Thursday , October 24 2019
Breaking News
#MaknaHaji: Arafah [bag 1]

#MaknaHaji: Arafah [bag 1]

Dengan mengenakan pakaian ihram dan meninggalkan Makkah, engkau akan memulai perjalanan ke arah timur (Arafah), dan di sana engkau harus wukuf (berdiam) hingga matahari terbit pada tanggal 9 Zulhijah. Dalam perjalanan pulang dari Arafah engkau akan berhenti sejenak di Masy’ar dan kemudian di Mina. Mengapa harus berhenti sejenak? Segera akan kita ketahui!.

Pembahasan sebelumnya #MaknaHaji: Masy’ar [bag 1] dan [bag 2]

Apabila dalam prosesi-prosesi sebelumnya engkau diperintahkan untuk berjalan perlahan-lahan dan selangkah demi selangkah, maka sekarang engkau harus berjalan tanpa berhenti dan dengan penuh semangat bagaikan seorang pencinta sejati, sepanjang jalan menuju Arafah tanpa istirahat. Dari pagi hari kesepuluh sampai hari kedua belas (atau hari ketiga belas kalau mau) engkau harus berdiam di Mina.

Tidak ada rambu-rambu yang membedakan tiga daerah ini satu sama lain. Sebuah jalan sempit sekitar lima belas mil panjangnya menghubungkan ketiga daerah ini dengan lembah kota Makkah. Sepanjang jalan ini tidak ada monumen-monumen yang bersifat alamiah, historis, atau religius dan juga tidak ada indikator yang memisahkan satu daerah ke daerah lainnya. Maka yang menjadi batas-batasnya hanyalah fase-fase hipotetis; (berdasarkan hipotesis) dari aksi yang engkau lakukan.

Faktor penting lainnya adalah penekanan pada berdiam di ketiga ‘fase’ ini. Alasan rekomendasi ini tidaklah sesederhana perintah beristirahat di Arafah pada tanggal 9 Zulhijah atau singgah di Masy’ar hanya untuk mengumpulkan tujuh puluh buah batu kerikil.

Engkau harus berdiam di Mina pada tanggal 11 dan 12, dua hari setelah hari kurban (tanggal 10). Meskipun tugasmu hampir selesai menjelang tengah hari tanggal 10 setelah melaksanakan kurban yang kemudian dilanjutkan dengan melempari setan, namun engkau masih harus tinggal di Mina.

Sebagaimana dapat engkau saksikan, singgah itu bukan untuk tinggal tapi hanya berhenti sebentar pada saat dalam perjalanan bersama kafilah. Sepanjang jalan ini, engkau berhenti bila rombongan berhenti dan engkau mulai bergerak bila mereka berangkat dari satu fase ke fase lainnya. Pada setiap fase yang engkau ikuti, berhentilah sejenak dan kemudian bergerak satu fase. Karena Mina merupakan fase terakhir di mana engkau akan tinggal selama 3 hari, maka ingatlah bahwa Mina bukan tujuan!.

Kapan engkau menyelesaikan perjalanan ini? Ke manakah tujuan kafilah? Sesungguhnya perjalanan ini tidak akan pernah berhenti! dan, tidak menuju ke mana pun! lalu, sedang menuju ke mana engkau? Jawabnya adalah menuju ke keabadian, menuju Allah! Allah adalah yang Mutlak, Dia adalah yang Abadi. Karena itu, perjalananmu adalah gerakan menuju keindahan yang mutlak, pengetahuan yang mutlak, kekuasaan yang mutlak, keabadian dan kesempurnaan! Perjalanan tersebut merupakan Sebuah gerakan yang tiada henti dan abadi.

Dalam perjalanan ini Allah bukanlah ‘tujuan’, melainkan ‘arah’. Bagi manusia maka segala sesuatu bersifat temporer, berubah, musnah dan mati; namun, gerakan yang abadi mi berkelanjutan dan arahnya senantiasa ke sana!.

Segala sesuatu akan lenyap kecuali wajah Dia. (QS. al-Qashash: 88)

Engkau berangkat dari Makkah dan langsung datang ke Arafah. Sekarang engkau bergerak fase demi fase kembali ke Ka’bah.

Sesungguhnya kami dari Allah dan sesungguhnya kepada Dia kami kembali. (QS. al-Baqarah: 56)

Yang kita bicarakan hanyalah ‘gerakan’, gerakan pergi dan gerakan datang. Selalu ada gerakan ke arah sesuatu dan bukan dalam sesuatu. Itulah sebabnya mengapa haji merupakan suatu gerakan yang mutlak. Ia bukan sebuah perjalanan karena setiap perjalanan akan sampai pada ujungnya. Haji adalah suatu sasaran mutlak dan gerakan eksternal ke arah sasaran itu. Oleh karena itu, haji bukanlah suatu tujuan yang bisa kita capai, tapi suatu sasaran yang berusaha kita dekati. Itulah sebabnya ketika kembali dari Arafah engkau ditinggal di Mina di balik dinding Ka’bah dan tidak di dalam Ka’bah. Inilah makna dari ‘mendekati’ bukan ‘mencapai’.

