Wednesday , October 16 2019
Breaking News
Lagu Lama Saudi di Hadapan Tragedi Mina dari Masa ke Masa

Lagu Lama Saudi di Hadapan Tragedi Mina dari Masa ke Masa

Tragedi Mina yang mengakibatkan gugurnya ribuan korban jemaah haji dari seluruh dunia mungkin sudah mulai redup dari pemberitaan media massa, tapi tidak bagi keluarga dari 5 jemaah haji Indonesia yang hingga saat ini masih dinyatakan hilang.
 
Sementara laporan terakhir (7/10) tercatat 123 jemaah haji asal Indonesia yang meninggal dunia dalam tragedi tersebut. Itu berarti Indonesia merupakan negara ketiga dengan jumlah korban terbesar pada tragedi Mina tahun ini setelah Iran dengan 465 jemaah dan Mesir dengan 148 jemaah yang wafat.
 
Update jumlah korban dari sejumlah negara yang jemaahnya hilang atau meninggal terus dilakukan, namun anehnya Saudi Arabia sebagai negara yang menjadi pengelola pelaksanaan ibadah haji belum juga mengupdate jumlah korban sejak dua hari setelah kejadian (26/9) yakni jumlah korban 769 jiwa meninggal dan 934 jemaah yang terluka, sementara masih banyak juga jemaah yang dilaporkan masih hilang.
 
Reaksi atas Tragedi
 
Reaksi atas terjadinya tragedi Mina pun bermacam-macam. Iran sebagai negara dengan jemaah korban terbesar melakukan kritik keras atas Saudi, sementara di Indonesia dikabarkan, DPR mendukung Presiden jokowi untuk melayangkan nota protes atas tragedi Mina.
 
Tapi tak mau kalah dengan negara-negara yang jemaah hajinya menjadi korban, Saudi pun berkomentar atas terjadinya tragedi Mina yang salah satunya disampaikan oleh Menteri Kesehatan Saudi, Khalid al-Falih yang menyalahkan jemaah yang tidak mematuhi aturan yang telah ditetapkan oleh otoritas Saudi.
 
Tak mau kalah, Menteri yang menangani haji Arab Saudi juga sependapat dengan Menteri Kesehatan Saudi, Khalid, bahwa tragedi ini akibat jemaah tidak mematuhi aturan lempar Jumrah yang telah ditetapkan oleh Saudi.
 
Pernyataan para menteri Saudi ini juga diperkuat oleh Ulama Saudi Sheikh Abdul Asis al-Sheikh dengan mengatakan bahwa tragedi Mina adalah “Nasib dan Takdir” yang tak bisa dielakkan.
 
Padahal, penyelidikan terhadap tragedi Mina belum juga tuntas, namun para Menteri dan Ulama Saudi sudah berani membuat kesimpulan.
 
Tragedi Mina Era 90-an
 
Alasan-alasan yang disampaikan oleh otorias Saudi, baik oleh para menteri dan ulamanya ternyata bukan hal yang baru dan telah menjadi alasan yang terus berulang-ulang disampaikan hampir dalam setiap tragedi Mina sejak 25 tahun yang lalu. Tepatnya sejak tragedi Mina tanggal 2 Juli 1990 yang mengakibatkan 1.426 jemaah haji meninggal dunia.
 
Pada saat itu Menteri Dalam Negeri Saudi, King Fahd mengatakan “Jika jemaah haji mengikuti petunjuk, kecelakaan itu dapat dicegah.” Dia juga mengatakan bahwa kejadian tersebut akibat jemaah haji dalam jumlah besar memasuki lorong yang tak mampu menampung kapasitas.
 
Kemudian pada 23 Mei 1994, setelah empat tahun berlalu, tragedi Mina kembali berulang, 270 Jamaah haji meninggal dalam prosesi lempar jumrah. Seperti halnya kejadian sebelumnya, otoritas Saudi Arabia juga mengeluarkan pernyataan yang sama yaitu akibat jumlah jamaah haji yang melebihi kapasitaslah yang menjadi penyebab tragedi tersebut.
 
Empat tahun kemudian setelah tragedi tahun 1994, pada 9 April 1998 kembali 180 jemaah haji meninggal akibat terinjak-injak di jembatan Jamarat saat akan melakukan prosesi lempar Jumrah.
 
Kini giliran Jenderal Ahmad Bilal, Direktur Jenderal Keamanan Publik Saudi Arabia mengatakan bahwa sekitar 700.000 jemaah berkerumun untuk melakukan lempar jumrah pada siang hari. Kemudian menutup peryataannya dengan pertanyaan “Apa yang pemerintah Saudi dapat lakukan jika jemaah tidak mengikuti instruksi kami?”
 
Setelah empat tahun berturut-turut, tragedi Mina terulang lebih cepat yaitu tiga tahun setelah tragedi tahun 1998, yaitu pada 5 Maret 2001. Pada Tragedi saat itu sekitar 35 jemaah haji dinyatakan meninggal akibat terinjak-injak saat melakukan prosesi lempar jumrah.
 
