Monday , July 6 2020
Breaking News
Kisah-Kisah Hikmah Nabi Nuh a.s.

Kisah-Kisah Hikmah Nabi Nuh a.s.

“Nuh as hidup selama 2500 tahun, 850 tahun sebelum diangkat menjadi nabi, 950 tahun dalam dakwahnya di tengah-tengah kaumnya, dan 700 tahun setelah dia turun dari bahteranya, dan menyurutnya air Banjir Bah. ” (Imam Ja’far Shadiq)

Nuh1 as yang disebut sebagai pemuka di antara para nabi dan ”yang diselamatkan oleh Allah “ ini adalah putra Lamukh. Setelah diangkat sebagai nabi, Nuh as menyeru manusia untuk menyembah Allah tetapi dia mengalami penyiksaan yang bertubi-tubi dari kaumnya hingga dia mendapat perintah langsung dari Allah

ter1

“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (QS. Hud [11]: 37)

ter2 ter3

“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan ( menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.” (QS. al-Qamar [54]: 11-12)

Nuh as diperintahkan untuk membawa serta di (dalam) bahteranya semua orang mukmin dan setiap binatang berpasang-pasangan, dan banjir bah pun segera menerjang orang-orang yang tak beriman (kafir). Bahkan putra Nuh as sekalipun ikut diterjangnya. Cerita ini bisa ditemukan di dalam buku-buku sejarah.

Berapa Lamakah Nabi Nuh as Hidup?

Dari Imam Ja’far Shadiq as berkata, ”Nuh as hidup selama 2500 tahun, 850 tahun sebelum diangkat menjadi nabi, 950 tahun dalam dakwahnya di tengah-tengah kaumnya, dan 700 tahun setelah dia turun dari bahteranya, dan menyurutnya air Banjir Bah.”

Baca juga: Kisah Hikmah Nabi Idris a.s.

Ketika Malaikat Maut datang menemui Nuh as, dia bersinar bak mentari. Setelah dia menyambut kedatangannya, Malaikat Maut pun berkata, ”Mengapa engkau masih di sini?” Nuh as pun berkata kepada sang juru pencabut nyawa itu, ”Adakah kedatanganmu ini untuk membawaku pergi ke tempat yang penuh keteduhan dan ketenangan?” Malaikat Maut berkata, ”Ya.” Kemudian Nuh as mengubah posisi duduknya sambil berkata, “Hai Malaikat Maut! Telah terjadi apa yang telah terjadi di dalam hidupku, seperti perubahan posisi cahaya matahari menuju keteduhan (sore dan malam). Maka, sekarang laksanakanlah misimu itu.” Malaikat Maut pun segera melaksanakan urusannya lalu mencabut roh Nuh as dari raganya dan Nuh as pun meninggal dunia saat itu juga.

Menyerukan Tauhid

ter4

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu dia berkata, ”Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Sekali-kali tak ada tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar ( kiamat).” (QS. al-A’raf [7]: 59)

ter5

“Dan ( dia berkata), ”Hai kaumku! Aku tiada meminta harta benda kepada kamu ( sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah.” (QS. Hud [11]: 29)

Dengan Orang-Orang Jahil, Mukmin dan Zalim

Kaum Nuh menyerang dan memukulya. sampai pingsan tak sadarkan diri. Dan ketika bangun, Nuh berdoa, “‘Ya Allah! Ampunilah aku dan kaumku karena mereka adalah orang-orang yang jahil.”

ter6

“Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman.” (QS. Hud [11]:29)

ter7

“Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” (QS. Nuh [71]:28)

Kadang-kadang Nuh as dipukul dengan tongkat, smash dan ditinggalkan di dalam rumah. Tetapi ketika dia sadar, dia mandi, keluar rumah dan menyeru manusia lagi kepada Allah.

ter8

“Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, ”Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman).” (QS. al-Qamar [54]: 9)

Ketekunan Ibadahnya

Dari Abu Abdillah, Ja’far as mengatakan, ”Sesungguhnya Nuh as apabila berada di pagi dan petang hari dia akan berkata,

‘Ya Allah! Sesungguhnya aku bersaksi kepada-Mu bahwa tiadalah aku berada di pagi atau petang hari melainkan mendapatkan kenikmatan di dalam agama ataupun dunia melainkan semuanya bersumber dari-Mu Yang Maha Esa yang tiada sekutu bagi-Mu, bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu Pula ucapan terima kasih atas apa telah Engkau limpahkan atasku hingga Engkau pun rida dan meridai.”

