Saturday , August 17 2019
Breaking News
#MaknaHaji: Kurban

#MaknaHaji: Kurban

Sebelumnya #MaknaHaji: Tiga Berhala [bag 1] dan [bag 2]

Setelah engkau menembak berhala terakhir, segeralah berkurban karena ketiga berhala ini merupakan patung-patung trinitas dan simbol dari tiga fase setan. Senantiasalah sadar akan niatmu dan jangan melupakan maknanya. Ketahuilah apa yang sedang engkau lakukan dan mengapa melakukannya? Ritus-ritus haji ini jangan sampai menyesatkanmu sehingga melupakan tujuanmu semula. Semua ritus ini merupakan ‘isyarat’, maka hati-hatilah dalam melihat apa yang harus engkau saksikan. Jangan sampai engkau dibingungkan oleh segala prosedur dan teknik, dan yang harus engkau pahami adalah makna-makna ritus haji tersebut, bukan formalitasnya.

Setiap aksi yang dilakukan selama ibadah haji tergantung pada dan didahului oleh niat, dan aksi apa pun tanpa didahului niat tidak akan diterima. Niat juga wajib ketika hendak puasa, dan jika engkau lupa mengucapkannya maka entah bagaimana engkau akan merasakan akibat kelalaian tersebut. Hal yang sama berlaku dalam Perang Suci (jihad). Jika engkau tidak mengikrarkan niat untuk berjihad maka engkau hanyalah seorang prajurit yang sedang bertempur. Dalam ibadah haji segala aksimu tidak ada gunanya kalau tidak didahului niat karena formalitas ini merupakan ‘isyarat’; ‘tandai dan ‘simbol’. Secara fisik seseorang hanya menyentuhkan dahinya di atas tanah jika ia tidak memahami makna sujud. Orang yang tidak menghayati hakikat haji maka ketika pulang dari Makkah ia hanya membawa koper yang penuh dengan oleh-oleh dan hati yang kosong. Selama ibadah haji engkau:

  • Menyatakan monoteisme (tauhid) dengan melakukan tawaf
  • Mengulangi perjuangan Hajar dengan melakukan sa’i.
  • Menunjukkan turunnya Adam dari surga dengan meninggalkan Ka’bah menuju Arafah.
  • Menunjukkan falsafah penciptaan manusia, evolusi pemikiran dari sains murni ke sains cinta, dan naiknya roh dari lumpur menuju Tuhan dengan meninggalkan Arafah menuju Mina.

Fase terakhir dari evolusi dan idealisme atau kemerdekaan mutlak dengan kepasrahan mutlak atau fase Ibrahim berlangsung di Mina. Kini engkau akan berperan sebagai Ibrahim. Ia membawa anaknya Ismail untuk dikorbankan. Siapa atau apa yang menjadi Ismailmu? Jabatan, kehormatan, atau profesimukah? Uang, rumah, ladang pertanian, mobil, cinta, keluarga, pengetahuan, kelas sosial, seni, pakaian, ataukah nama? Kehidupan, masa muda, dan kecantikanmukah? Bagaimana aku mengetahuinya? Engkau sendiri yang mengetahuinya. Siapa pun dan apa pun, engkau harus membawanya untuk dikorbankan di sini. Aku tidak dapat memberitahumu yang mana harus dikorbankan, tetapi aku dapat memberimu petunjuk yang harus kau korbankan adalah segala sesuatu yang melemahkan imanmu, yang menahanmu untuk melakukan ‘perjalanan’, yang membuatmu enggan memikul tanggung jawab, yang menyebabkanmu bersikap egoistis, yang membuatmu tidak dapat mendengarkan pesan dan mengakui kebenaran dari Tuhan, yang memaksamu untuk ‘melarikan diri’ dari kebenaran, yang menyebabkanmu berkilah demi kesenangan, yang membuatmu buta dan tuli.

