Saturday , June 6 2020
Breaking News
Khidmat Sosial, Manifestasi Ibadah Tertinggi

Khidmat Sosial, Manifestasi Ibadah Tertinggi

Salah satu kecenderungan tertinggi manusia adalah perasaan dan kelembutan yang muncul dari relung jiwanya yang paling dalam. Semua itu terejawantah dalam bentuk pelayanan serta pengabdian kepada sesama dalam lembaran hidupnya. Manusia bukan seperti batu yang tak berjiwa, yang tak peduli pada sesamanya.

Perasaan lembut untuk membantu orang lain sangat kentara dalam pribadi-pribadi agung. Tokoh-tokoh besar itu senantiasa berpikir untuk memberi pelayanan dan berkhidmat kepada masyarakat. Imam Ali Zainal Abidin Sajjad as, mengingat pahala besar dan dampak pengabdian kepada sesama, senantiasa berdoa dan memohon kepada Allah Swt agar dianugerahi kekuatan dan kesempatan untuk melayani masyarakat.

Dalam doanya, beliau berujar, “Ya Allah! Sampaikan shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya… Dan berikan kepadaku kesempatan untuk melakukan pekerjaan baik bagi orang lain serta jangan musnahkan pahalanya dengan sifat mengungkit-ungkit kebaikan kepada orang lain. Ya Allah, jauhkan diriku dari sifat israf (berlebih-lebihan) dan tunjukkan kepada diriku jalan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Ya Allah! Jadikan diriku dekat dengan orang-orang fakir dan menyukai untuk senantiasa berdekatan dengan mereka. Dan bantulah diriku untuk bersabar dan senang bergaul dengan mereka.”

Dalam ajaran Islam, khidmat sosial tercatat sebagai ibadah terbaik. Dalam perspektif wahyu dan ajaran Nabi Muhammad saw, pengabdian terhadap masyarakat dan kecintaan di sisi Allah Swt memiliki hubungan yang tak terpisahkan. Seruan al-Quran terkait memperhatikan kebutuhan orang lain sangatlah besar. Sampai-sampai kitab suci ini mensyaratkan orang-orang yang ingin mendapat berkah dari spirit hidayah al-Quran untuk memberi infak serta membantu kesulitan orang lain.

Allah Swt dalam surah al-Baqarah ayat ke-2 dan ke-3 berfirman, yang artinya: Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Menurut ayat ini, Allah Swt akan memberi hidayah kepada mereka yang, selain beriman terhadap hal-hal gaib dan mendirikan salat, juga gemar berinfak dan senantiasa memikirkan kebaikan serta membantu orang lain. Dalam salah satu riwayat, Rasulullah saw bersabda, “Rakyat adalah keluarga Tuhan. Manusia yang paling dicintai Allah adalah mereka yang memberi manfaat dan kebaikan pada keluarga Tuhan.”

Selain berhubungan dengan Tuhan, manusia juga memiliki kecenderungan untuk berinteraksi dengan sesamanya. Kita yang hidup di tengah masyarakat, mustahil mampu memenuhi kebutuhan kita sendiri tanpa orang lain. Karena itu, kita memenuhi kebutuhan orang lain sesuai kemampuan dan potensi yang kita miliki; orang lain pun memenuhi sebagian kebutuhan kita yang tak mampu kita penuhi sendiri.

Beberapa cendekiawan Muslim, termasuk Syahid Murtadha Muthahhari, berpendapat bahwa dalam diri manusia terdapat perasaan terpuji untuk berbuat baik terhadap sesama. Perasaan ini sama seperti perasaan lain yang dimiliki manusia dan butuh dipenuhi. Pastinya, tatkala gagal memenuhi kebutuhan ini, seseorang akan dilanda stress dan berbagai gangguan jiwa lainnya. Dewasa ini, seiring kian majunya teknologi dan industri, kebutuhan fisikal dan material manusia kian mudah dipenuhi, namun perasaan untuk membantu orang lain justru kian memudar.

Dalam hal ini, salah satu akar kegalauan dan stress manusia modern adalah kecenderungannya untuk memenuhi kepentingan pribadi tanpa memikirkan orang lain. Sa’di, pujangga besar Iran dalam suatu ungkapan yang indah, menyebut manusia yang tak punya kecenderungan membantu orang lain sebagai batu granit. Menurutnya besi dan batu memiliki manfaat yang tidak diketahui manusia.

Dalam pandangan Islam, manusia memiliki hak terhadap sesama. Dalam Risalatul Huquq-nya, Imam Ali Zainal Abidin Sajjad as mengingatkan hak tersebut. Beliau mengingatkan hak berbagai kelompok, seperti para pemimpin, orang miskin, kerabat, orang-orang baik, dan sekelompok masyarakat lain seperti tetangga, teman, mitra, pengemis, serta kalangan yang membutuhkan. Bahkan Imam Ali Zainal Abidin Sajjad, juga menyebutkan hak-hak hewan.

