Monday , September 23 2019
Breaking News
Kebhinekaan vs Pensesatan

Kebhinekaan vs Pensesatan

Indonesia sebagai mozaik budaya, tradisi, bahasa, agama, kepercayaan, suku, dan daerah adalah persembahan dari para kusuma bangsa dari ragam agama, suku dan daerah. Mengingkari itu berarti mengkhianati perjuangan dan jerih payah para founding fathers, dan menafikan jati diri bangsa dan sejarah Indonesia. Selain itu, pemberian wewenang dan posisi pengendalian keyakinan setiap individu rakyat kepada sebuah perkumpulan tertentu yang eksklusif dan terbatas bagi agama dan mazhab tertentu dapat dianggap sebagai menegarakan mazhab dan memazhabkan negara.

Pensesatan Syiah oleh lembaga yang dihormati negara, dan secara de facto diterima sebagai representasi umat Islam Indonesia, bisa menimbulkan sejumlah dampak negatif terhadap para penganut mazhab Syiah di Indonesia dan di seluruh penjuru dunia. Pensesatan Syiah bukan hanya berefek di dalam negeri namun bisa menimbulkan guncangan berskala global dan memicu ketegangan antar negara di dunia Islam. Tentu, sangat kecil kemungkinan para ulama dalam lembaga tersebut tidak mengetahui sejumlah negara berpengaruh di dunia Islam berpenduduk mayoritas Syiah. Hal itu perlu dicermati karena sifat universal keyakinan baik agama maupun aliran tidak dibatasi oleh batas-batas negara. Perlu diketahui, dengan sikap dan pensesatan lembaga yang secara kasat mata mewakili sikap Pemerintah terhadap Syiah, Indonesia bisa dianggap sebagai negara pertama yang menyatakan kesesatan Syiah. Sikap ini juga bisa melengkapi dua akibat fatal yang disebutkan di atas.

Sengaja kata pensesatan digunakan alih-alih penyesatan, pensesatan dimaksudkan sebagai melontarkan tuduhan sesat atas orang lain. Sedangkan penyesatan adalah suatu perbuatan yang dapat menyebabkan orang lain menyimpang dari jalur yang sebenarnya. Menganggap seseorang atau sebuah kelompok sebagai sesat adalah hal mudah yang bisa dilakukan oleh siapa saja baik ulama maupun yang mengaku ulama dan juga awam. Namun persoalannya bukan itu. Persoalan yang diperhatikan adalah kredibilitas dan integritas moral pihak yang menyatakan kesesatan. Hal ini sangat penting demi memastikan bahwa publik tidak malah menjadi korban pembodohan, radikalisasi dan eksploitasi atribut agama.

Adanya tokoh-tokoh toleran dalam MUI patut mendapatkan apresiasi dan dukungan agar segera membersihkan lembaga itu dari unsur intoleransi dan ekstremitas, muncul secercah harapan hadirnya MUI sebagai lembaga dan perhimpunan ulama yang benar-benar menjalankan fungsi pemersatu dan pengayom serta pewaris para nabi yang bebas dari tendensi politik sesaat dan motif bisnis yang sama sekali tidak mencerminkan moralitas dan kewaraan.
Kami yakin akal sehat dan hati nurani setiap manusia di negeri tercinta ini akan mengantarkan kepada sikap adil dan objektif. Selanjutnya kami berserah kepada Allah sebaik-baik Hakim. (Dikutip dari buku “Syiah Menurut Syiah” Tim Penulis Ahlulbait Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top