Wednesday , June 3 2020
Breaking News
Kehidupan Akhirat [2/3]

Kehidupan Akhirat [2/3]

Karakter Hakiki Kematian

Apa kematian itu? Apakah kematian adalah kehancuran, kemusnahan, dan non-eksistensi, ataukah suatu perubahan, perkembangan dan peralihan dari satu dunia ke dunia lain? Inilah pertanyaan yang selalu menarik perhatian manusia. Setiap orang ingin menemukan sendiri jawabannya atau menerima jawaban yang sudah ada. Karena kita ini Muslim, maka kita ingin memberikan jawaban untuk pertanyaan ini dari Alquran, dan kita percaya pada apa yang dikatakan Alquran dalam hal ini.

pembahasan sebelumnya Kehidupan Akhirat [1/3]

Alquran memiliki penjelasannya sendiri mengenai karakter hakiki kematian. Alquran menggunakan kata “tawaffâ dalam kaitan ini. Arti kata ini adalah menerima penuh. Empat belas ayat Alquran menggunakan ungkapan ini. Semua ayat ini menunjukkan bahwa, dari sudut pandang Alquran, arti kematian adalah masuk ke dalam penjagaan. Dengan kata lain, ketika mati manusia memasuki penjagaan otoritas-otoritas ilahiah yang menerimanya tanpa batas. Dari ungkapan ini dapat disimpulkan beberapa poin:

(1) Arti kematian bukanlah kesirnaan dan kemusnahan. Kematian hanyalah peralihan dari satu dunia ke dunia lain, dan dari satu tahap kehidupan ke tahap kehidupan lain. Setelah kematian, kehidupan manusia berlanjut, meski bentuknya berbeda.
(2) Yang membentuk manusia dan dirinya bukanlah tubuhnya serta sistem fisis dan
penunjangnya, yang di dunia ini berangsur-angsur mengalami kerusakan dan kehancuran. Yang sesungguhnya membentuk personalitas dan ego manusia adalah apa yang oleh Alquran digambarkan sebagai “diri” dan terkadang “jiwa”.
(3) Jiwa atau diri manusia merupakan konstituen sejati personalitasnya. Manusia tidak mati, karena jiwa atau rohnya tidak mati. Rohnya eksis di sebuah cakrawala yang letaknya di atas cakrawala materi dan hal-hal material. Meskipun ini merupakan hasil dari evolusi esensi fenomena alam yang mengalami transformasi menjadi jiwa atau roh sebagai akibat dari evolusinya, namun cakrawalanya mengalami perubahan dan menjadi sesuatu dari alam lain yang di luar alam semesta. Ketika mati, roh beralih ke kelas lain, yaitu kelas roh. Dengan kata lain, realitas di luar materi ini kini berada dalam penjagaan malaikat. Al-Qur’an mengemukakan poin bahwa manusia adalah sebuah realitas yang kelasnya di luar materi. Mengenai Adam as, manusia pertama, Al-Qur’an mengatakan, “Dan telah meniupkan ke dalamnya roh-Ku.” (QS. al-Hijr: 29)

Soal roh dan kelangsungan hidupnya setelah mati merupakan salah satu ajaran pokok Islam. Separo dari ajaran-ajaran Islam yang tak dapat diingkari itu didasarkan pada doktrin bahwa roh tak bergantung pada tubuh, dan roh masih terus eksis meski manusia telah mati. Semua nilai manusiawi sejati didasarkan pada kebenaran ini. Tanpa kebenaran ini, nilai-nilai tersebut tak lebih dari imajinasi belaka.

Semua ayat yang berbicara tentang kehidupan setelah mati, beberapa contohnya akan kami kutip, membuktikan bahwa roh adalah sebuah realitas yang tak bergantung pada tubuh dan bahwa roh akan terus ada sekalipun tubuh sudah hancur dan sirna. Sebagian orang mengira bahwa dari sudut pandang Al-Qur’an tak ada roh atau jiwa. Akhir eksistensi manusia adalah ketika manusia mati. Setelah mati, manusia tak memiliki
kesadaran dan juga tak merasa senang atau sakit. Pada saat Kebangkitan, manusia akan mendapat hidup baru, dan pada saat ini sajalah dia akan menemukan kembali dirinya dan dunia. Namun teori ini bertentangan dengan ayat-ayat yang menyebutkan kehidupan setelah mati.

Para pendukung teori ini mengira bahwa orang yang mempercayai eksistensi roh atau jiwa mendasarkan klaimnya pada ayat, “Katdkanlah, roh adalah atas perintah Tuhanku.”

