Thursday , August 22 2019
Breaking News
Kepeloporan Syiah Dalam Ilmu-Ilmu Alquran: Orang Pertama dalam Penyusunan Ilmu Ma’anil Quran [4]

Kepeloporan Syiah Dalam Ilmu-Ilmu Alquran: Orang Pertama dalam Penyusunan Ilmu Ma’anil Quran [4]

Ketahuilah bahwasanya orang pertama dari kaum Syi’ah yang menulis di bidang Ma’anil Quran (makna-makna Alquran) ialah Aban bin Taghlab yang wafat pada tahun 141 H. Kitab Aban yang berkaitan dengan bidang ini telah dicatat oleh Ibnu Nadim dalam kitabnya, Al-Pehrest, dan An-Najasyi di dalam kitabnya, Asma’ Mushannifisy Syi’ah, dan selain mereka berdua. Saya sendiri tidak menemukan satu orang pun yang menyusun sebuah kitab berkenaan dengan Ma’anil Quran sebelum Aban.

Perlu diakui bahwa terdapat selain Aban dari kelompok Syi’ah yang menyusun ilmu Ma’anil Quran, yaitu Ar-Rawasi dan Al-Farra’. Ibnu Nadim mengatakan: ”Kitab Ma’anil Quran yang dikarang oleh Ar-Rawasi dan kitab Ma’anil Quran yang disusun oleh Al-Farra’ untuk Umar ibn Bakar. Kedua penulis ini adalah dari kaum Syi’ah.”

Dan orang pertama yang mengarang kitab di bidang ilmu Nasikh Mansukh ialah Abdullah ibn Abdurrahman Al-Ashamm Al-Masma’ie dari Basrah. Ia adalah seorang tokoh besar Syi’ah dan sahabat dekat Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. Dan setelahnya adalah Darim ibn Qubaishah ibn Nahsal ibn Majma’, Abul Hasan At-Tamimi Ad-Darimi, seorang tokoh utama Syi’ah. Ia berumur panjang sehingga dapat menjumpai Imam Ali Ar-Ridha a.s. dan wafat pada akhir-akhir abad kedua. Ia mempunyai kitab Al-Wujuh war Nadzair, dan kitab An-Nasikh wal Mansukh. Dua kitab itu telah disebutkan oleh An-Najasyi di dalam Asma’ Mushannisy Syi’ah.

Pengarang setelah mereka berdua di atas ialah Al-Hasan ibn Ali ibn Al-Fidhal; sahabat dekat Imam Ali ibn Musa Ar Ridha. Ia wafat pada tahun 224 H. Lalu Syeikh Al-A’dham Ahmad ibn Muhammad ibn Isa Al-Asy’ari Al-Qummi; yang juga sabahat dekat Imam Ali Ar-Ridha a.s. Ia berusia cukup panjang hingga menjumpai Imam Hasan Al-Askari a.s.

Dan berdasarkan apa yang disimpulkan dari tulisan Jalaluddin As-Suyuthi, bahwa orang pertama yang mengarang di bidang Ma’anil Quran ialah Abu Ubaidah Al-Qosim ibn Salam yang wafat pada tahun 224 H., dan hidup semasa dengan Al-Hasan ibn Ali ibn Fidhal yang juga mengarang kitab di bidang yang sama, dan muncul jauh setelah Al-Masma’ie, bahkan setelah Darim ibn Qubaishah.

Ala kulli hal, kaum Syi’ah adalah pelopor-pelopor di bidang penyusunan ilmu Ma’anil Quran. Dan orang pertama yang menyusun berkenaan dengan Nawadirul Quran (Kelangkaan kata-kata Al-Quran) ialah Ali ibn Husein ibn Fidhal. Ia adalah seorang tokok Syi’ah di abad ketiga. Di dalam Al-Fehrest, Ibnu Nadim mengatakan: ”Dan Syeikh Ali ibn Ibrahim ibn Hasyim yang menyusun kitab tentang Nawadirul Quran adalah seorang Syi’ah. Ali ibn Hasan ibn Fidhal yang menulis kitab di bidang yang sama juga dari kaum Syi’ah. Begitu pula, Abu Nashr Al-‘Ayyasyi yang juga mengarang di bidang tersebut adalah seorang Syi’ah.”

