Monday , November 18 2019
Breaking News
Krisis Guru Matematika

Krisis Guru Matematika

Kelas-kelas menjadi tenang. Semua canda dan riuh teriakan bersahut-sahutan bak pasar ikan, tiba-tiba berhenti. Begitulah keadaan beberapa kelas pada sekolah-sekolah yang sempat dikunjungi dalam survei kecil yang dilakukan beberapa waktu lalu.

Bukan karena ada polisi atau petugas pengamanan sekolah yang menyuruh diam para murid, tapi karena sebentar lagi akan tiba jadwal pelajaran matematika. Guru matematika tiba-tiba berubah menjadi “hantu” yang menakutkan.

Citra guru matematika berubah menjadi ditakuti. Tergambar suara guru matematika akan meninggi jika para murid tak lekas mengerti pelajaran.

Pada satuan pendidikan yang lebih rendah, guru kelas mengajarkan matematika merangkap beberapa mata pelajaran lain. Pelajaran matematika pun tidak begitu menyulitkan guru untuk menenangkan murid. Semua itu karena minat murid untuk belajar matematika sangat-sangat rendah.

Beberapa tahun lalu hasil uji PISA (Program for International Student Assesement) dan uji TIMSS (Trend for International Mathematic and Sciences Study) melaporkan bahwa peringkat siswa Indonesia kelas 2 SMP/MTs hanya selapis di atas Bostwana Afrika.

Kompas.co.id melansir fakta ini sebagai darurat matematika. Namun sebenarnya guru matematikalah yang amat penting untuk melakukan refleksi mendalam. Demikian juga kebijakan pengembangan kompetensi guru sudah waktunya dievaluasi. Khususnya metode pembelajaran juga sudah harus mendapat perhatian khusus.

Guru matematika perlu memahami karakteristik dasar matematika sebagai pilar utama pembelajaran logika bersama kemampuan berbahasa. Sejak dini, desain pembelajaran pada lembaga pendidikan prasekolah hingga pendidikan dasar dan menengah harus mengandung pembelajaran logika dan bahasa yang tepat. Pembelajaran matematika secara khusus pun harus diperhatikan dan diperlakukan sebagai kegiatan pemecahan masalah (problem solving).

Sebagai kegiatan problem solving setiap guru matematika ditantang menyajikan pembelajaran matematika secara variatif. Dengan demikian, pembelajaran matematika akan menjadi kegiatan harian yang dirasakan manfaatnya oleh para murid. Ini diharapkan menjadikan matematika tidak lagi menakutkan, guru matematika pun menjadi person yang dibutuhkan dan semoga krisis matematika juga dapat diakhiri. (Abu Murtadha/Abi)

Baca juga:Dunia Pendidikan Terpapar Radikalisme

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top