Wednesday , December 11 2019
Breaking News
Kisah Hikmah Nabi Yusuf a.s.

Kisah Hikmah Nabi Yusuf a.s.

Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf. (QS. Yusuf [12]: 20)

Yusuf as adalah putra Nabi Ya’qub yang dilahirka dari seorang ibu yang bernama Rahjl (Rachel) 3556 tahun setelah turunya Adam ke bumi. Yusuf yang secara metafora berarti ”Suatu peningkatan di dalam berkah.” Setelah Rahil meninggal di Betlehem, Yusuf pun dibesarkan dan dididik oleh adalah bibinya. Setelah bibinya meninggal. Yusuf tinggal dengan ayahnya, Ya’qub yang sangat lembah lembut dan sayang kepadanya dibanding terhadap saudarasaudaranya yang lain. Hal ini sangat menyakitkan hati saudara-saudaranya yang lain. Pada suatu malam, pada umur 12 tahun, Yusuf bermimpi melihat suatu kejadian yang sangat menakjubkan dan dia pun berkata kepada ayahnya,

Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, ”Wahai ayahku! Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku. ” Ayahnya berkata, ”Hai anakku! janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar ( untuk membinasakan) mu. “ (QS. Yusuf [12]: 4-5)

Bagaimanapun juga, akhimya saudara-saudaranya pun mengetahui apa yang dikatakannya dan mereka berkata, “Yusuf dan saudaranya, Bunyamin lebih disayangi di sisi bapak kita dibandingkan kita semua.”

Akhirnya, mereka meminta bapak mereka agar mau mengizinkan mereka untuk mengajak Yusuf pergi menggembala ternak ke luar kota. Akhirnya mereka pun berhasil mendapatkan izin ayah mereka dan membawa Yusuf ke luar kota, lalu salah seorang dari mereka mengiajaknya jalan-jalan dan melemparkannya ke dalam sebuah sumur gelap. Ketika Yusuf sudah berada di dasar sumur, Jibril datang kepadanya, berkata, ”Jangan cemas, sebentar lagi engkau akan mendapatkan kedudukan yang tinggi lagi agung.”

Beberapa hari kemudian, datanglah sebuah kafilah yang sedang berjalan menuju Mesir dari Madyan. Mereka pun tiba di Yordania dan berhenti si dekat sumur air. Salah seorang dari mereka lalu pergi ke sumur dan menurunkan embemya ke dalam sumur itu untuk mengambil air. Jibril as menjelma dan menyinari lubang sumur itu dan Yusuf pun duduk di dalam ember itu dan akhirnya dia pun muncul diatas bibir sumur itu.

Dia berkata, ”Oh; kabar gembira, ada seorang anak muda! “ (QS.Yusuf [12]: 19)

Ketua kafilah dagang itu sangat bergembira atas peristiwa penemuan dirinya itu tetapi saudara-saudara Yusuf segera mengetahui tentang berita penemuan dirinya. Mereka bergerak cepat menuju Yordania dan berkata, ”Ini adalah budak kami yang kami lepas dan bebaskan.”

Mereka memaksa Yusuf untuk mengakui pengakuan mereka atau dia akan dibunuh. Dengan sangat terpaksa, akhirnya Yusuf pun mengakui hal tersebut.

Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf. (QS. Yusuf [12]: 20)

Kafilah pun tiba di Mesir. Setelah tiga hari istirahat di sana, mereka pun membawa Yusuf untuk dijual ke pasar budak, mereka menempatkannya pada sebuah bangku tinggi di tengah-tengah pasar. Mereka mulai menyeru para pengunjung pasar, ”Siapa yang mau membeli budak yang sangat menarik ini?” Akhirnya Raja Mesir datang dan membelinya lalu menyerahkannya kepada istrinya, Zulaikha untuk mengasuhnya.

