Friday , November 15 2019
Breaking News
Keagungan Ahlulbait dalam Peristiwa Mubahalah

Keagungan Ahlulbait dalam Peristiwa Mubahalah

Ada banyak momen penting yang terjadi dalam kalender Islam selama bulan Dzulhijjah dan salah satunya adalah peristiwa mubahalah yang jatuh pada tanggal akhir Zulhijjah. Mubahalah adalah saling melaknat atau saling mendoakan agar laknat Allah Swt ditimpakan kepada kaum zalim dan berdusta tentang kebenaran. Ketika orang-orang terlibat dalam sebuah dialog penting dan gagal mencapai sebuah kesimpulan, maka sebagai jalan terakhir adalah mereka sepakat berkumpul di suatu tempat dan kemudian berdoa kepada Allah agar ditimpakan azab kepada para pendusta.

Baca 24 Dzulhijjah, Peristiwa Mubahalah Nabi Saw

Para pemeluk agama lain dan pemimpin politik dan tokoh aliran kepercayaan menaruh perhatian khusus kepada Islam dan kaum Muslim pasca penaklukan kota Mekkah pada tahun kedelapan Hijriah dan setelah Islam menyebar luas di Jazirah Arab. Mereka juga mulai memfokuskan perhatiannya ke kota Madinah sebagai pusat pemerintahan Islam.

Penaklukan Mekkah membuka ruang untuk penyebaran agama Islam ke berbagai penjuru wilayah Hijaz dan bahkan ke negara-negara lain. Rasulullah Saw memanfaatkan kesempatan itu dengan baik dan melayangkan beberapa pucuk surat serta mengutus para wakilnya untuk menemui pemimpin negara-negara lain.

Rasulullah Saw menyeru mereka untuk memeluk Islam atau secara resmi mengakui pemerintahan Islam dan mematuhi aturan-aturannya. Banyak tokoh tertarik untuk berangkat ke Madinah guna melihat dari dekat pusat pemerintahan Islam dan bertemu dengan pemimpin kaum Muslim.

Sejak tahun kesembilan Hijriah, para delegasi dan suku-suku Arab dari berbagai daerah berbondong-bondong datang ke Madinah untuk menemui Rasulullah Saw. Delegasi kaum Nasrani Najran juga bertolak ke Madinah setelah menerima sepucuk surat dari Nabi Muhammad Saw. Uskup Agung Najran kemudian membentuk sebuah dewan untuk membicarakan perkara tersebut.

Baca Kembali kepada Alquran dan Ahlulbait

Dalam pertemuan itu, salah satu pembesar Nasrani yang terkenal pintar dan bijak berkata,“Kita berkali-kali mendengar dari para ulama kita bahwa suatu hari posisi kenabian akan berpindah dari garis keturunan Ishak kepada anak-anak Ismail dan ada kemungkinan kalau Muhammad adalah salah satu dari keturunan Ismail, yaitu nabi yang dijanjikan.”

Setelah berdiskusi panjang lebar, Dewan Ulama Nasrani kemudian memutuskan untuk mengirim sebuah delegasi ke Madinah guna berdiskusi dari dekat dengan Muhammad Saw dan menyelidiki argumen-argumen kenabian akhir zaman.

Nasrani Najran memiliki dua pertanyaan penting dari Rasulullah. Pertama, Muhammad akan mengajak mereka untuk memeluk ajaran apa? Dan kedua, bagaimana pendapat Muhammad tentang Isa al-Masih? Menjawab pertanyaan pertama, Rasulullah Saw menyeru mereka untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa dan mengenai pertanyaan kedua, beliau berkata, “Isa adalah hamba yang terpilih dan beriman kepada Allah. Ia adalah seorang manusia dan tidak boleh dianggap sebagai anak Tuhan.” Akan tetapi, delegasi Nasrani tetap mempertahankan konsep Trinitas dan menyebut Isa al-Masih sebagai anak Tuhan. Menurut mereka, Isa adalah anak Tuhan karena ia lahir tanpa perantaraan seorang ayah.

Ulama Nasrani kemudian bertanya kepada Rasulullah Saw, “Jika Isa adalah hamba dan makhluk Tuhan, lalu siapa ayahnya? Manusia adalah makhluk dan ia wajib punya ayah.” Pada saat itu, turunlah Malaikat Jibril as untuk menyampaikan ayat 59 surat Ali Imran kepada Rasul.

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, Jadilah (seorang manusia), maka jadilah dia.”