Engkau berada di maqam Ibrahim, dan yang menjadi kelemahan Ibrahim adalah perasaan cintanya kepada Ismail (anaknya). Ia digoda oleh setan. Bayangkanlah dirimu berada di puncak kehormatan, penuh dengan kebanggaan dan hanya ada ‘satu hal’ yang demi hal itu engkau siap menyerahkan apa pun dan mengorbankan kecintaan selain demi meraih cintanya. Itulah Ismailmu! Ismailmu bisa berwujud manusia, objek, pangkat, jabatan atau bahkan ‘kelemahan’. Namun bagi Ibrahim maka korban itu adalah anaknya. Menjelang akhir kehidupannya, Ibrahim menyaksikan seabad perjuangan, gerakan, keterluntaan, jihad, konfrontasi melawan kejahilan kaumnya, penindasan oleh Namrud dan fanatisme kaum penyembah berhala. Ibrahim yang cerdas dan suka memberontak menjalani masa mudanya di rumah Azar, seorang penyembah sekaligus pembuat patung yang fanatik. Istrinya yang mandul, Sarah, adalah seorang aristokrat yang fanatik, Ibrahim melaksanakan tugas sulit sebagai seorang nabi yang menyerukan tauhid (monoteisme) di dalam sebuah sistem sosial yang zalim. Dalam abad kegelapan ini Ibrahim penanggung seabad penderitaan dan menciptakan kesadaran serta kecintaan akan kemerdekaan pada masyarakat yang begitu terbiasa dengan penindasan.

lbrahim semakin tua dan kesepian. Walaupun berada di puncak kenabiannya ia tetap seorang manusia, dan seperti manusia lainnya ia ingin mempunyai seorang anak. Istrinya tidak subur sementara dia sendiri sudah berusia lebih dari seratus tahun. Ia ingin punya anak tapi tidak terlalu berharap. Allah memberikan ganjaran kepada orang tua ini atas waktu yang dia gunakan dan penderitaan yang dialaminya selama menyampaikan pesan Allah. Allah mengaruniainya dengan seorang anak (Ismail) dari hamba sahaya perempuannya, Hajar. Hajar adalah seorang perempuan kulit hitam yang tidak cukup ‘terhormat’ untuk menimbulkan kecemburuan dalam hati istri pertama Ibrahim, Sarah.

Ismail bukan hanya sekadar seorang anak untuk bapaknya, tapi ia juga buah hati yang sudah didambakan sepanjang hidup, dan imbalan bagi kehidupan yang penuh perjuangan sebagai anak tunggal, Ismail adalah anak yang sangat dicintai dari seorang bapak tua yang sudah bertahun-tahun menanggung penderitaan. Bagi Ibrahim, Ismail adalah anaknya, tapi yang menjadi Ismailmu mungkin saja adalah engkau, keluargamu, pekerjaanmu, kekayaanmu, popularitas. Bagaimana aku tahu? Bagi lbrahim maka ia tahu bahwa itulah anaknya, seorang anak seperti itu untuk seorang bapak seperti itu.

Di depan matanya, mata yang ditutupi dengan alis yang sudah memutih dan memancarkan kebahagiaan Ismail tumbuh dan mendapat perawatan dan cinta yang terbaik dari bapaknya yang jiwanya begitu teguh tercurah bagi kehidupan anaknya. Bapaknya menganggap Ismail sebagai saudara kandung yang tumbuh dalam kehidupan seorang petani tua,di gurun pasir yang tandus. “Setiap saat dari hari-hari terakhir kehidupannya harus dinikmati.” Ia menikmati kehidupannya dengan memiliki Ismail.

Ismail tidak seperti seorang anak pada umumnya; Karena bapaknya merindukannya selama seratus tahun. Karena kelahirannya tidak diduga-duga oleh bapaknya.

Ismail tumbuh bagaikan sebatang pohon yang kuat. Ia mendatangkan kegairahan dan kebahagiaan dalam kehidupan Ibrahim. Dialah harapan, cinta dan famili bapaknya.

Di tengah kebahagiaan seperti itu turunlah wahyu, “Wahai Ibrahim! Taruhlah sebilah pisau di leher anakmu dan sembelihlah dia dengan tanganmu sendiri.” Dapatkah kita melukiskan betapa terguncangnya Ibrahim dengan turunnya perintah ini? Sekalipun kita hadir di sana menjadi saksi peristiwa ini, pasti kita tidak mampu me
rasakannya. Rasa sakit yang dipikulnya sungguh tak terperikan dan tak terbayangkan. Ibrahim, hamba Allah yang paling setia dan seorang pemberontak terkemuka dalam sejarah manusia, mulai goyah seakan ia hendak roboh, dan tokoh besar yang tak terkalahkan dalam sejarah ini hendak pecah berkeping-keping. Meskipun ia sangat terguncang dengan pesan ini, namun itu adalah perintah Allah.

