Wednesday , July 15 2020
Breaking News
Kesamaan dan Perbedaan Kehidupan Dunia dan Akhirat [1/2]

Kesamaan dan Perbedaan Kehidupan Dunia dan Akhirat [1/2]

Kesamaan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat adalah keduanya nyata dan eksis. Dalam kedua kehidupan ini manusia sadar akan dirinya dan apa pun yang berkaitan dengan dirinya. Dalam dua kehidupan ini manusia merasa senang dan sedih, bahagia dan sengsara. Dalam dua kehidupan ini perbuatan manusia diatur oleh nalurinya, baik naluri hewaniah maupun naluri manusiawi. Dalam dua kehidupan ini manusia hidup dengan tubuhnya. Namun ada juga beberapa perbedaan yang mendasar.

pembahasan sebelumnya Hubungan Kehidupan Dunia dan Akhirat

Di dunia ini ada sistem reproduksi dan sistem anak-anak, remaja, dewasa dan usia lanjut yang diikuti kematian. Sistem seperti ini tak ada di akhirat. Di dunia ini bekerja, menanam, dan mempersiapkan lahan adalah perlu. Di akhirat akan dipanen apa yang ditanam di dunia. Dunia merupakan tempat bekerja, sedangkan akhirat merupakan tempat memperoleh hasil. Di dunia manusia dapat mengubah nasibnya dengan mengubah kebiasaannya. Di akhirat kemungkinan seperti itu tak ada. Di dunia ada hidup ada mati. Selain itu, yang mati berasal dari yang hidup, dan yang hidup berasal dari yang mati. Materi mati, dalam keadaan tertentu, berubah menjadi organisme hidup, dan organisme hidup berubah menjadi materi mati.

Namun di akhirat, yang ada adalah murni kehidupan. Materi di alam itu juga hidup. Bumi dan langit di alam itu hidup. Taman dan buahnya hidup. Api dan siksa di alam itu juga hidup dan sadar. Di sini segalanya diatur oleh kondisi ruang dan waktu serta sebab-sebabnya. Alam itu adalah alam gerak dan berkembang. Di alam itu yang ada hanya “kehendak dan kedaulatan Allah SWT.” Di sana penglihatan dan kesadaran manusia lebih kuat, daya lihat dan daya dengar manusia lebih tajam dibanding di dunia fana. Dengan kata lain, di sana tidak ada tabir, dan manusia akan lebih melihat kebenaran. Alquran mengatakan: Maka Kami singkapkan darimu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. (QS. Qaf: 22)

Di dunia manusia selalu merasa capek, jenuh, dan sedih, khususnya merasa monoton. Kelihatannya seakan-akan dia kehilangan sesuatu dan tengah mencari sesuatu itu. Dia berusaha mendapatkan sesuatu, lalu merasa senang sebentar. Namun segera dia sadar bahwa itu bukan yang diinginkannya. Dia mulai lagi merasa sedih dan mengejar sesuatu yang lain. Manusia selalu ingin sesuatu yang belum dimilikinya dan belum membuatnya jenuh. Namun di akhirat, di mana manusia akan mendapatkan apa yang diinginkan lubuk hatinya dan apa yang sebenarnya belum dimilikinya, yaitu kehidupan abadi dalam kedekatan dengan Allah SWT, tak ada capek, tak ada jenuh, tak ada sedih. Alquran mengisyaratkan ke arah hal ini ketika mengatakan: Mereka tidak ingin pindah darinya. (QS. al-Kahfi: 108)

Beda dengan di dunia, di akhirat manusia tidak menginginkan perubahan. Meskipun tinggal di surga untuk selamanya, namun penghuninya tidak akan membosankan. Karena segala yang mereka inginkan tersedia bagi mereka, mereka tidak akan terganggu atau jadi susah oleh keinginan yang tak terpuaskan.