Seorang pejabat pertahanan sipil Arab Saudi mengatakan bahwa tragedi saat itu terjadi karena jemaah berdesak-desakan yang mengakibatkan sejumlah jemaah jatuh, terutama mereka yang sudah lanjut usia dan pada akhirnya meninggal dunia.

Tragedi Mina Era 2000-an
 
Dua tahun kemudian, tragedi Mina kembali terulang, pada 11 Februari 2003, 14 jemaah haji meninggal dunia pada saat melempar jumrah. Menghitung dari jarak waktu kejadian memang semakin dekat mulai dari empat tahun, kemudian tiga tahun dan kini dua tahun setelah tragedi sebelumnya.
 
Namun, melihat jumlah korban jiwa yang terus menurun memberikan respon positif terhadap otoritas Saudi Arabia yang mungkin belajar dan melakukan perbaikan dari tragedi-tragedi sebelumnya.
 
Tapi melihat alasan yang disampaikan oleh pejabat otoritas Saudi, tetap tidak ada perubahan.
 
Jenderal Abdul Aziz bin Mohammed bin Said mengatakan bahwa tragedi Mina pada saat itu terjadi karena bertabrakannya arus jemaah yang kembali dari melempar jumrah dengan para jemaah yang akan melakukan lempar jumrah.
 
Lagi-lagi adalah kesalahan dari para jemaah.
 
Setahun kemudian, pada 1 Februari 2004, Tragedi Mina seperti De Ja Vu, sekitar 251 jemaah haji meninggal dunia akibat terinjak-injak saat melempar jumrah.
 
Menteri yang bertanggung jawab atas pelaksanaan haji pada tahun itu, Iyad Madani mengatakan bahwa beberapa jemaah haji tidak dapat diatur dan tetap membawa barang bawaannya saat melakukan lempar jumrah.
 
Lebih lanjut Madani menerangkan bahwa kerumunan orang dengan jarak 400 meter mendorong ke arah yang sama dan ini menyebabkan sejumlah jemaah jatuh dan menimbulkan kepanikan.
 
Madani juga menambahkan bahwa segala sesuatu telah dilakukan oleh otoritas Saudi untuk mencegah terjadinya tragedi namun pencegahan tak sekuat takdir, tegasnya.
 
Seperti halnya Anda yang membaca tulisan ini, berharap tragedi segera berakhir, begitupun penulis, tapi ternyata belum!
 
12 Januari 2006, tragedi Mina kembali terjadi, lagi!

Tercatat 346 jemaah haji meninggal terinjak-injak di dekat jembatan Jamarat dan darah umat Islam kembali tertumpah dengan sia-sia.
 
Tragedi kali ini, menurut juru bicara kementerian Arab Saudi, Mansour bin Sultan al-Turki karena sejumlah tas milik jemaah yang jatuh di dekat pintu jembatan Jamarat dan terburu-burunya jemaah yang dibelakangnya mengakibatkan jemaah meninggal terinjak-injak.
 
Mansour sepertinya mengikuti pendahulunya dengan mengatakan bahwa tragedi Mina ini adalah kesalahan para jemaah yang memaksa melakukan prosesi lempar Jumrah pada siang hari.
 
Di media lain, Mansour menegaskan bahwa tragedi ini adalah takdir Allah, selain akibat sejumlah jemaah yang tidak disiplin dan terburu-buru untuk menyelesaikan prosesi lempar jumrah dengan cepat.
 
Kesekian kalinya pejabat otoritas Saudi menyalahkan jemaah haji atas tragedi yang terjadi.

Tragedi Mina 2015
 
Hingga tragedi terbaru belum lama ini pun,(24/9/2015) otoritas Saudi tetap menyalahkan jemaah atas gugurnya lebih dari 1000 jemaah. Bahkan ada yang memperkirakan sekitar 4000 jamaah meninggal dunia.
 
Alasan yang dibuat oleh para pejabat otoritas Saudi seperti lagu lama yang terus diputar kembali dalam setiap tragedi Mina.

Seperti yang penulis telah sampaikan di bagian awal bagaimana para pejabat otoritas Saudi Arabia dan bahkan ulama pun turut serta menyalahkan para jemaah dan juga menegaskan bahwa tragedi ini adalah takdir.

Padahal ulama Indonesia,  Chalid Mawardi, sudah sejak tragedi Mina pertama tahun 1990 mengatakan bahwa Pemerintah Saudi tidak bisa lari dari tanggung jawab atas musibah di terowongan Mina dengan hanya mengatakan bahwa ini adalah takdir Allah.
 
Akankah kita tetap mendengarkan lagu lama yang telah dinyanyikan selama 25 tahun oleh para pejabat Saudi? Untuk empat, lima atau 25 tahun mendatang? Atau saat ini kita sepakat bahwa harga darah kaum Muslimin yang meninggal itu cukup mahal dan oleh sebab itu lagu usang tak perlu lagi diputar dan kini biarkan hasil investigasi mendalam dan transparan yang berbicara lantang? (Lutfi/Yudhi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top