Peperangan yang paling besar adalah perang melawan diri sendiri, Sang pahlawan yang menang dalam perang terbesar sepanjang sejarah ini terguncang, lemah. ketakutan, terpaku dan putus asa. Ibrahim dihadapkan pada suatu konflik batin untuk memilih antara Allah dan Ismail.

Sungguh keputusan yang teramat sulit! Mana yang akan engkau pilih? Allah atau dirimu sendiri? Kepentingan atau nilai? Keterikatan atau kemerdekaan? Politik atau fakta? Berhenti atau maju? Kebahagiaan atau kesempurnaan? Menikmati atau menanggung sakitnya memikul tanggung jawab? Hidup hanya untuk hidup atau hidup demi tujuanmu? Kedamaian dan cinta atau keyakinan dan perjuangan? Mengikuti sifat alamiahmu atau mengikuti kehendak sadarmu? Meladeni perasaanmu atau meladeni keimananmu? Menjadi seorang bapak atau nabi? Mempertahankan sanak keluarga atau melaksanakan pesan. Dan yang terakhir, Allah atau Ismailmu yang kau pilih? Hai Ibrahim! Pilihlah salah satu!.

Setelah seratus tahun menjalani kenabian di tengah umat manusia, hidup sebagai pemimpin yang berjuang melawan kaum penyembah berhala, kaum jahiliah dan penindas, meraih kemenangan di semua front pertempuran dan berhasil dalam melaksanakan segala tanggung jawab, tidak pernah ada keraguan dalam jalan yang ditempuh, tidak menghiraukan kepentingan pribadi apa pun, menghampiri Tuhan sedekat mungkin yang dapat dilakukan manusia, membangun negeri tauhid, berhasil melewati semua ujian dan jangan tidak sabar, jangan beristirahat, jangan menganggap diri sebagai pahlawan, tak terkalahkan dan tidak punya kelemahan. Kemenangan-kemenangan selama ratusan tahun itu jangan sampai menyesatkan dan menipumu; jangan ‘menganggap dirimu tidak berdosa’.

Jangan merasa aman dan terlindung dari godaan setan. Engkau tidak selalu kebal terhadap kekuatan tidak terlihat yang mengelilingi manusia. Banyak sekali gemerlap keagungan palsu yang membutakanmu. Dia (Allah) lebih mengetahui engkau dibanding dirimu sendiri. Dia mengetahui engkau masih rentan terhadap godaan setan. Dia mengetahui masih ada suatu tempat dari mana engkau dapat menyaksikan dunia dan benda-benda duniawi. Kemudian Dia memutuskan setiap kontak yang terbatas antara engkau dengan dunia ini. Wahai Ibrahim. sang pahlawan yang menang dalam setiap perang terbesar dalam sejarah dengan semangat yang sangat tinggi dan tak terkalahkan! Wahai Nabi Allah yang terkemuka! Jangan mengira urusan antara kami dengan engkau sudah usai. Jarak antara manusia dan Tuhan tidak begitu jauh.

Tuhan lebih dekat kepadanya dibanding urat lehernya. (QS. Qaf: 16)

Tapi jarak itu sama jauhnya dengan ‘keabadian’. Jangan terlalu menganggap enteng!.

Sebagai seorang nabi engkau mencapai klimaks kesempurnaan, tapi dalam ‘ketaatan’ engkau masih belum ‘sempurna’.

Wahai sahabat Allah, pendiri monoteisme (tauhid), pembangun jalan Musa. Isa dan Muhammad saw.! Wahai simbol kemuliaan, martabat dan kesempurnaan manusia -Engkau adalah Ibrahim, tapi untuk menjadi orang yang ‘taat’ jauh lebih sulit. Engkau harus menjadi orang yang ‘bebas secara mutlak”. Jangan terlalu yakin dan bangga terhadap dirimu sendiri karena senantiasa ada kemungkinan untuk ‘jatuh’ dari ‘puncak’ . Kejatuhan dari puncak yang paling tinggi merupakan malapetaka yang mengerikan dan tragis.

Ali Syari’ati

Baca selanjutnya #MaknaHaji: Dialog antara Bapak dan Anak
#MaknaHaji: Pengorbanan Ismail bag 1  dan bag 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top