Saturday , November 23 2019
Breaking News
Kerjasama Pelatihan Pengolahan Sampah My Darling-Husainiyah Azzahra

Kerjasama Pelatihan Pengolahan Sampah My Darling-Husainiyah Azzahra

My Darling-Husainiyah AzzahraDalam rangka mendidik masyarakat peduli lingkungan, komunitas Ibu-ibu Bintul Huda mengadakan pelatihan pengolahan sampah 3R (reuse, reduce, recycle).

Bekerjasama dengan komunitas My Darling  (masyarakat sadar lingkungan) dari RW 11 Kelurahan Cibangkong, acara ini dilaksanakan pada hari Jumat dan Sabtu (10-11/10) lalu.

Peserta pelatihan adalah kader PKK sekitar Husainiyah Azzahra, Bandung.

Rangkaian kegiatan yang dilakukan ibu-ibu rumah tangga ini antara lain presentasi pengolahan sampah dan praktek pemanfaatan sampah dari bungkus kopi dll.

Peserta sangat antusias mengikuti acara karena dengan ini mereka dapat berkarya lewat sampah.

“Kalau bisa ada kelanjutannya,” kata salah satu peserta.

Lebih luas lagi, demi menciptakan kawasan yang bersih dan indah, walikota Bandung, Ridwan Kamil telah membuat beberapa program untuk menjada kebersihan.

Genap setahun masa jabatannya, beberapa kebijakan terkait sampah telah dikeluarkan oleh pria yang akrab dipanggil Kang Emil ini. Mulai dari gerakan pungut sampah, penyebaran biodigester yang dapat memakan bakteri sampah, sampai denda bagi yang membuang sampah sembarangan. Tidak main-main, denda yang dikeluarkan bagi pembuang sampah sembarangan mencapai Rp 5 juta.

Emil mengatakan, aturan besaran denda ini sebenarnya sudah secara tegas diatur dalam Perda Nomor 11 Tahun 2005 tentang K3. Pada perda disebutkan, warga yang membuang sampah, kotoran atau barang bekas lainnya serta dapat mengganggu ketertiban, kebersihan, dan keindahan kota dikenai denda maksimal Rp 5 juta.

Bandung, “The City of Pigs

Banyaknya jajanan dan pedagang kaki lima membuat sampah—terutama bungkus plastik—bercecer dimana-mana. Hal inilah salah satu pemicu seorang warga Bulgaria, Inna Savova, menyebut Bandung sebagai “The City of Pigs” dalam blognya.

“Bandung, sebuah tempat yang penduduknya berpikir bahwa daging babi dianggap terlalu kotor untuk dimakan, tetapi mereka hidup dalam lingkungan yang lebih kotor dari babi,” tulis Inna dalam blognya venusgotgonorrhea.wordpress.com. “Padahal Bandung bisa menjadi kota yang sangat indah,” tambahnya.

Kebersihan lingkungan memang tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada pemerintah. Kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan bersih juga perlu ditekankan. Karena yang membuang sampah sembarangan selama ini tak lain adalah masyarakat sendiri. Jika tidak ada kesadaran untuk berhenti melakukannya, maka sampah di jalan-jalan akan tetap kita temui.

Tidak hanya Bandung, setiap kota di dunia—terutama di Tanah Air—berpotensi menjadi ‘kota sampah’.

Maka sebelum keindahan lingkungan tercemar, mulailah dari diri sendiri, berhenti membuang sampah sembarangan. Tentu tidak membuang sampah sembarangan saja tidak cukup. Harus ada upaya berkelanjutan untuk mengurangi pemakaian barang-barang yang akan menjadi sampah. Dengan begitu, jumlah sampah akan berkurang, dan keindahan lingkungan dan kota akan lebih mudah terjaga untuk generasi mendatang.

Bukankah kebersihan sebagian dari iman? (Bahesti/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top