Sunday , September 22 2019
Breaking News
Lima Model Relasi Agama-Budaya

Lima Model Relasi Agama-Budaya

Dalam seminar “Melacak Jejak Sejarah Islam dan Islam Nusantara: Mencari Hubungan Organik Antara Islam dan Kebudayaan”. Husein Heriyanto, Intelektual Muslim dari Sadra Institute Jakarta, mengatakan, hubungan antara agama dan kebudayaan di Indonesia ini muncul begitu saja. Padahal kalau di Barat sudah dilakukan studi relasi teologi dengan budaya.

Bentuk hubungan antara agama dan kebudayaan, menurut Heriyanto dapat dielaborasi menjadi lima model relasi. Pertama, ‘mutual exclusive‘ yaitu dua wilayah yang asing dan terpisah satu sama lain.

“Dalam hal ini agama dipandang sebagai ajaran dari langit, absolut, transendental, sakral dan universal, sementara budaya dipersepsi sebagai profan, partikular, dan bercorak etnis,” katanya di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (13/8).

Muncullah anggapan agama sebagai urusan privat sedangkan sosial kebudayaan sebagai urusan publik. Pandangan seperti ini dianut kalangan liberal dan literal.

“Antara kelompok liberal dan literal dalam memandang relasi antara agama dan budaya sama. Kelompok liberal memandang agama urusan privat dan kebudayaan urusan publik, di sisi lain kelompok literal berpandangan segala sesuatu yang tidak ada petunjuk dari agama haram dilakukan alias bid’ah,” ujarnya.

Model relasi ke dua lanjut Heriyanto, bersifat interseksi (irisan). Model relasi ini hampir sama dengan yang pertama. Agama bersumber dari wahyu Tuhan, sedangkan budaya adalah hasil kreasi manusia. Namun keduanya memiliki titik singgung atau wilayah garapan yang sama.

Relasi ke tiga bersifat saling mencakup (subset-superset), yaitu yang satu merupakan bagian dari yang lain. Ada yang berpandangan agama bagian dari kebudayaan, dengan kata lain agama salah satu bentuk kebudayaan manusia.

Yang ke empat, kata Heriyanto, relasi yang bersifat manifestasi. Budaya dipandang sebagai manifestasi dan ekspresi keagamaan dalam lintasan sejarah.

“Ketika agama dipandang sebagai universal dan absolut, lalu hadir dalam kehidupan manusia, maka agama harus hadir dalam lintasan sejarah yang berwujud hasil kreasi manusia,” paparnya.

Karena itu para agamawan ada yang mempersepsi agama sebagai tajalli asma-asma Allah. Selama ini tajalli dilihat secara kosmologi sebagaimana
misalnya gunung-gunung sebagai tajalli Allah.

“Hampir tidak ada yang berpandangan, kreasi sebagai tajallinya Allah sebagaimana kebudayaan juga dilihat sebagai tajallinya Allah,” kata Heriyanto.

Relasi ke lima menurut Heriyanto bersifat identik. Agama dan budaya dipersepsi sebagai dua nama untuk satu realitas. Maksudnya, lanjut Heriyanto, sistem dan tatanan yang menjadi sumber visi dan cara hidup manusia yang dikomunikasikan melalui sistem simbol tertentu dan diwariskan melalui tradisi.

“Dari lima model ini manakah yang paling tepat menggambarkan relasi antara Islam dengan kebudayaan? Saya sendiri condong model relasi yang ke empat,” katanya.

Karena Islam merupakan ajaran yang disampaikan Tuhan melalui Nabi Muhammad saw, selain berisi ajaran yang menyangkut keyakinan, terdapat juga ajaran tentang pandangan dunia, ajaran cara hidup serta sistem sosial dan hikmah.

Sementara budaya jika dikaji secara ilmiah, misalnya yang terbaru, penelitian Edward Taylor, kebudayaan adalah cara memahami eksistensi manusia dalam kehidupan yang di dalamnya terdapat nalar atau akal budi yang bertujuan mencari hikmah.

“Menurut saya hikmah bisa diusung untuk mempertemukan hubungan organik antara Islam dengan kebudayaan,” pungkasnya.

Seminar yang dihadiri para dosen dan akademisi dari pelbagai universitas di Yogyakarta ini merupakan pre-seminar dalam rangka persiapan seminar berskala internasional yang akan diadakan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta November mendatang. (Lam Yaim/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top