Saya katakan bahwa Ahmad ibn Muhammad Al-Yasari; penulis dari warga Basrah juga mempunyai kitab Nawadirul Quran. Pada waktu itu, Al-Yasari menuliskan kitab itu untuk Sultan Thahir di jaman Imam Hasan Al-Askari a.s… Begitu juga Abdul Hasan Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad yang terkenal juga dengan nama Al-Haritsi mempunyai kitab Nawadir Ilmil Quran. An-Najasyi mengatakan: ”Abdul Hasan Muhammad ibn Ahmad ialah salah seorang sahabat kami yang masyhur dalam keterpercayaannya.”

Lalu, orang pertama yang mengarang di bidang ilmu Mutasyabihul Quran (tentang makna-makna yang tidak jelas di dalam Al-Quran) adalah Hamzah ibn Habib AzZiyad Al-Kufi. Ia adalah pengikut sekaligus salah seorang sahabat setia Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. Ia wafat pada tahun 156 H di Halwan. Ibnu Nadim mengatakan: ”Kitab Mutasyabihul Quran adalah karya Hamzah ibn Habib, dan ia adalah salah satu dari tujuh sahabat dekat Imam Ja’far AshShadiq a.s.” Begitu juga Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menggolongkannya sebagai salah satu sahabat dekat Imam Ash-Shadiq a.s.

Jauh sebelum kesaksian Ibnu Nadim dan Syeikh AthThusi adalah Ibnu Uqdah yang telah menganggap Hamzah sebagai salah seorang sahabat dekat Imam a.s. di dalam kitab Ar-Rijal. Dan terdapat sekelompok kaum Syi’ah terdahulu kami yang mengarang kitab di bidang Mutasyabihul Quran, seperti Muhammad ibn Ahmad Al-Wazir yang hidup semasa dengan Syeikh Ath-Thusi. Ia menulis kitab Mutasyabihul Quran. Selain Al-Wazir ialah Syeikh Rasyiduddin Muhammad ibn Ali ibn Syarasyub Al-Mazandarani yang wafat pada tahun 288 H. Ia mempunyai kitab Mutasyabihul Quran.

Lalu, orang pertama yang mengarang kitab tentang ilmu Maqthu’ul Quran wa Maushuluhu (sambungan dan putusan ayat-ayat Al-Quran) ialah Hamzah ibn Habib. Muhammad ibn Ishaq yang terkenal dengan nama Ibnu Nadim telah menyebutkan di dalam kitab Al-Fehrest bahwa sebuah kitab Maqthu’ul Quran wa Maushuluhu adalah karya Hamzah ibn Habib; seorang dari tujuh sahabat dekat Imam Ja’far Ash Shadiq.

Lalu, orang pertama yang meletakkan titik-titik huruf dan tanda-tanda baca (i’rab) serta menjaganya dari tahrif (distorsi) di pelbagai banyak buku adalah Abul Aswad, dan di sebagian buku adalah Yahya ibn Ya’mur Al-Udwani; yaitu murid Abul Aswad sendiri. Namun yang pertama lebih tepat. Walhasil, siapapun mereka itu, bisa dikatakan bahwa keutamaan dan nilai kepeloporan berada pada kaum Syi’ah, sebab Abul Aswad maupun Yahya adalah dua orang Syi’ah, sebagaimana kesaksian mufakat dari para ulama. Dan telah kita bawakan pelbagai macam teks serta bukti kesaksian atas kesyi’ahan mereka di dalam kitab asli saya, yaitu Ta’sisusy Syi’ah lifuinunil Islam.

Lalu, orang pertama yang menyusun kitab di bidang Majaz Al-Quran (Metaforika Al-Quran) sejauh yang saya ketahui, ialah Al-Farra’. Nama lengkapnya adalah Yahya Ibn Ziyad yang wafat pada tahun 207 H, sebagaimana yang akan dibawakan riwayat hidupnya pada pembahasan mengenai tokoh-tokoh ilmu Nahwu. Dan Al-Maula Abdullah Afandi di dalam Riyadul ‘Ulama menyatakan secara tegas bahwa Yahya ibn Ziyad Al-Farra’ialah seorang syi’ah. Ia mengatakan: ”Dan apa yang dikatakan oleh As-Suyuthi mengenai kedekatan Al-Farra’ pada Mu’tazilah mungkin berawal dari kerancuan sebagian besar ulama Ahlusunnah dalam memilah prinsip-prinsip Syi’ah dan prinsip-prinsip Mu’tazilah. Padahal, Al-Farra’ itu sendiri ialah seorang penganut Syi’ah Imamiyah.”

