Saturday , August 17 2019
Breaking News
#MaknaHaji: Mina [1]

#MaknaHaji: Mina [1]

Pembahasan sebelumnya #MaknaHaji: Hari Id dan Pelajaran yang Lebih Penting

Istirahat yang terakhir dan paling lama berlangsung di Mina. Peristiwa ini menandakan harapan, cita-cita, idealisme dan cinta!. Cinta adalah fase terakhir setelah pengetahuan dan kesadaran. Dante (pujangga Italia) yang menganut spiritualisme Timur menulis dalam kitabnya Komedi Ketuhanan, cukup kenali dua fase saja kearifan (Virgil) dan cinta (Beatrice). Namun selama ‘Drama Ketuhanan’ dalam ibadah haji, berlangsunglah tiga fase: pengetahuan, kesadaran dan cinta.

Momen ibadah haji yang paling agung telah tiba, yakni hari ke-10 saat jatuhnya hari Id kurban. Sinar matahari yang sedang terbit di Masy’ar membangunkan para prajurit dari tidurnya. Secara bertahap kelompok-kelompok prajurit dari berbagai penjuru bergabung bersama dan membentuk sebuah aliran sungai yang besar. Setelah membangun sebuah pasukan yang kuat, mereka bersiap-siap untuk meninggalkan Masy’ar lalu pergi ke tempat perberhentian berikutnya di Mina.

Pasukan tauhid telah menghabiskan waktu malam mereka dengan mengumpulkan senjata, berkomunikasi dengan Allah dan menunggu terbitnya matahari. Ketika di Masy’ar mereka adalah ‘penyembah’, namun kini sesampainya di Mina mereka berubah menjadi ‘singa’. Mereka buru-buru menuju Mina dengan membawa cinta yang tulus dan luapan amarah. Hadis Nabi saw:

“Musuh bagi orang-orang kafir dan saudara di antara sesamamu.”

Pasukan mengadakan manuver ke arah barat Mina, yakni negeri Allah dan setan. Senyuman matahari Id telah menggelisahkan semua orang. Ketika para prajurit melewati lorong Muhassar, sebuah jalan yang sangat sempit, maka barisan pun menjadi lebih kompak. Sebagai komandan utama, matahari memerintahkan para prajurit untuk ‘beraksi’, ‘berlari’ dengan ‘langkah-langkah pendek’, ‘tinggal bersama’ dan ‘bergegas’.! Mereka yang dipengaruhi intuisi dan berada dalam keadaan tenang di Masy’ar tiba-tiba menjadi gesit dan resah, dan berlari ke Mina. Mereka berhenti dengan tiba-tiba seolah-olah di hadapan mereka ada sebuah bendungan besar yang tidak dapat ditembus Mereka duduk bersandar seakan tidak bisa lagi maju lebih jauh. Hanya ada sedikit gerakan di ujung kumpulan orang ramai. Apa yang terjadi? Bendungan mana di dunia ini yang memiliki kekuatan seperti sungai yang bergemuruh ini? Siapa gerangan yang mampu memberikan perintah mutlak untuk ‘berhenti’ di sini? Matahari! Dialah sang komandannya.

Kini pasukan berada di depan Mina. jutaan pejuang kemerdekaan yang tidak mau menaati kekuatan apa pun selain Allah berjejalan membentuk barisan panjang. Maka terciptalah garis khayal yang tidak seorang pun berani melangkahinya; dinding gaib ini memisahkan Masy’ar dari Mina. Tidak seorang pun dan kekuatan apa pun mampu mendobrak dinding yang kokoh tersebut, tidak juga Ibrahim as atau pun Muhammad saw. Restriksi semacam itu bukanlah ‘peraturan’ atau ‘perjanjian’, melainkan ‘tradisi’. Itulah tatanan dan sistem yang juga mgngatur keseluruhan alam semesta ini (Allah).