Mereka mengatakan bahwa meskipun kata “roh” disebut berulang-ulang dalam Al-Qur’an, namun makna roh adalah sesuatu yang berbeda dengan apa yang disebut jiwa.

Dalam ayat ini juga arti roh sama dengan yang dimaksud dalam ayat-ayat lain. Orang-orang ini tidak tahu bahwa orang yang mempercayai eksistensi roh tidak mendasarkan argumennya pada ayat ini. Ada sekitar dua puluh ayat lagi yang jelas-jelas menyebut roh atau menyebutnya dalam bentuk kata benda dan kata ganti yang mengungkapkan milik, rangkaian kata sifat dan seterusnya seperti roh Kami, roh-Ku, roh suci, roh dengan perintah Kami. Mengenai manusia, dikatakan “Dan Aku tiupkan he dalamnya roh-Ku.”

Ungkapan ini menunjukkan bahwa dari sudut pandang Alquranan ada sebuah realitas yang lebih tinggi daripada malaikat dan manusia, dan realitas inilah yang disebut roh. Sebagai nikmat dari Allah SWT, malaikat dan manusia memiliki realitas ini yang digambarkan sebagai “dengan Perintah-Ku”. Ayat “Aku tiupkan ke dalamnya roh-Ku,” bersama ayat-ayat lain menunjukkan bahwa roh manusia memiliki realitas yang luar
biasa.

Banyak ayat Alquran bukan saja menegaskan eksistensi mandiri roh manusia, namun pandangan ini juga diperkuat oleh banyak riwayat mutawatir dalam kitab-kitab hadis dan juga diperkuat oleh banyak kalimat dalam “Nahj al-Balaghah”. (Lihat Peak of Eloquence (Nahj al-Balaghah atau Puncah Kefasihan, I. S. P. 1984) dan Doa Para Imam Suez)

Faktanya adalah bahwa pengingkaran eksistensi roh merupakan pikiran kotor Barat yang diilhami oleh materialisme Barat. Sayangnya, ada sebagian pengikut Alquran yang berpikiran seperti ini. Sekarang kami kutip, melalui contoh-contoh, tiga dari empat ayat yang menggunakan kata “tawaffi’ untuk kematian. Dalam ayat-ayat ini dikatakan bahwa setelah kematiannya manusia masih melakukan perbuatan-perbuatan seperti yang dilakukannya ketika masih hidup (seperti bicara, berkehendak dan memohon).

(1) Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya din, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu itu?” Mereka menjawab: “Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah). ” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburu-buruk tempat kembali. (QS. an-Nisâ’: 97)

Ayat ini mertgenai orang-orang yang tunduk kepada tekanan keadaan, karena mereka hidup dalam lingkungan yang buruk, lingkungan yang dikendalikan oleh lawan-lawan mereka. Alasan mereka adalah lingkungan mereka tidak menguntungkan bagi mereka, mereka tak dapat berbuat apa-apa. Bukannya berupaya mengubah lingkungan mereka, dan jika itu tidak mungkin, pindah ke lingkungan yang lebih baik, mereka malah betah tinggal di lingkungan buruk itu. Setelah mencabut nyawa mereka, para malaikat Allah SWT berbicara dengan mereka dan mengatakan bahwa alasan mereka tidak dapat diterima, karena mereka setidak-tidaknya dapat pirtdah ke lingkungan lain. Para malaikat mengingatkan mereka bahwa mereka bertanggung jawab atas perbuatan mereka.

Alquran menyebutkan bahwa ketakberdayaan di suatu tempat tertentu tak dapat dijadikan alasan, kecuali bila jalan pindah dari satu tempat ke tempat lain sudah tertutup. Seperti kita ketahui, dalam ayat ini kematian, yang kelihatannya seperti kemusnahan, diungkapkan dengan kata tawaffi yang menunjukkan masuk ke dalam penjagaan. Lagi, ayat ini menyebutkan dialog antara para malaikat dan seseorang setelah kematian seseorang tersebut. Seandainya realitas manusia tidak berlanjut setelah kematiannya, dan seandainya realitasnya semata-mata berupa jasadnya yang tidak sensitif dan tidak sadar, tentu dialog ini tak ada artinya. Ayat ini menjelaskan bahwa manusia, setelah meninggalkan dunia fana ini, dapat bicara dengan makhluk-makhluk yang tak dapat dilihat yang dikenal dengan nama malaikat, meskipun dengan mata, telinga dan lidah yang berbeda.