Ketika kembali kepada Allah maka ada tiga fase yang harus dilalui: Arafah, Masy’ar, dan Mina. Ketiganya bukan tiga tempat yang engkau kunjungi. Maksud dari menekankan periode-periode berhenti pada masing-masing fase dan juga keputusan untuk melewati fase-fase ini penting sekali untuk diketahui. Apa gerangan makna dari tiga fase ini? Allah sendiri telah menamai ketiga tempat itu dengan nama-nama yang ada di surga:

Arafah berarti: ‘Pengetahuan’ dan ‘sains’
Masy’ar berarti: ‘Kesadaran’ dan ‘pemahaman’
Mina berarti: ‘Cinta’ dan ‘keimanan’

Berangkat dari Makkah ke Arafah (sesungguhnya kami dari Allah) dan kemudian kembali dari Arafah ke Ka’bah (sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali). Arafah melambangkan awal penciptaan manusia. Dalam kisah Adam as. (penciptaan manusia di muka bumi), dikatakan: Setelah Adam turun ke bumi, ia bertemu Hawa di Arafah, di sanalah mereka saling berkenalan.

Turunnya Adam itu karena diperintahkan untuk meninggalkan surga setelah ia melakukan pelanggaran. Surga ini bukan surga yang dijanjikan untuk kaum beriman di akhirat nanti, melainkan surga di bumi dan juga tempat kelahiran Adam. Di lingkungan yang tertutupi semak belukar dan pepohonan, Adam makan, minum, menghibur diri, hidup tanpa tanggung jawab apa pun dan tidak punya kewajiban kerja. Ia sangat puas sampai iblis juga membangkang dengan tidak mau bersujud kepada manusia, mulai membisikkan kejahatan kepadanya. Manusia yang diberi ilham oleh Allah, baik orang saleh maupun yang bermoral bejat, dibujuk oleh iblis untuk melanggar ‘batas-batas’ yang ditetapkan kepadanya sehingga membangkang dan memakan buah terlarang. Iblis berkata kepada manusia bahwa dengan memakan buah itu ia akan hidup lebih lama dan lebih tercerahkan.

Kearifan, semata yang dibisikkan Oleh iblis tidaklah membuat manusia terbujuk, sehingga Adam menolak memakan buah terlarang. Lalu, setan menemui Hawa yang melambangkan ‘cinta’. Maka setelah dibujuk dengan kearifan dan cinta akhirnya Adam pun mau memakan buah terlarang. Kearifan dan’ cinta’ ternyata mampu meluluhkan sang ‘malaikat’ dan menjadikannya sebagai ‘Adam’!

Adam adalah satu-satunya ‘malaikat’ yang bisa berbuat dosa dan kemudian ‘tobat’. Ia bisa ‘membangkang’ atau taat. Dalam hal ini, ‘membangkang’ berarti memiliki kemerdekaan, termasuk kemampuan untuk membuat berbagai keputusan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Mengiringi kebebasan untuk membuat keputusan ini adalah tanggung jawab dan kesadaran. Akibatnya: kepuasan, kenikmatan dan kesenangan Adam digantikan dengan negeri yang penuh dengan tuntutan, ketamakan dan rasa sakit atau  “turun dari surga”.

Inilah awal dari sebuah kehidupan baru bagi orang (Adam) yang sadar, suka membangkang, dan bertanggung jawab yang menjadi korban rasa sakit, tuntutan dan ketamakan. Ia terasing dan merasa kesepian di dalam penjara bumi ini. Adam merasakan kegelisahan karena terpisah sehingga ia mengungkapkan segala keluhannya dalam bahasa agama, pengetahuan, sufisme, seni, literatur dan kehidupan! Ia menerima beban akibat membangkang, ‘kegelisahan yang alami terhadap dosa’ dan keinginan yang bersifat naluriah untuk bertobat.

Apa hubungannya peristiwa ini dengan ibadah haji? Haji merupakan contoh hidup dari pena ciptaan manusia atau pertobatannya, Haji menuntut adanya kesadaran diri yang meliputi perasaan sebagai orang terasing dan terbuang. Konsekuensinya yang muncul adalah keputusan untuk ‘kembali’.

Ali Syari’ati

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top