Argumen Alquran

Meskipun iman kita kepada Kebangkitan merupakan konsekuensi alamiah dari iman kita kepada Alquran dan ajaran para nabi dan karena itu tak perlu mengemukakan argumenatau bukti ilmiah mengenai hal ini, namun kalau melihat fakta bahwa Alqur’an sendiri, agar poin ini diterima pikiran kita, mengemukakan beberapa argumen, maka kami paparkan argumen-argumen itu di sini meskipun secara ringkas.

Argumen Alquran berupa serangkaian jawaban untuk orang-orang yang mengingkari Kebangkitan. Sebagian jawaban ini untuk menunjukkan bahwa tak ada salah dengan konsepsi kebangkitan. Jawaban tersebut diberikan untuk mereka yang mengklaim bahwa kebangkitan mustahil terjadi. Sebagian ayat lain bahkan mengatakan bahwa di dunia ini pun ada fenomena tertentu yang menyerupai kebangkitan, dan karena itu tak ada alasan memandang mustahil kebangkitan. Beberapa ayat bahkan mengatakan bahwa kebangkitan merupakan hasil alamiah dan tak terelakkan dari skema logis penciptaan alam semesta. Jadi ayat-ayat ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok:

Pertama; Alquran mengatakan: Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa akan kejadiannya, ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (QS. Yasin: 78-79)

Ayat ini menjawab orang kafir yang datang kepada Nabi saw dengan membawa tulang yang sudah busuk dan rusak. Dia menghancurleburkannya jadi bubuk. Lalu dia menebarkan bubuk itu ke udara. Setelah itu dia bertanya, “Siapa yang akan menghidupkan kembali partikel-partikel yang berserakan ini.” Alquran menjawab, “Dia yang menciptakan tulang belulang kali pertama.”

manusia menilai segala sesuatu dengan ukuran kapasitasnya sendiri. Berdasarkan ini manusia membagi segala sesuatu itu menjadi yang mungkin dan yang mustahil. Kalau dia merasa sesuatu itu di luar kemampuannya, lalu dia menyatakan bahwa sesuatu itu mustahil. Alquran mengatakan bahwa mungkin manusia merasa mustahil melakukan sesuatu, namun itu tidak mustahil bagi yang Mahakuasa yang telah menciptakan kehidupan pada mated mati untuk kali pertama. Yang Mahakuasa dapat juga menghidupkan yang mati.

Kedua; Ada ayat-ayat yang menyebutkan peristiwa tertentu di masa lalu ketika jasad yang mati dihidupkan kembali, seperti ayat-ayat yang menyebutkan kisah Nabi Ibrahim as yang berkata kepada Allah: Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati, Allah berfirman: “Apakah kamu belum percaya?” Ibrahim menjawab: “Aku telah percaya, namun agar bertambah tetap hatiku. ” Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu jinakkanlah burung-burung itu, kemudian letakkanlah tiap-tiap ekornya di atas tiap-tiap bukit. Sesudah itu panggillah, niscaya ia akan datang kepadamu dengan segera.” (QS. al-Baqarah: 260)

Ada ayat-ayat lain yang tidak didasarkan pada peristiwa adialami. Ayat-ayat itu mengutip sistem yang ada yang dikenal setiap orang. Rumput yang layu dan mati selama musim gugur dan dingin, hidup lagi selama musim semi. Sebagaimana dilihat setiap orang, bumi setelah menghijau dan penuh kehidupan kehilangan vitalitasnya dan mati, dan ketika kondisinya berubah dengan berubahnya musim, bumi hidup lagi, dan tetumbuhan, pepohonan dan rumput mulai tumbuh subur dan berbunga. Akan datang suatu masa ketika segenap sistem dunia akan layu dan kering kerontang. Matahari dan bintang-gemintang akan meledak. Alam semesta akan mati, namun bukan untuk selamanya. Segalanya akan hidup lagi, meski bentuknya lain dan dengan kondisi yang lain.