Selain itu, ada sekelompok orang Syi’ah yang menulis kitab berkenaan dengan Majaz Al-Quran. Di antara karangan yang terbaik sekaitan dengan ilmu ini adalah kitab Majazatul Quran; karya Syarif Radhi Al-Musawi, saudara Syarif Al-Murtadha.

Lalu, orang pertama yang mengarang kitab di bidang Amtsalul Quran (pribahasa-pribahasa Alquran) ialah Syeikh Muhammad ibn Muhammad ibn Al-Junaid. Ibnu Nadim di dalam kitab Al-Fehrest, yaltu tatkala sampai di akhir bagian alasannya atas kitab-kitab yang dikarangmengenai pelbagai makna Alquran, menyebutkan: Kitab Amtsalul Quran adalah karya Ibnu Junaid.”

Di sini, saya sendiri sejauh ini tidak menemukan seorang pun yang mengarang kitab tentang ilmu ilmu ini sebelum Ibn Junaid.

Lalu, oang pertama yang mengarang kitab di bidang Fadhailul Quran (keutamaan-keutarnaan Alquran) ialah Ubay ibn Ka’ab Al-Anshari, seorang sahabat Nabi saw. Dalam Al-Fehrest, Ibnu Nadim juga menyatakan hal ini. Dan sepertinya, Jalaluddin As-Suyuthi tidak mengetahui keutamaan Ubay ini sebagai pelopor penyusunan ilmu ini. Oleh karena itu, dapat dimaklumi bila ia mengatakan bahwa orang pertama yang menulis kitab tentang Fadhailul Quran ialah Imam Muhammad ibn Idris Asy-Syafi’ie yang wafat pada tahun 204 H.

Juga Sayyid Ali ibn Badruddin Al-Madani, pengarang As-Salafah, telah menyatakan kesyi’ahan Ubay ibn Ka’ab di dalam kitab Ath-Thabaqot. Nama lengkap kitab ini ialah Ad-Darajatur Raji’at ji Thabaqot Syi’ah. Di sana, Sayyid AlMadani membawakan pelbagai bukti atas kesyi’ahan Ubay dan dalam kitab Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah menambahkan bukti-bukti lain atas hal itu.

Dan ada Sekelompok dari kaum Syiah juga mengarang di bidang yang sama. Di antara mereka adalah Al-Hasan lbn Ali ibn Abu Hamzah Al-Bathayini dan Muhammad ibn Khalid Al-Barqi. Kedua-duanya hidup di masa Imam Ali Ar-Ridha a.s. dan Ahmad ibn Muhammad Al-Yasari, Abu Abdillah seorang penulis dari Basrah yang hidup di jaman Khalifah Dzahir dan Imam Hasan Al-Askari a.s. Ada pula nama-nama selain mereka, yaitu Muhammad ibn Mas’ud, Al-‘Ayyasyi, Ali ibn Ibrahim ibn Hasyim, Syeikh Al-Kulaini dan Ahmad ibn Muhammad ibn Ammar Abu Ali Al-Kufi yang wafat pada tahun 346 H., serta mana-nama lain dari ulama besar terdahulu Syi’ah.

Lalu, orang pertama yang mengarang kitab di bidang Asba’ul Quran (Tujuh Bacaan Al-Quran) ialah Hamzah ibn Habib Al-Kufi Az-Ziyab; salah seorang dari tujuh tokoh qori’ Syi’ah. Sebagaimana telah saya bawakan kesaksian atas kesyi’ahannya dari tokoh-tokoh terkemuka Islam. Di dalam Al-Fehrest, Ibnu Nadim telah menyebutkan kitab Asba’ul Quran dan kitab Hudud Ayil Quran, dan mengatakan bahwa kitab tersebut adalah karya Hamzah. Dan sejauh ini, saya tidak mengetahui seorang pun yang mendahului Hamzah dalam mengarang kitab tentang ilmu ini.

Sebelumnya Kepeloporan Syiah Dalam Ilmu-Ilmu Alquran: Orang Pertama Yang Mengarang di Bidang Ilmu Ahkamul Quran dan Ilmu Gharibul Quran [3]

Ayatullah Sayyid Hassan Ash-Sadr, Peradaban Syiah dan Ilmu Keislaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top