Tuesday , July 14 2020
Breaking News
Konsepsi Islam tentang Alam Semesta yang Satu

Konsepsi Islam tentang Alam Semesta yang Satu

Apakah alam semesta yang beruang waktu yang diciptakan Allah itu benar-benar satu? Apakah keesaan Allah, yaitu keesaan Zat-Nya, keesaan Sifat-sifat-Nya dan keesaan perbuatan-Nya mengharuskan ciptaan-Nya juga satu? Kalau alam semesta merupakan satu unit yang solid dan bertalian, bagaimana sebenarnya pertaliannya itu?

Apakah organis, dalam pengertian bahwa hubungan berbagai bagian alam semesta dengan keseluruhan alam semesta adalah seperti hubungan berbagai anggota badan dengan tubuh, atau apakah mekanis sehingga berbagai bagian alam semesta adalah seperti berbagai komponen sebuah mesin?

Alam semesta merupakan sesuatu yang tak dapat dipotong-potong. Kalau satu bagiannya tidak ada, berarti alam semesta itu sendiri tak ada. Dan kalau apa yang disebut keburukan itu sirna, maka sirna pula alam semesta.
Kaum Filosof modern, khususnya Filosof besar Jerman, Hegel. Mendukung pandangan yang mengatakan bahwa hubungan antara alam dan berbagai bagiannya adalah seperti hubungan tubuh dan anggota tubuh. Namun demikian, diterima atau tidak diterimanya argumen-argumen yang dikemukakannya, tergantung pada diterima atau tidak diterimanya segenap prinsip filsafatnya.

Para pendukung materialisme dialektis berpandangan seperti ini juga. Mereka mati-matian mempertahankan pandangan ini di bawah prinsip efek timbal balik dan interdependensi hal-hal kontrakdisi, dan mengklaim bahwa di alam semesta hubungan antara satu bagian dan alamnya itu sendiri bersifat organis, namun ketika mereka mengemukakan argumen, maka yang dapat mereka buktikan hanyalah hubungan mekanis. Sesungguhnya, berdasarkan filsafat materialistis, tidaklah mungkin membuktikan bahwa alam sebagai keseluruhan adalah seperti tubuh, dan hubungan bagian-bagiannya dengan alam itu sendiri adalah seperti hubungan anggota badan dan tubuh.

Hanya kaum Filosof Ilahiah yang—sejak dahulu berpandangan bahwa alam adalah makrokosmos sedangkan manusia adalah mikrokosmos—telah menggambarkan hubungan ini dengan benar. Dan kalangan Filosof Muslim, Ikhwan ash-Shafa, adalah yang banyak menekankan hal ini. Bahkan lebih dan kaum filosof, kaum
sufi memandang alam semesta sebagai satu unit. Menurut mereka, seluruh kosmos merupakan satu perwujudan tunggal Realitas Ilahiah. Kaum ahli makrifat menyebut alam semesta “tumpahan suci.” Mereka mengatakan bahwa alam semesta itu seperti kerucut, puncak kerucut yang ada kontak dengan Allah tak dapat dilihat, dan dasar kerucut sangat luas sekali.

Realitas alam semesta adalah “dari-Nya” dan “kepada-Nya”. Bahwa alam semesta bukanlah semata-mata realitas yang bergerak dan terus berubah, namun alam semesta itu sendiri merupakan perwujudan dari gerakan dan perubahan terus-menerus, merupakan fakta yang tak terbantahkan. Fakta ini sudah dapat dibuktikan oleh filsafat Islam. Ketika mengkaji gerak, juga sudah dijelaskan bahwa satunya permulaannya, satunya akhir (tujuan)-nya dan satunya jalannya membuat gerakan-gerakannya satu. Karena itu, bila melihat fakta bahwa awal (permulaan) alam semesta itu satu, akhir (tujuan)-nya satu, dan jalan evolusionernya juga satu, maka jelaslah bahwa alam semesta itu merupakan semacam satu unit tunggal.

Kasat Mata dan Tak Kasat Mata

Menurut konsepsi Islam tentang kosmos, alam merupakan agregat (satuan yang terbentuk dari) segala yang kasat mata dan yang tak kasat mata. Menurut konsepsi ini, alam semesta terbagi menjadi alam kasat mata dan alam tak kasat mata. Al-Qur’an Suci sendiri menyebut yang kasat mata (syahadah) dan yang tak kasat mata (gaib) , khususnya yang gaib. Mempercayai yang gaib merupakan rukun iman. Al-Qur’an Suci memfirmankan:

Mereka yang mempercayai yang gaib. (QS. al-Baqarah: 3)

Di sisi-Nya kunci-kunci untuk segala yang gaib. Hanya Dia sajalah yang mengetahuinya. (QS. al-An’am: 59)

Ada dua macam kegaiban (tak kasat mata) : Kegaiban relatif dan kegaiban mutlak. Kegaiban relatif adalah sesuatu yang tak dapat ditangkap indera seseorang karena sangat jauh letaknya. Misal, bagi seseorang yang ada di Teheran, Teheran kasat mata sedangkan Isfahan tak kasat mata (gaib) . Namun bagi seseorang yang ada di Isfahan, Isfahan kasat mata sedangkan Teheran gaib.

