Friday , September 20 2019
Breaking News
Kunjungan Berkesan Ke Sekolah Gratis Cendikia

Kunjungan Berkesan Ke Sekolah Gratis Cendikia

Selasa (13/10), 28 mahasiswa  STAIMI Depok melakukan kunjungan ke sekolah Cendekia yang terletak di Desa Babakan Kecamatan Ciseeng, Bogor  dari pukul 08.00-12.00 WIB.  

Rombongan terdiri dari 13 mahasiswa dan 15 mahasiswi aktivis Sanggar Pelangi. Sanggar untuk anak-anak pemulung yang awal berdirinya didorong adanya tugas mata kuliah Civic Education itu terletak di Kecamatan Pancoran Mas, Depok. 

Kunjungan dimaksudkan untuk menumbuhkan spirit  bagi mahasiswa STAIMI dalam pengabdian di  dunia pendidikan, terlebih di Sanggar Pelangi. 

“Biar bisa sharing dan belajar dari pengalaman kakak-kakak  alumni,” papar Fahmi Nuari, Ketua BEM yang mengorganisir acara tersebut.

Liku Perjalanan Pejuang Cendekia

Dalam kunjungan ini, banyak kesan, motivasi, dan aspirasi yang didapat. Mulai dari keikutsertaan mahasiswa STAIMI dalam kegiatan belajar-mengajar sampai kisah pendirian sekolah Cendekia yang ternyata tidak mudah. Banyak hambatan-hambatan dalam prosesnya, baik hambatan dari luar seperti sangkaan masyarakat bahwa pengurusnya sesat, maupun hambatan dari dalam seperti kondisi bangunan dan dana  yang masih terbatas. Namun, dengan adanya dukungan dan kerja keras akhirnya Hadi sukses mendirikan sekolah Cendekia tersebut.

Sekolah Cendekia merupakan sekolah yang dirintis oleh Hadi Suryanto, alumni STAI Madinatul Ilmi angkatan pertama (1997). Menurut Hadi, pendirian sekolah Cendekia berawal dari kegiatan KKN mahasiswa STAIMI pada tahun 2002 di Desa Babakan Kecamatan Ciseeng Kabupaten Bogor. Rendahnya tingkat pendidikan di sanalah yang membuat Hadi bersama teman-temannya; Ajad, Handoko, Salman, Iqra, dan Sulis  kembali ke desa Babakan setelah KKN selesai.

 “Karena PKL di sini jadi bolak-balik ke sini. Trus sampai bolos kuliah 4 kali pertemuan setiap mata kuliah,” papar Hadi. 
Namun, menurut Iqra biarpun harus bolos kuliah, tidak mungkin meninggalkan Cendekia. Apalagi saat masih di awal, ketika tingkat kesusahan di Cendekia masih berat.

 “Kalo saya, datang ke Cendekia setelah PKL di sini,” terang Iqra yang saat  ini mengajar bidang Seni dan Bahasa Inggris. 

“Sekarang malah ditunjuk secara paksa sebagai kordinator SMP,” kisah Iqra disambut tawa alumni dan mahasiswa STAIMI.

Kisah berbeda disampaikan Ajad. “Saya datang ke Cendekia karena terpaksa, karena bener, terpaksanya tuh di Cendekia ngga ada guru. Trus tadinya ke Cendikia tuh seru-seruan aja, ngga niat mau ngajar atau apa. Cuma mau nyari cupang karena suka, eh…malah akhirnya disuruh ngajar,” cerita Ajad.

 Menurut Ajad, sekolah gratis Cendekia ternyata tidak menjadi jaminan muridnya banyak. 

“Definisi gratis jangan-jangan ini cuma hal yang biasa, sepertinya masih melekat di benak masyarakat Desa Babakan Kecamatan Ciseeng, sehingga masih banyak yang lebih memilih sekolah berbayar.

Lain Ajad lain Handoko. Aktivis yang bergabung di Cendekia sejak November tahun 2011 ini semula bertugas sebagai tenaga Administrasi dan belum mengajar. Namun ketika rapat tiba-tiba ditunjuk sebagai  pengajar. 

“Hal penting yang mungkin temen-temen bisa renungin,” ungkap Handoko, “Adalah apa yang saya sempat baca: Jadi guru itu memang tugas mulia, tapi gajinya kecil, padahal dia mendidik anak-anak agar menjadi anak yang baik. Tapi artis yang bukan pekerjaan mulia dan bukan tugas mulia, yang menghancurkan anak-anak ternyata gajinya lebih besar.”

Motivasi Sang Pelopor

Hadi mengemukakan bahwa cita-cita itu tidak harus setinggi langit. Karena seringkali cita-cita itu dikaitkan dengan kedudukan yang tinggi, terpandang, berpenghasilan banyak. Padahal selama kita menyukai apapun dan ada tujuan mulia di baliknya, itu sendiri adalah cita-cita. Karena itu di sekolah Cendekia lebih banyak mengajarkan cinta kasih yang meliputi segala aspek kehidupan. Karena dengan cinta kasih maka akan terbentuk keharmonisan dalam kehidupan. Inilah yang disebut pendidikan manusia.

“Mereka adalah anak-anak hebat, ketika tidak hebat, maka tidak akan pernah ada guru,” ucap Hadi. 

Hadi menambahkan, anak pendiam bukan berarti mereka tidak berani. “Mungkin dia pendiem tapi otaknya jalan, kita ngga tahu.” 

Karena itu Hadi berpesan agar kita memandang semua anak hebat dan bagaimana kita membantu mereka menemukan dirinya sendiri, jangan orang lain yang menemukannya. 

“Mungkin mereka hanya pemungut sampah, tapi mereka punya keindahan hati. Kita ngga tahu,” papar Hadi.

Berdirinya Cendekia sebagai buah komitmen Hadi dan kawan-kawan, saat ini telah didukung YASMIN (Yayasan Imdad Mustadhafin) Amal Khair. 

“Buatlah sentra kebajikan yang di situ, orang bisa berbuat baik dan orang bisa berubah. Minimal dengan pendidikan, orang tidak akan mengganggu orang lain karena kesadaran untuk hidup lebih baik. Nah, makanya begitu saya ngajar di MI, salah satu hal yang dulu kita cetuskan, sekarang sudah nongol berupa Sanggar Pelangi,” pesan Sulis, yang saat ini juga mengajar di STAIMI. (Rahma/Yudhi)

One comment

  1. Syiah 12.. berkinerja lah.. dgn tekad kuat & semangat baja.. pantang menyerah..! Demi tegaknya aqidah Islam Muhammadi & kemaslhtn komunitas Syiah yg notabene masih dlm kondisi terzalimi, terintimidasi, terjajah.. lahir ~ bathin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top