Rasulullah saw bersabda, ”Nuh senantiasa berpuasa setiap saat (hari) kecuali Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.”

Tentang Dunia Dan Rumahnya

Diriwayatkan sesungguhnya Jibril as berkata kepada Nuh as, ”Hai yang paling panjang usianya di antara para nabi! Bagaimana pendapatmu tentang dunia?” Nuh as berkata, ‘Laksana sebuah rumah yang berpintu dua (memiliki dua pintu), aku masuk dari salah satunya dan keluar dari yang lainnya!”

Nuh as bertempat tinggal di sebuah rumah yang terbuat dari wol (bulu domba) selama 1400 tahun, maka acapkali dikatakan kepadanya, ”Wahai utusan Allah! Sebaiknya Anda membangun sebuah rumah dari’ tanah liat (lumpur) dan berlindung di tempat itu.’ Nuh as menjawab, ’Aku akan mati besok dan meninggalkan rumah (tempat tinggal) itu.’ Dia tetap tinggal di rumah ini hingga ajal menjemputnya.”

Rasa Syukurya

Apabila Nuh telah memakai pakaian atau menyantap makanan atau pun meminum air, dia akan bersyukur kepada Allah sambil berucap, ‘Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah).”

Ada yang mengatakan bahwa di permulaan makan dan minumnya, beliau akan mengucapkan: Bismillah (Dengan nama Allah), dan di akhir makan dan minumnya, Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah).

Dimanakah Nuh Menulis Kalimat Suci itu!

Dari Imam Ali Ridha as berkata, ”Sesungguhnya Nuh as tatkala dia menaiki bahtera Allah Azza wa Jalla mewahyukan kepadanya, ‘Hai Nuh! Jika engkau takut tenggelam, maka bertahlillah kepada-Ku seribu kali, kemudian mohonkanlah keselamatan kepada-Ku. Aku akan menyelamatkanmu dari ketenggelaman dan juga orang-orang yang beriman bersamamu itu.

Tatkala Nuh as dan kaumnya telah berada di dalam bahtera dan melepas tali jangkarnya, angin dingin menusuk tulang pun segera bertiup kencang. Karenanya, Nuh tidak mempunyai waktu lagi untuk melantunkan kalimat, ”La ilaha illallah “ yang telah diwahyukan kepadanya tersebut. Dia hanya mempunyai waktu untuk melantunkan kalimat, ”La ilaha illallah” seratus kali saja dalam bahasa Syirianiah dan keadaan di sekitar bahtera pun menjadi tenang kembali.

Nuh as berkata, ”Sesungguhnya kata-kata yang dengannya Allah telah menyelamatkan aku dari ketenggelaman itu benar-benar tidak mau berpisah dariku. Dia berkata, ‘Kemudian dia (Nuh as) mengukir kalimat, “La ilaha illallah di cincinnya.”

Nasihatnya Kepada Anak-Anaknya

Ketika hendak mendekati waktu kematian (ajal)nya/ Nuh as memanggil kedua orang putra dua, berkata, ”Aku melarang kalian berdua melakukan berbagai hal yang merusak dan melarang kalian berdua melakukan pemujaan terhadap berhala dan keangkuhan diri serta memerintahkan kalian berdua selalu mengucapkan, ”La ilaha illallah. Subhanallah wabihamdih di setiap waktu.”

Catatan kaki:

  1. Disebut Nuh karena sering meratapi dirinya . Dalam riwayat lain dia disebut Nuh karena menangis selama 500 tahun. Nama asli Nuh, dari berbagai riwayat Ahlulbait, adalah Sakar, Abdul Ghaffar, Abdul Malik, Abul Aha.

(Sumber – Buku: Akhlak Para Nabi; dari Nabi Adam Hingga Muhammad Saw / Taaj Langroodi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top