Rasul Saw lalu menjelaskan isi ayat tersebut kepada para pembesar Nasrani. Tetapi, mereka tidak peduli dengan ucapan Nabi Saw dan tetap berpegang pada keyakinannya. Mereka menyatakan tidak puas dengan penjelasan Nabi dan mengaku belum menemukan jawaban atas pertanyaannya.

Setelah itu, turun lagi dua ayat sebagai lanjutan dari ayat sebelumnya kepada Rasulullah Saw. “… Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya), ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”

Istilah mubahalah sudah dikenal luas oleh masyarakat Arab dan para penganut agama langit sebagai sarana untuk membuktikan kebenaran. Rasulullah Saw menyampaikan perkara ini kepada delegasi Nasrani dan mereka menerima tantangan mubahalah.

Pada hari berikutnya, Rasulullah Saw datang ke rumah Ali bin Abi Thalib. Rasul memegang tangan Hasan sambil memangku Husein dan berjalan ke luar kota bersama Ali dan Fatimah as. Ketika menyaksikan mereka, salah satu tokoh Nasrani, Abu Haritsah bertanya kepada kaumnya, “Siapa mereka yang bersama Nabi Saw?” Kaumnya menjawab, “Yang di depan itu anak paman dan suami putrinya serta orang yang paling dicintai olehnya. Dua anak itu adalah putra-putranya dari putrinya dan wanita itu adalah Fatimah, putrinya yang paling dicintai.”

Rasul Saw duduk di atas dua tumitnya ketika memasuki arena mubahalah. Abu Haritsah berkata, “Demi Tuhan, ia duduk sebagaimana para nabi duduk untuk bermubahalah.” Kemudian ia kembali berkata, “Jika Muhammad tidak dalam kebenaran, dia tak akan berani bermubahalah, dan jika ia bermubahalah dengan kita, kurang dari satu tahun, tidak akan ada lagi seorang Nasrani pun yang tersisa di bumi ini.”

Menurut riwayat lain, Abu Haritsah berkata, “Aku menyaksikan wajah-wajah yang jika mereka memohon kepada Tuhan untuk mengangkat sebuah gunung dari tempatnya, maka gunung tersebut akan terangkat. Jadi janganlah bermubahalah. Jika kalian lakukan itu, kalian akan binasa dan tidak ada seorang Nasrani pun yang tersisa di bumi ini.”

Pada dasarnya, peristiwa mubahalah bukan hanya menunjukkan kebenaran dakwah Nabi Muhammad Saw, tapi juga menjelaskan keutamaan khusus orang-orang yang bersama beliau di hadapan semua sahabat dan keluarga besarnya. Peristiwa ini juga menjelaskan kebenaran dan keagungan Ahlulbait as.

Setelah kejadian itu, Abu Haritsah menemui Rasulullah Saw dan kemudian mengucapkan syahadat dan memeluk Islam. Sementara bagi kaum Nasrani yang tetap berpegang pada agamanya, mereka harus membayar jizyah(pajak) dan menandatangani sebuah perjanjian sesuai dengan ketentuan Islam. Nabi Saw lalu memanggil Ali as dan berkata, “Sampaikan kepada mereka syarat-syarat Ahli Dzimmah dan jumlah yang harus mereka bayar.”

Para ahli tafsir dan hadis Syiah dan Sunni menyatakan bahwa ayat mubahalah juga bukti atas kebenaran Ahlulbait Nabi as. Ketika mendatangi arena mubahalah, Rasul Saw hanya membawa putrinya Fatimah az-Zahra as, kedua cucunya Hasan dan Husein as, serta menantunya Ali as. Oleh karena itu, maksud kata “Abnaana” dalam ayat mubahalah hanya terbatas pada Hasan dan Husein as, sementara “Nisaana” hanya tertuju pada Fatimah as, dan kata “Anfusana” hanya terfokus pada Ali.

Singkat kata, peristiwa mubahalah telah memperjelas kebenaran Islam dan keagungan Ahlulbait as kepada semua orang, terutama kaum Nasrani.

Dalam buku doa Mafatih al-Jinan, ada sejumlah amalan khusus yang dilakukan tepat di hari ini antara lain; Mandi, amalan ini menunjukkan usaha untuk membersihkan badan lahiriah dari kotoran dan menandakan kesiapan jiwa untuk berhias dengan doa-doa yang akan dibaca. Berpuasa, amalan ini membuat batin manusia menjadi lebih segar. Dan membaca doa khusus hari Mubahalah yang disebut doa Mubahalah yang agak mirip dengan doa Sahar di bulan Ramadhan. (PT)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top