Dalam beberapa tempat, Al-Qur’an Suci menggunakan kata “gaib” (tak kasat mata) dalam pengertian yang relatif ini juga. Al-Qur’an Suci menerangkan: Peristiwa-peristiwa gaib (yang tak diketahui) ini yang telah Kami wahyukan (singkapkan) kepadamu, tidak pernah kamu mengetahui dan tidak pula kaummu sebelum ini. (QS. Hud: 49)

Jelaslah, kejadian-kejadian kaum di masa lalu adalah “gaib” bagi masyarakat dewasa ini, sekalipun kejadian-kejadian tersebut “terlihat” oleh orang-orang yang menyaksikannya. Di tempat lain, kata “gaib” digunakan Al-Qur’an Suci untuk realitas-realitas yang mutlak gaib. Ada bedanya antara realitas-realitas yang nampak jelas oleh indera namun tak nampak karena letaknya yang sangat jauh, dan realitas-realitas yang tak nampak dan gaib karena realitas-realitas tersebut non-material dan tak terbatas.

Ketika Al-Qur’an Suci mengatakan bahwa orang mukmin mempercayai yang gaib, maka yang dimaksud bukanlah kegaiban relatif, karena siapa pun, apakah dia beriman atau kafir, mempercayai kegaiban relatif. Lagi, ketika Al-Qur’an Suci mengatakan bahwa di sisi Allah saja kunci-kunci semua yang gaib, maka maksudnya adalah kegaiban mutlak, karena makna ayat tersebut tidak sesuai dengan kegaiban relatif. Begitu pula dengan ayat-ayat yang menyebutkan hal yang kasat mata dan hal yang gaib. Misal, Al-Qur’an Suci menyebutkan: Dialah yang mengetahui yang gaib dan yang kasat mata. Dan Dialah Yang Maha Pemurah lagi Mafia Penyayang. (QS. al-Hasyr: 22)

Ayat itu juga merujuk kepada kegaiban mutlak, bukan kepada kegaiban relatif. Bagaimana saling hubungan antara dua alam ini, yaitu alam kasat mata dan alam gaib? Apakah alam kasat mata ada garis batasnya, yang berada di luar garis batas tersebut adalah alam gaib? Misal, apakah dari bumi ke langit ada alam kasat mata, dan di luar itu ada alam gaib? Jelaslah, konsepsi semacam itu carut-marut Kalau kita berasumsi bahwa dua alam ini dipisahkan oleh garis pemisah yang bersifat fisis, maka itu artinya bahwa dua alam ini fisis dan material. Hubungan antara yang gaib dan yang kasat mata tak dapat dijelaskan secara material. Paling banter, yang dapat kita katakan agar hubungannya dapat dipahami adalah, bahwa hubungan dua alam ini hampir mirip dengan hubungan antara tubuh dan bayangannya. Dengan kata lain, alam ini merupakan refleksi alam lain.

Al-Qur’an Suci menunjukkan bahwa segala yang ada di alam ini merupakan “bentuk rendah” dari apa yang ada di alam lain. Penyebutan “kunci-kunci” dalam ayat di atas, dalam ayat lain disebut “khazanah”. disebutkan dalam Al-Qur’an Suci: Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kamilah khazanah-nya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu. (QS. al-Hijr: 21)

Berdasarkan inilah Al-Qur’an Suci memandang segala sesuatu, bahkan batu dan besi, itu diturunkan. Kami turunkan (ciptakan) besi. (QS. al-Hadîd: 25)

Ini tidak berarti bahwa segala sesuatu, termasuk di dalamnya besi, merupakan pindahan dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Sesungguhnya segala yang ada di dunia ini, maka “akar” dan “hakikat”-nya ada di alam lain, yaitu alam gaib, dan segala yang ada di alam gaib, maka “bayang-bayang” dan “bentuk rendah”-nya ada di dunia ini.
Al-Qur’an Suci menyebutkan bahwa mengimani kegaiban itu wajib hukumnya. Al-Qur’an Suci juga memerintahkan supaya kita mengimani para malaikat, para nabi dan Kitab-kitab Suci. “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (QS. al-Baqarah: 285)

Barangsiapa kafir kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan Hari Akhir, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (QS. an-Nisâ’: 136)

Dalam dua ayat ini Kitab-kitab Allah disebutkan secara tersendiri. Seandainya yang dimaksud adalah Kitab-kitab Suci yang diwahyukan kepada para nabi, maka tentu saja sudah cukup dengan hanya menyebutkan para rasul. Itu menunjukkan bahwa di sini arti Kitab-kitab tersebut adalah beberapa realitas yang berbeda. Al-Qur’an Suci sendiri merujuk kepada beberapa kebenaran yang tersembunyi. Al-Qur’an Suci menyebut kebenaran-kebenaran ini “Kitab yang nyata”, “lembar yang terjaga”, “Kitab induk”, “Kitab yang tertulis”, dan “Kitab yang tersembunyi”. Mengimani Kitab-kitab metafisis seperti ini merupakan bagian dari doktrin Islam. Para nabi pada dasarnya datang untuk memberdayakan umat manusia untuk, sejauh mungkin, memiliki pandangan umum tentang seluruh sistem penciptaan. Yang diciptakan itu bukan saja apa-apa yang terinderakan dan material yang menjadi bidang kajian ilmu-ilmu eksperimental. Para nabi ingin mengangkat pandangan manusia, dari yang terinderakan ke yang terpahamkan, dari yang kasat mata ke yang gaib, dan dari yang terbatas ke yang tak terbatas. Sayangnya, gelombang pemikiran materialistis yang terbatas yang datang dari Barat telah menyebar sedemikian rupa, sehingga sebagian orang bersikeras menurunkan konsepsi Islam yang tinggi dan substansial tentang dunia ke tingkat hal-hal yang terinderakan dan material.

Murthada Muthahari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top