(2) Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah lenyap (hancur) di dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru.” Bahkan (sebenarnya) mereka ingkar akan menemui Tuhan mereka. Katakanlah: “Malaikat mau yang diserahi untuk (mencabut nyawa)-mu akan mematikan kamu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan. ” (QS. as-Sajdah: 10)

Ayat ini menghapus keraguan orang-orang yang mengingkari akhirat. Mereka bertanya bagaimana mereka dapat dibangkitkan lagi padahal setelah mad setiap partikel mereka jadi hancur lebur. Alquran dengan jelas mengatakan bahwa keraguan yang diungkapkan mereka hanyalah dalih untuk menyembunyikan sikap mereka yang keras kepala. Namun, menjawab pertanyaan mereka, Alquran mengatakan bahwa bertentangan dengan pernyataan mereka, personalitas sejati dan “diri” sejati mereka bukanlah apa yang mereka duga sebagai partikel-partikel yang hancur lebur. Sesungguhnya mereka, dengan segenap personalitas mereka, dihimpun oleh malaikat maut.

Yang dimaksud orang-orang yang mengangkat keraguan ini dengan hancur lebur di dalam bumi adalah bahwa ketika semua bagian dari tubuh mereka sudah hancur lebur dan setiap partikel tubuh mereka telah musnah, mana mungkin tubuh itu diciptakan dan dihidupkan kembali. Keraguan seperti ini juga disebutkan dalam beberapa ayat lain, dan jawaban untuk pertanyaan ini lain. Dalam ayat-ayat itu ditunjukkan bahwa jasad yang telah mati musnah dan sirna dari sudut pandang manusia saja. Tak diragukan lagi, memang mustahil manusia mengumpulkan kembali semua partikel tubuhnya, namun bagi
Allah Mahakuasa, hal itu sangat mudah. Dalam ayat terdahulu argumen orang-orang yang mengingkari kebangkitan didasarkan pada kemustahilan mengumpulkan kembali partikel-partikel jasad yang telah hancur. Namun di sini argumen mereka berbeda dan itulah sebabnya jawabannya pun berbeda pula. Di sini mereka berargumen bahwa setelah kehancuran partikel-partikel tubuh, maka personalitas nil manusia juga hancur dan sirna sehingga tak ada lagi “aku” atau “kita.” Alquran mengatakan bahwa tak seperti dugaan mereka, personalitas riil manusia tak pernah musnah, dan karena itu tak perlu mendapatkannya lagi. Manusia maupun personalitasnya justru dihimpun oleh para malaikat pada saat kematiannya.

Ayat berikut ini juga dengan jelas menyebutkan kesinambungan personalitas riil manusia (rohnya) setelah kematiannya, meskipun tubuhnya sudah tak ada lagi:

(3) Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya. Maka Dia tahanlahjiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir. (QS. az-Zumar: 42) Ayat ini menggambarkan kesamaan antara tidur dan mati, dan di antaranya kesamaan antara bangun dan kebangkitan. Tidur adalah bentuk lemah dari mati, dan mati adalah bentuk kuat dari tidur. Dalam kedua kasus ini, jiwa manusia beralih dari satu keadaan hidup ke keadaan hidup lainnya. Bedanya adalah bahwa dalam kasus tidur manusia biasanya tidak menyadari perubahan, dan ketika bangun dia tidak menyadari bahwa dirinya sesungguhnya baru kembali dari suatu perjalanan. Tak seperti ketika mati, segalanya terlihat jelas olehnya.

Dari ketiga ayat ini dapat disimpulkan bahwa, dari sudut pandang Alquran, karakter hakiki kematian bukanlah kemusnahan, akhir segalanya dan non-eksistensi. Kematian sesungguhnya hanyalah peralihan dari satu keadaan hidup ke keadaan hidup lainnya.

Ayat terakhir juga menjelaskan sudut pandang Alquran tentang karakter hakiki tidur. Meskipun secara fisis tidur adalah berhentinya fakultas-fakultas alamiah tertentu, namun dari sudut pandang spiritual, tidur adalah peralihan ke kerajaan langit. Seperti soal kematian, soal tidur juga merupakan salah satu hal yang karakter hakikinya tidak diketahui sepenuhnya. Yang diketahui dalam kaitan ini hanyalah satu bagian dari perkembangan fisis yang terjadi di wilayah fisis.

Ayatullah Syahid Muthahari, Manusia dan Alam Semesta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top