pasukan Majapahit ketakutan lari tunggang langgang.

Kesuksesannya mengalahkan Majapahit membuat posisi Sunan Kudus semakin kuat. Lalu ia meninggalkan Demak, kemudian pergi menuju Kudus. Namun kedatangannya di Kudus tidak jelas. Ketika ia menginjakkan kaki di Kudus, kota tersebut masih bernama Tajug. Konon orang yang mula-mula mengembangkan Islam sebelum kedatangan Sunan Kudus adalah Kiai Telingsing.

Awalnya Sunan Kudus hidup di tengah jamaah dalam kelompok kecil, itu pun merupakan bala tentaranya yang dibawa menuju Tajug. Lambat laun jamaahnya pun semakin banyak sehingga ia mendirikan sebuah Masjid sebagai tempat ibadah dan untuk penyebaran agama. Tempat ibadah yang diyakini dibangun oleh Ja’far Sodiq alias Sunan Kudus adalah Menara masjid Kudus yang masih berdiri hingga sekarang.

Kota Tajug pun mendapat nama baru yaitu “Quds”, yang kemudian berubah menjadi Kudus. Gaya penyebaran agama Islam Sunan Kudus mengikuti gaya Sunan Kalijaga, yaitu menggunakan “Tutwuri Handayani”. Artinya Sunan Kudus tidak melakukan perlawanan keras, melainkan mengarahkan masyarakat secara perlahan. Cara berdakwahnya pun mengikuti gaya Sunan Kalijaga yaitu, menoleransi budaya setempat, bahkan cara penyampaiannya lebih halus, itu sebabnya para wali menunjuk dirinya untuk berdakwah di Kota Kudus.

Dalam hal adat istiadat, Sunan Kudus tidak langsung menentang masyarakat yang melenceng dari ajaran agama Islam secara keras. Ia juga mengajarkan bahwa meminta permohonan bukan kepada ruh, melainkan kepada Allah SWT. Melalui caranya yang simpatik tersebut membuat para penganut agama lain mau mendengarkan ceramah Islam dari Sunan Kudus.

Adapun asal usul Kudus ketika Sunan Kudus pergi Haji dan menuntut ilmu di sana, konon masyarakat arab terjangkit wabah penyakit yang membahayakan, dan Sunan Kudus berhasil meredakan wabah tersebut sehingga pejabat setempat ingin memberi hadiah kepadanya. Namun, Sunan Kudus menolak hadiah tersebut dan hanya meminta sebuah batu yang berasal dari Baitul Maqdis atau Jerussalem. Untuk memperingati kota Ja’far Sodiq hidup dan tinggal, kemudian ia memberinya nama Kudus. Bahkan, menara yang terdapat di depan masjid pun dinamai sebagai menara Kudus.

Adapun kebiasaan menarik Sunan Kudus dalam berdakwah adalah selalu mengadakan acara bedug dandangan. Acara ini merupakan kegiatan menunggu bulan Ramadan. Ia menabuh beduk bertalu-talu untuk mengundang jemaah menuju Masjid. (sindonews)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top