Thursday , September 19 2019
Breaking News
Kepribadian Imam Husain bin Ali as

Kepribadian Imam Husain bin Ali as

Imam Husain as dalam Kitab Sunni

Dengan merujuk pada kitab-kitab (hadis) dan biografi Sunni, dapat dilihat bahwa sebagian besar ulama Sunni menaruh penghargaan yang besar dan rasa hormat yang tinggi kepada Imam Husain as. Kita akan merujuk pada bagian tertentu dari sejarah Imam Husain as menurut riwayat yang telah dicatat dalam kitab-kitab hadis Sunni.

Kelahiran Imam Husain as

Ibnu Abdil Barr menulis, ”Husain as adalah putra Ali bin Abi Thalib as dan Fathimah as putri Nabi saw. Julukannya adalah Abu Abdillah. Dia lahir pada tanggal 5 Syakban sekitar tahun ketiga atau keempat menurut kalender Islam [Hijriyah]. Inilah opini populer yang dipegang oleh mayoritas sahabatnya.” 4

Sibth bin Jawzi berkata,”Julukannya adalah Abu Abdillah. Dia juga dikaruniai dengan gelar sayid, wafi, wali, Sibth dan syahid Karbala.” 5

Dikisahkan dalam Akhbar al-Duwal, “Ketika Husain lahir, Nabi saw diberitahu tentang peristiwa bahagia ini. Beliau mendatangi rumah Fathimah, memohon untuk melihat Husain dan mendekapnya dalam pelukannya. Nabi mengumandangkan azan di telinga kanan bayi yang baru lahir itu dan iqamah di telinga kirinya. Malaikat Arsy [Jibril] menampakkan diri kepada Rasulullah dan membawa perintah Allah bahwa anak yang baru lahir tersebut harus dinamai Husain. Inilah pengulangan yang tepat tentang apa yang sebelumnya terjadi ketika Hasan lahir.” 6

Ibadah Imam Husain as

lbnu Abdi Rabbah meriwayatkan bahwa Ali bin Husain as ditanya, ”Mengapa keturunan ayahmu sedikit?” Imam as menjawab, ”Aku terkejut melihat betapa ia sepenuhnya berhasil menjadi bapak dari anak-anaknya [yang memiliki keturunan -penj.] karena dia terus-menerus sibuk dalam salat setiap siang dan malam. Dia biasa menunaikan salat seribu rakaat setiap harinya. Bagaimana bisa dia menemukan waktu luang untuk wanita?” 7

Ibnu Sabbagh Maliki meriwayatkan, ”Setiap kali Husain bin Ali berada dalam keadaan salat, ronanya akan berubah pucat.” Mereka bertanya kepadanya, ”Keadaan apakah yang muncul dalam dirimu bilamana engkau berdiri dalam salat?” Imam as menjawab, ”Kamu tidak memahami Dia yang di hadapan-Nya aku berdiri.” 8

Zamakhsyari mengisahkan bahwa beberapa orang melihat Husain bin Ali as sedang melakukan tawaf mengitari Ka’bah. Ketika dia sampai di hijr (bilik) Ismail, dia menunaikan salatnya. Setelah salat, dia meletakkan wajahnya di bilik Ismail, mulai menangis dan berkata, ”Hamba sahaya-Mu yang rendah hati kini di depan pintu Rumah-Mu! PelayanMu yang rendah hati kini di depan pintu-Mu! Seorang yang miskin kini ada di depan pintu-Mu!” Untuk waktu yang lama, dia terus mengulang-ulang pernyataan ini. Setelah beberapa saat, ketika dia meninggalkan tempat itu, pandangannya jatuh pada beberapa orang miskin yang sedang memakan remah-remah dan potongan roti. Husain menghampiri dan menyapa mereka. Mereka menjawab salamnya dan mengundangnya untuk makan dengan mereka. Dia duduk bersama mereka, tetapi tidak mengambil makanan mereka, Dia berkata, ”Jika makanan kalian bukan dari sedekah, aku akan mengambilnya.” Dia berkata kepada mereka, ”Bangkitlah dan ikutilah aku ke rumahku.” Ketika mereka tiba di rumahnya, Husain memberi mereka makanan dan pakaian. 9

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Ubaid bin Umair mengatakan, “Husain bin Ali menunaikan haji dua puluh lima kali dengan berjalan kaki, meskipun disertai dengan kuda-kudanya.“  10

lbnu Abdulbarr berkata,“Husain adalah seorang manusia yang sangat terpelajar dan religius. Dia banyak melakukan salat, puasa dan haji.” 11

Pada sanad riwayatnya sendiri, Thabari mengisahkan bahwa Dhahhak bin Abdullah Masyriqi berkata, ”Ketika kegelapan tiba di Karbala, Husain dan para sahabatnya menghabiskan sepanjang malam dengan salat, memohon ampunan, berdoa dan meminta-meminta kepada Allah.” 12

(di kutip dari Buku “Asyura dan Kebangkitan Imam Husain” Ali Ashghar Ridwani)

Catatan kaki:

4. Al-Isti’ab, jil, hal.143.

5.Tadzkirah al-Khawash, hal.232.

6. Akhbar al-Duwal wa Atsar aI-Awwal, hal.107.

7. Al-Iqd al-Farid, jil, hal.220.

8. Al-Fushul al-Muhimmah, hal.183.

9. Rabi’ al-abrar, hal.210

10. Shifat al-Shafwah, jil.1, hal.321; Usd al-Ghabah, jil.3, hal.20, cetakan Mesir.

11. Al-Isti’ab, jil.1, hal.393.

12. Tarikh Thabari, jil.5, hal.421.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top