Sekarang kita, umat manusia, hidup di muka bumi. Kita tahu bahwa dalam 365 hari bumi melewati siklus mati dan hidup. Normalnya kita hidup sampai 50, 60 atau 70 tahun dan terkadang sampai 100 tahun atau bahkan lebih. Selama periode ini kita melihat siklus hidup dan mati ini lusinan kali. Itulah sebabnya kita tidak heran kalau bumi mati dan hidup lagi. Misal saja durasi kehidupan kita hanya beberapa bulan saja seperti yang terjadi pada serangga, dan misal saja kita tidak tahu bagaimana membaca dan tidak tahu revolusi tahunan bumi, tentu kita tidak akan percaya bahwa bumi yang mati hidup lagi, karena kita tidak pernah melihat fenomena ini. Tentu saja bagi nyamuk yang muncul di musim semi dan mati di musim gugur dan dingin, konsepsi tentang taman yang hidup kembali tak pernah terbayangkan.

Dapatkah cacing yang hidup di pohon atau nyamuk yang hidup di taman, yang dunianya adalah pohon atau taman itu, membayangkan bahwa pohon atau taman itu merupakan bagian dari sebuah sistem yang lebih tinggi yang disebut rumah, bahwa perkebunan pada gilirannya adalah bagian dari sistem lain yang disebut distrik, bahwa distrik merupakan bagian dari sistem lain yang disebut provinsi, bahwa provinsi merupakan bagian dari sistem lain yang disebut negara, bahwa negara merupakan bagian dari sistem lain yang disebut sistem bumi, dan bahwa bumi merupakan bagian dari sistem tata surya kita? Mana mungkin kita yakin bahwa sistem tata surya kita, bintang-gemintang dan galaksi-galaksi bukan bagian dari sebuah sistem yang lebih besar?

Mungkin saja berjuta-juta tahun eksistensi alam semesta yang kita tahu hanya setara dengan hanya satu bagian atau satu hari dari sebuah musim. Mungkin saja musim kehidupan sekarang ini akan diikuti oleh musim lain yang suram dan sepi, dan setelah itu sekali lagi sistem ini termasuk sistem tata surya kita, bintang-gemintang dan galaksi-galaksi akan memperoleh prospek hidup yang lebih baik yang bentuknya lain. Para nabi telah menyebutkan atas nama Allah SWT tentang kehancuran total dan kesunyian yang diikuti suatu hidup baru dan kebangkitan orang-orang yang sudah mati dengan sistem baru. Karena kita yakin bahwa mereka benar, maka kita percaya bahwa yang mereka sampaikan itu benar, termasuk apa yang mereka katakan tentang pembaruan hidup yang universal. Alquran menyebut contoh sistem hidup-mati di muka bumi agar kita melihatnya sebagai contoh kecil sistem universal kehidupan dan tidak beranggapan bahwa kebangkitan mustahil dan bertentangan dengan sistem total penciptaan.

Alqur’an mengatakan bahwa kebangkitan merupakan pembaruan kehidupan, dan pembaruan kehidupan merupakan sesuatu yang contoh kecilnya kita lihat di muka bumi. Nabi saw bersabda, “Bila engkau melihat musim semi, maka berpikirlah bahwa kebangkitan itu ada.” Dengan kata lain, musim semi merupakan contoh kebangkitan. Rumi berkata, “Musim semi setelah bergugurannya dedaunan dari pepohonan merupakan bukti tentang kebangkitan. Api, udara, mendung, air dan matahari menghalau banyak ilusi. Di musim semi banyak misteri tersibak. Bumi mengeluarkan apa yang telah diserapnya.” Banyak sekali ayat Alquran yang menyebutkan sistem hidup-mati yang ada sebagai bukti: Dan Allah, Dialah yang mengirimkan angin. Lalu angin itu menggerakkan awan. Maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati, lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu. (QS. Fathir: 9)

Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuhan yang indah. Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah Dialah yang benar dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati, dan sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya hari kiamat itupastilah datang, tak ada keraguan tentangnya, dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur. (QS. al-Hajj: 5-7)

Bersambung….

Ayatullah Syahid Muthahari, Manusia dan Alam Semesta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top