Maka sekali-kali kamu tidak akan menemukan perubahan dalam sunah Allah, dan tidak pula akan menemui penyimpangan bagi sunah Allah itu. (QS. Fathir: 43)

Sebagaimana gaya gravitasi berlaku, dan sebagaimana hidup dan mati merupakan realitas yang tak terelakkan, maka di sini matahari adalah komandannya. Biarkan matahari terbit! Ia akan menembus dinding dengan sorotan cahayanya yang tajam dan membuka jalan untuk lewatnya pasukan, semudah lenyapnya bayang-bayang oleh cahaya. Dinding nyata yang menghentikan pasukan akan segera dirobohkan oleh ‘senyuman pagi hari’. Sepanjang malam, di balik dinding gaib ini, para prajurit yang bersemangat dan bersenjata lengkap telah menunggu terbitnya matahari dan keluarnya perintah. Meskipun malam telah berlalu dan kemilau cahaya mentari pagi menebar, masih ada sedikit waktu sebelum sang mentari menampakkan diri di belahan Timur. Di muka bumi ini, kapan pun dan di negeri mana pun tidak pernah ‘mentari’ memiliki otoritas, seperti ini dalam keheningan yang sangat mencekam ini, jutaan mata dan hati menantikan datangnya aba-aba (untuk menyaksikan sang mentari). Sebagian ada yang sudah mendengar aba-aba duluan karena dilanda rasa gelisah dan putus asa.

Mengapa? Karena aba-aba itu merupakan perintah untuk pasukan yang melambangkan kekuasaan tauhid di muka bumi. Di sini engkau akan menjumpai satu-satunya pasukan dalam sejarah yang diperintah oleh matahari dan satu-satunya negeri yang mau diatur oleh matahari dan sang pagi.

Di Arafah matahari sedang terbit dan muncul di balik gunung. Sang fajar telah membongkar tenda kegelapan dan menyemburkan darah mereka yang mati syahid di tangan kaum penindas atau kaum kafir pada saat ‘menjelang Ied’. Dalam kesempatan ini matahari memerintahkan pasukan tauhid untuk melakukan pembalasan dengan cara menyerang tiga pusat kaum penindas sejarah.

Sungguh saat-saat yang menegangkan! Sang mentari dengan sinarnya, senjakala dengan sorotannya yang menusuk dan sang pagi dengan hembusan lembut anginnya telah membangkitkan semangat semua orang. ‘Tanda-tanda suci dari Allah’ ini yang menunjukkan kebahagiaan, harapan dan keyakinan sedang muncul memberikan perintah untuk berperang dan memberikan kabar baik tentang kemenangan. Mereka hadir untuk menyuruhmu menghancurkan berhala-berhala. Hari ini, basis terbesar setan di muka bumi akan dimusnahkan. Hari ini, politeisme akan dibunuh. Hari ini, tauhid, cinta dan kebaktian akan menampakkan wajah-wajahnya yang agung; dengan kata lain, mereka akan mewujudkan hakikatnya yang sejati.

Tiba-tiba, sang mentari menerangi jalan dan para prajurit diperintahkan untuk lewat. Teriakan bahagia! pancamn sinar matahari dan banjir manusia akan menyatu dan mengalir ke Mina. Manusia yang berjejal kini bukan lagi ‘burung-burung perdamaian yang berwarna putih’ melainkan ‘para pejuang kemerdekaan yang bersenjata’. Inilah sebabnya mengapa perintah harus ditaati dan disiplin harus ditanamkan.

‘Tinggallah di Masy’ar sepanjang malam.’
‘Masukilah Mina pada hari ke-10 (tanggal 10 Zulhijah).’

Saat fajar engkau harus berada di perbatasan Mina. Untuk sampai dan melewati perbatasan ini engkau harus melihat matahari hari ke-10. Mina berada di sebelah Barat sedangkan Arafah berada di sebelah Timur. Ketika pasukan menghadap ke Mina, sang matahari pun terbit di belakangnya yang kemudian melewati pegunungan Arafah dan memasuki Mina.