Sejatinya, Islam dengan pandangannya yang cermat dan mendalam, menyebut bahwa membantu orang lain merupakan tugas manusia kepada sesamanya. Islam meyakini bahwa manusia harus saling melayani sesama, karena mereka sama-sama berhak. Hak tersebut adakalanya sangat transparan dan wajib ditunaikan seperti hak ayah, ibu, guru, dan lain-lain. Ini diistilahkan dengan hak transparan. Namun, ada pula hak yang tersembunyi dan kebanyakan manusia melupakan hak ini. Seperti hak orang miskin, peminta-minta, dan anak yatim.

Seseorang bertanya kepada Imam Ali Zainal Abidin Sajjad as tentang hak transparan yang disebutkan dalam ayat ke-24-25 surah Maarij, yang artinya: Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).

Kemudian, Imam Ali Zainal Abidin Sajjad as berkata, “Hak transparan (jelas) adalah ketika seseorang menyisakan hartanya dan harta tersebut bukan termasuk zakat dan sedekah wajib.” Orang itu kembali bertanya, “Lantas apa yang harus dilakukan dengan harta tersebut?”

Imam as menambahkan, “Gunakan harta tersebut untuk menyambung tali silaturahmi dan membantu orang-orang miskin serta memenuhi kebutuhan mereka. Atau cintailah saudara seagamamu dan bantulah menyelesaikan kesulitan mereka.”

Dalam pandangan al-Quran dan Keluarga Rasul (Ahlulbait), membantu serta meringankan beban makhluk Tuhan merupakan tindakan terpuji. Banyak ayat dan riwayat yang menjelaskan keutamaan berbuat baik ini, serta pahala yang bakal diterima bagi siapa saja yang melakukannya. Bahkan, terdapat riwayat yang menyebutkan pahala membantu meringankan kesulitan orang lain lebih besar dari haji dan umrah.

Dalam al-Kafi, Kulaini meriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq as suatu hakikat yang amat mencengangkan. Aban bin Taghlab berkata, “Aku mendengar dari Imam Ja’far Shadiq as yang bersabda, ‘Siapa saja yang thawaf di Baitullah, maka Allah akan menuliskan baginya 6.000 kebaikan dan mengampuni 6.000 dosa-dosanya, serta meninggikan kedudukannya hingga 6.000 derajat. Selain itu, Allah juga akan mengabulkan 6.000 permintaannya.’ Kemudian beliau menambahkan, ‘Meringankan kesulitan seorang mukmin keutamaannya 10 kali lipat dari pahala thawaf di Kabah.”

Suatu hari, serombongan muslimin bergerak ke arah Mekah. Rombongan itu berhenti di antara Madinah dan Mekah untuk beristirahat selama beberapa hari. Kemudian, seorang lelaki bergabung dengan rombongan ini menuju Mekah. Ia kemudian menyaksikan seseorang yang memiliki wajah ramah dan agung sedang sibuk membantu orang-orang dalam rombongan itu. Sekilas pandang, lelaki itu dapat mengenali wajah agung yang sedang membantu sesamanya dalam rombongan tersebut.

Dengan penuh keheranan, ia bertanya kepada orang-orang dalam kafilah itu, “Apakah kalian mengenali orang yang sedang membantu kalian itu?” Mereka mengatakan, “Tidak, kami tidak mengenalnya. Orang ini bergabung dengan kafilah kami saat di Madinah. Ia orang saleh dan bertakwa. Kami tidak memintanya untuk membantu memenuhi kebutuhan kami. Ia sendiri yang dengan sukarela membantu segala kebutuhan kami selama perjalanan.”

Lelaki itu berkata, “Pantas saja kalian tidak mengenalnya! Jika mengenalnya, niscaya kalian tak akan sekasar ini.” Mereka bertanya, “Memangny, siapa orang itu?” Lelaki itu menjawab, “Ali bin Husain Zainal Abidin!”

Mendengar jawaban itu, bergegas orang-orang dalam kafilah itu mendatangi Imam Ali Zainal Abidin Sajjad as, cucu Rasulullah, untuk meminta maaf. Dengan penuh rasa malu, mereka berkata, “Andai Anda mengenalkan diri kepada kami. Jangan-jangan kami telah merendahkan martabat Anda dan melakukan dosa besar terhadapmu, wahai cucunda Rasulullah saw.”

Imam Ali Zainal Abidin Sajjad as pun menjawab, “Aku memang sengaja memilih kalian yang tidak mengenalku untuk menjadi kawan seperjalanan. Karena, tak jarang ketika aku bersama rombongan dengan orang yang mengenalku dan disebabkan aku keturunan Rasulullah saw, mereka pasti banyak mengalah dan memberi keringanan kepadaku. Mereka juga tidak mengizinkanku memikul satu tanggung jawab selama perjalanan. Karena itu, aku lebih suka memilih teman seperjalanan yang tidak mengenalku agar aku mendapat kesempatan untuk membantu teman seperjalanan.”

(IRIB/Buletin Mitsal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top