Tetapi suatu hari, Yusuf dilibatkan di dalam sebuah kesulitan dan kemusykilan yang sangat besar, karena Zulaikha mencintai dirinya. Dia membawanya ke sebuah kamar pribadinya lalu menutup dan mengunci semua pintunya dari dalam. Yusuf pun terlepas dari rangkuman Zulaikha lalu lari ke arah pintu yang tertutup, membuka pintunya, dan kabur keluar dari kamar itu. Pada saat bersamaan, Raja tiba di depan pintu itu. Zulaikha pergi menghadap kepada sang Raja dan berkata kepadanya,

Perempuan itu berkata, ”Apa balasan atas orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau ( dihukum) dengan azab yang pedih?” Dan seorang saksi dari keluarga perempuan itu memberikan kesaksiannya, ”]ika baju gamisnya koyak di muka, maka perempuan itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. “ (QS. Yusuf [12]: 24-25)

Baju gamis Yusuf menjadi sebuah bukti akan kepolosan dan ketidak bersalahannya, karena sang gamis memang telah. koyak (sobek) dari belakang punggungnya yang menunjukkan bahwa Yusuf telah berusaha keras untuk melepaskan dirinya dari rayuan Zulaikha dan Zulaikha pun telah mencoba meraih dan menarik gamisnya tersebut.

Perempuan-perempuan Mesir pun mulai mencela kelakukan Zulaikha yang tak bermoral itu, tapi,

Maka tatkala perempuan itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diandangnyalah perempuan-perempuan itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf), “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka.” Maka tatkala perempuan-perempuan itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata, ”Mahasempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia. “ (QS. Yusuf [12]: 31)

Perempuan-perempuan itu pun membenarkan perbuatan Zulaikha itu karena mereka sendiri pun mempunyai keinginan yang sama kepadanya (Yusuf),

Perempuan itu berkata, “Itulah dia orang yang kamu cela aku karena ( tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak menaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina. ” Yusuf berkata, ”Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk ( memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh. ” (QS. Yusuf [12]: 32-33)

Zulaikha pun mulai menjelek-jelekkan nama Yusuf di hadapan sang raja dan memintanya agar menjebloskan Yusuf ke dalam penjara. Yusuf pun dipenjarakan (ditahan) selama tujuh tahun.

Suatu malam, Raja Mesir mempunyai sebuah mimpi yang sangat mengerikan. Pagi-pagi sekali, sang Raja memanggil seluruh peramal makna mimpi yang akan menjelaskan tentang arti seputar mimpinya tersebut.

Mereka menjawab, ”(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong. “ (QS.Yusuf [12]: 44)

Dengan segera mereka menunjuk Yusuf yang kini sedang berada di dalam untuk datang menghadap sang Raja. Yusuf berkata, ‘Aku tidak akan meninggalkan penjara ini kecuali jika ketidakmbersalahanku dibuktikan terlebih dahulu.”

Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf berkatalah Yusuf, ”Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya perempuan-perempuan yang telah melukai tangannya. ” (QS. Yusuf [12]: 50)

Ketika mereka membawa perempuan-perempuan itu kepada Raja, mereka semua bersaksi atas [kebenaran] Yusuf, tentang kepolosan dan ketidakbersalahannya. Maka Zulaikha pun mengakui rencana jahatnya itu. Akhirnya dia pun diceraikan oleh sang Raja. Yusuf pun dilepaskan dari penjara dan pergi menghadap kepada Raja di Istana.

Yusuf pun meramalkan tentang makna mimpi sang Raja tersebut yang menandakan akan tibanya dengan segera masa paceklik, kekeringan dan kelaparan yang akan melanda negeri Mesir. Yusuf pun menawarkan suatu jalan keluar (solusi). Akhirnya dia menjadi salah seorang yang sangat dikasihi dan disayangi oleh sang Raja dan akhirnya dia pun menjadi penguasa Mesir.

Rayyan adalah salah seorang yang telah memeluk Islam melalui Yusuf kemudian putri Fozifara ini dinikahkan dengan Yusuf. Mensi dan Efraim adalah nama-nama anak Yusuf. Setelah Rayyan meninggal, Yusuf menikahi Zulaikha setelah usianya dimudakan kembali.

Oleh karena adanya kelaparan yang melanda seluruh negeri Mesir dan sekitarnya, anak-anak Ya’qub pun datang ke Mesir untuk mencari bantuan dari Yusuf. Yusuf pun segera mengenali mereka semua. Setelah itu mereka saling berkenalan dan melepas rasa rindu yang tak mungkin diceritakan di dalam catatan pendek dan singkat ini. Mereka pun membawa baju gamis Yusuf ke Kan’an untuk Ya’qub ayah mereka.

Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka didekatkannya baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. (QS. Yusuf [12]: 96)

Ya’qub tiba di negeri Mesir dalam upacara penyambutan yang sangat meriah, khidmat, dan hangat oleh Yusuf. Yusuf meninggal 3666 tahun setelah turunnya Adam as ke bumi, pada umur 120 tahun.

Doanya di Dalam Sumur

Tatkala Yusuf dilemparkan ke dalam sumur yang gelap gulita, mereka (saudara-saudaranya) berkata kepadanya, “Lepaskan gamismu itu!” Yusuf pun menangis pilu lalu berkata, ”Wahai saudara-saudaraku! Apakah kalian hendak menelanjangiku?!” Salah seorang dari mereka menodongkan pisau kepadanya dan berkata, ”Jika engkau tidak mau menanggalkannya, aku akan membunuhmu.” Yusuf Pun melepaskannya. Mereka lalu menjebloskannya ke dalam jurang sumur yang gelap gulita lalu pergi meninggalkan Yusuf sendirian di dalam sumur itu. Yusuf as berdoa di dalam lubang sumur itu, “Duhai Tuhan Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub. Kasihanilah kelemahanku karena aku sedang berada di dalam sumur dan tanpa harapan ini!”

Siapakah Orang Asing Itu?

Tatkala Yusuf as dikeluarkan dari dalam sumur lalu dijual di pasar Mesir, seseorang bertanya kepada para penjualnya itu, ”Aku menasihati kalian untuk memperlakukan orang asing ini dengan ramah.” Yusuf berkata, ”Orang yang selalu ada bersama Allah bukanlah orang yang asing (kesepian).”

Dari Penjara ke Istana

Tatkala Yusuf keluar dari penjara, dia pun menulis di atas pintu penjara itu, “Ini adalah kuburnya orang-orang yang hidup, rumah duka, pelatihan bagi orang-orang yang jujur (benar), dan kehinaan (celaan) bagi para musuh .”

Ketika Yusuf berdiri di depan pintu istana Raja, dia berdoa, ”Semoga Tuhanku mencukupkan duniaku. Semoga Tuhanku memberikan kemuliaan kepada ciptaan-Nya. Baginya Segala puji dan sanjungan, yang tiada tuhan selain-Nya.”

Ketika Yusuf masuk menemui sang Raja, dia berdoa, ”Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon pada-Mu kebaikanMu dan aku berlindung pada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan selainnya.”

Yusuf dan Orang Miskin

Dikatakan kepada Ya’qub as bahwa di Mesir (sana) ada seorang lelaki yang senantiasa memberi makan orang-orang miskin dan menampung anak-anak yatim di ruangan-ruangan istananya. Maka Ya’qub berkata, ”Kemungkinan dia berasal dari Ahlulbaitku (anggota keluargaku).” Akhirnya mereka pergi melihatnya ke Mesir dan mereka mendapatinya sebagai Yusuf as.”

Diriwayatkan, sesungguhnya Yusuf as tidak pernah kenyang dari menyantap semua makanan yang disajikan kepadanya dalam beberapa hari-hari itu. Maka itu dikatakanlah kepadanya, ”Apakah Anda sangat lapar, sedangkan di genggaman tanganmu terdapat seluruh kekayaan bumi Mesir?” Yusuf berkata, “Sesungguhnya aku takut (khawatir) jika aku kenyang aku akan melupakan orang-orang yang lapar ketika aku sedang menyantap makananku.”

Memaafkan Saudara-Saudaranya

Mereka berkata, ”Demi Allah! Sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah arang-orang yang bersalah (berdosa).” Dia (Yusuf) berkata, “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. ” (QS. Yusuf [12]: 91-92)

Kita dapat menyimpulkan dari cerita ini bahwa salah satu dari pujian atas tindakan manusia yang pantas (layak dipuji) adalah membantu kaum fakir miskin dan memenuhi keinginan mereka dengan cara yang sama sebagaimana Yusuf telah melupakan semua kesalahan yang pernah dilakukan Zulaikha atas dirinya untuk memenuhi keinginannya itu.

(Sumber – Buku: Akhlak Para Nabi; dari Nabi Adam Hingga Muhammad Saw / Taaj Langroodi)

Baca juga: Kisah-Kisah Hikmah Nabi Ya’kub a.s.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top