Oleh karena itu maka matahari juga menunaikan ibadah haji karena ia terbit di Arafah lalu melewati Masy’ar dan memasuki Mina.

Pasukan cinta sudah siap untuk berjihad. Para pejuang kemerdekaan yang datang dari Arafah, dan menghabiskan malam harinya di Masy’ar mengumpulkan senjata dan memperkuat keyakinan harus menunggu di gerbang Mina. Di mana? Di perbatasan sebuah kota yang merupakan pusat kesyahidan dan sekaligus medan Perang. Tunggu dan ikutilah matahari! Bagaimana caranya?

  • Persiapkan dirimu dengan mengumpulkan senjata di malam hari.
  • Jangan memasuki Mina sebelum matahari terbit, karena malam itu merupakan saat yang sudah ditetapkan untuk beristirahat sejenak di Masy’ar.
  • Jangan berada di Masy’ar setelah matahari terbit karena siang hari merupakan waktu yang utama untuk berada di Mina.
  • Mulailah seranganmu pada saat matahari terbit.
  • Terbitnya matahari yang mana? Matahari yang terbit pada hari ke-10 (tanggal 10) Zulhijah.
  • Bila waktu untuk menyerang tiba maka aba-aba ‘matahari’ adalah aba-aba mengenai ‘saat’ untuk menyerang.
  • Taatilah perintah.
  • Satu-satunya yang harus didengar adalah perintah sang matahari.
  • Dan carilah matahari hari ke-10 atau matahari Id.

Ya Allah! Betapa jauh jarak dari perbatasan Mina ke basis-basis setan. Medan perang pun jauh dari jalan masuk ke Mina. Namun demikian, tentu saja Id harus dirayakan setelah engkau menaklukkan setan-setan dengan menembak mereka dan kemudian meraih kemenangan. Namun lihatlah negeri tauhid dan tradisinya. Hari Id telah dirayakan bahkan sebelum pertempuran dimulai.

Ini berarti: Engkau mencapai kemenangan begitu engkau ‘membuat keputusan’.
Ini berarti: Engkau telah memenangkan pertempuran begitu engkau memasuki perbatasan Mina.

Dan apa yang sedang kami katakan ini? Ya Tuhan! Betapa sulit memahami negeri yang sederhana ini! Seberapa komplekskah masyarakat yang lugu ini?

Ini berarti: Engkau akan meraih kemenangan bila waktunya tiba. Kapan waktunya? Jika engkau tiba dan arafah. Jika engkau sudah tinggal di Masy’ar lalu berkomemplasi dan mengumpulkan senjata untuk menghadapi pagi di hari Id.

Tidak, tidak! jika yang paling penting sudah disebutkan ibadah haji itu bagaikan alam; ia merupakan potret sejati Islam, tentunya bukan Islam dalam ‘kata-kata’ tetapi Islam dalam ‘aksi’ (amaliah). Dan haji juga merupakan sebuah ‘simbol’. Semakin dalam engkau menyelami lautan ini, semakin jauh engkau dari ujungnya, dan lautan ini tidak berujung. Artinya, yang engkau selami dari ibadah haji hanya sejauh yang dapat ‘engkau pahami’. Hanya satu orang yang dapat mengklaim bahwa dirinya memahami semuanya, dialah orang yang tidak memahami apa-apa!.

‘Jika-jika’ paling penting yang telah dihilangkan adalah: .

  • Jika engkau datang selama musim haji.
  • Jika engkau telah pergi ke Miqat.
  • Jika engkau berpakaian ihram.
    Apa yang sedang kita katakan?
    Siapakah ‘engkau’?
    Siapakah ‘aku’?

‘Tidak ada yang dapat dilakukan oleh satu orang’! Alquran berbicara tentang manusia bukan ‘satu’ orang, dan kata yang digunakannya sungguh indah, ‘an-Nas’ (manusia), yang berbentuk jamak dan tidak ada bentuk tunggalnya.

bersambung………

Ali Syari’ati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top