Tuesday , December 18 2018
Breaking News
Kisah Perjalanan Cinta Najaf – Karbala

Kisah Perjalanan Cinta Najaf – Karbala

Kisah Perjalanan Cinta Najaf – Karbala

Mengenal Mazhab Syiah di tahun 2008 telah meruntuhkan keyakinan warisan yang Saya anut. Namun untuk menyatakan sikap sebagai penganut Syiah bukanlah hal yang mudah.

Allah begitu sayang kepada hambanya, hingga saya dipertemukan kembali dengan saudara lelaki saya. Dialah yang terus membimbing saya memahami dan memperkenalkan pemikiran Syiah, secara dialektis, hingga saya sampai pada keyakinan

Pada bulan Juli lalu, saya diajaknya untuk berangkat Ziarah Arbain ke pusara Imam Husain as di Karbala. Sangat mengejutkan, antara percaya dan tidak, tetapi ajakan itu saya sambut dengan antusias penuh semangat, tanpa berpikir panjang saya langsung mengatakan “Iya, Insyaallah.

Selanjutnya pertanyaan-pertanyaan dalam hati pun menyelimuti, ada bimbang yang disebabkan oleh minimnya informasi. Salah satu pertanyaan terpendam dalam hati kala itu adalah “Mungkinkah saya akan bertemu dengan para maksumin, meski hanya makam sucinya?.”

Tibalah saatnya berangkat ke Jakarta untuk bergabung dengan saudara-saudara sesama pecinta Ahlulbait menuju Najaf, dalam rombongan Ahlulbait Indonesia (ABI). Suasana hati tetap diliputi perasaan antara percaya dan tidak bahwa keberangkatan itu semakin dekat. Hati semakin terharu, serasa Imam Husain semakin dekat dan panggilannya semakin kuat menggema dalam hati. Inilah perjalanan yang sangat istimewa sepanjang hidup saya, sebuah perjalanan suci.

Ziarah pertama ke haram Amirul Mu’minin Ali Bin Abi Thalib as, syukur alhamdulillah, untuk menyentuh haram Imam Ali Bin Abi Thalib As, meski banyak orang berkumpul dan memadati haram beliau namun sangatlah mudah untuk menyentuhnya. Seolah ada yang menuntun tangan saya untuk sampai menyentuhkan tangan kotor ini ke dinding-dinding dan jeruji makam yang berkah dan suci itu.

Perjalanan dari Najaf menuju Karbala bagi saya adalah suatu perjalanan spiritual yang banyak mengandung makna yang sangat berharga bagi kehidupan umat manusia di sini tak dibedakan pangkat maupun jabatan, tak ada si kaya dan si miskin, semua melebur jadi satu dalam kecintaan pada wilayah Ahlulbait, Labbayka Yaa Hussein!!

Meski kaki ini terasa perih untuk berjalan di hari ke-3, dengan penuh keyakinan saya pasti bisa melewati semua prosesi bersama rombongan. Hari ke-4 adalah hari terakhir perjalanan untuk sampai di Karbala, tetap dengan semangat penuh dalam perjalanan cinta, gejolak kerinduan dan rasa haru bercampur kuat dalam hati. Meski sempat terpisah jauh dari rombongan namun akhirnya bisa berkumpul kembali bersama rombongan. Dan akhirnya saya bisa bersimpuh disamping pusara suci kekasih Allah, Putra Ali dan Fathimah cucunda Rasulullah Saw. Terima Kasih yaa Allah….

Labbayka Yaa Husain!!
Labbayka Yaa Husain!!
Labbayka Yaa Husain!!

 

Kisah perjalanan Ziarah Arbain Laode Amrin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top