Wednesday , December 11 2019
Breaking News
Khotbah Imam Ali: Tentang Fananya Dunia dan Pentingnya Akhirat

Khotbah Imam Ali: Tentang Fananya Dunia dan Pentingnya Akhirat

Kemudian daripada itu, sesungguhnya dunia ini telah memalingkan punggungnya dan memaklumkan perpisahannya, sementara dunia yang akan datang telah muncul ke depan dan memaklumkan mendekatnya. Sekarang adalah hari persiapan sedang besok adalah hari perlombaan. Tempat yang dituju ialah surga sedang tempat tempat kembali adalah neraka. Tak adakah seseorang yang akan bertaubat atas kesalahannya sebelum kematiannya? Atau, tak adakah seseorang yang hendak berbuat kebajikan sebelum hari ujian? Ingatlah, Anda berada di hari-hari harapan dan di baliknya berdiri kematian. Barangsiapa beramal dalam hari-hari harapannya sebelum datang kematiannya, amalnya akan bermanfaat baginya dan kematiannya tidak akan merugikannya.

Tetapi, orang-orang yang tidak beramal dalam masa harapannya sebelum datang ajalnya, amalnya adalah sia-sia dan kematiannya adalah suatu kemudaratan baginya. Berhati-hatilah dan beramallah dalam masa ketertarikan sebagaimana Anda berbuat dalam masa kengerian. Berhati-hatilah, saya belum melihat seorang yang menghasratkan surga tertidur, dan tidak pula seorang yang merasa ngeri akan neraka terlelap.

Ingatlah, orang yang baginya hak tidak bermanfaat, akan menderita sengsara dari kebatilan, dan orang yang tidak dikukuhkan oleh petunjuk akan terbawa oleh kesesatan ke arah kehancuran. Berhati-hatilah, Anda telah diperintahkan untuk maju dan telah dibimbing bagaimana membekali perjalanan itu. Sungguh, hal yang paling menakutkan yang saya khawatirkan tentang Anda sekalian ialah mengikuti hawa nafsu dan memperpanjang harapan. Berbekallah untuk diri Anda dari dunia ini yang akan menyelamatkan Anda besok (pada Hari Pengadilan).

Syarh Nahjul Balâghah, Khotbah ke-28

———————————————————————————————————————————-

Sayid Radhi berkata: Apabila mungkin ada ucapan yang akan menyeret leher orang ke penolakan dunia ini dan memaksanya beramal bagi dunia yang akan datang, inilah khotbahnya. Khotbah ini cukup untuk memutuskan orang dari keterjaringan oleh harapan dan memicu api dakwah (untuk kebajikan) dan peringatan (terhadap kemungkaran). Kata-katanya yang paling menakjubkan dalam khotbah ini ialah, “Hari ini adalah persiapan sedang esok adalah hari perlombaan. Tempat yang dituju adalah surga sedang tempat kutukan adalah neraka,” karena selain kehalusan katakatanya, kebesaran maknanya, perumpamaan yang benar dan gambaran yang faktual, ada rahasia-rahasia yang menakjubkan dan siratan-siratan yang halus di dalamnya. Dalam ucapannya bahwa tempat yang dituju ialah surga dan tempat kutukan adalah neraka, ia menggunakan dua patah kata yang berlainan untuk membawa dua makna.

Untuk surga ia menggunakan perkataan “tempat yang dituju” (sabaqah), tetapi untuk neraka kata-kata itu tidak digunakan. Orang menuju ke suatu tempat yang disukainya dan dihasrat-kannya, dan ini hanya tepat bagi surga. Neraka tidak mengandung daya tarik sehingga orang tak suka menuju ke sana; kami memohon perlindungan Allah darinya. Neraka tidak pantas disebut sebagai “yang dituju”.

Amirul Mukminin as menggunakan kata “tempat kembali” (ghaliyah) yang menyiratkan makna kediaman terakhir di mana orang sampai ke sana karena terpaksa, dalam sedih, cemas ataupun senang, mau atau tidak mau. Kata ini mampu menyampaikan kedua makna. Namun, ia harus diambil dalam pengertian mashfr atau ma’al, yakni tempat per-hentian terakhir. Ayat AI-Qur’an, “Katakanlah, bersenanglah-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu (mashirakum) adalah (neraka).”(QS. 14:30). Di sini sabqatakum yakni “tempat yang Anda tuju” sebagai ganti kata mashfrukum. sama sekali tak akan tepat. Pikirkan dan renungkanlah itu, dan lihatlah betapa menakjubkan siratan batinnya dan betapa jauh kedalamannya berjalan serasih dengan keindahan. Ucapan Amirul Mukminin umumnya memang demikian. Dalam beberapa versi, kata sabgah ditunjukkan sebagai subqah, yang digunakan untuk meng-ganjari pemenang dalam perlombaan. Namun, kedua makna ini saling berdekatan; suatu hadiah bukanlah bagi suatu perbuatan yang tidak diinginkan, melainkan untuk kinerja yang baik dan terpuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top