Wednesday , December 11 2019
Breaking News
#MaknaHaji: Pengorbanan Ismail [bag 2]

#MaknaHaji: Pengorbanan Ismail [bag 2]

Pembahasan sebelumnya #MaknaHaji: Pengorbanan Ismail [bag 1]

Ibrahim, “engkau harus mengorbankan anakmu”. Bunyi pesan ini lebih jelas. Pesan ini menciptakan pergolakan batin sang pahlawan besar dalam sejarah manusia. Karena digoda oleh setan maka ia merasa ragu, takut, dan lemah. Ia dikalahkan dalam konflik antara Allah dan setan. Jauh dalam lubuk hati manusia ada kontradiksi antara cinta dan kearifan, kehidupan dan keyakinan, demi diri sendiri atau demi Tuhan. Inilah sifat manusia -suatu fenomena antara manusia dan binatang, antara alam dan Tuhan, antara insting dan kearifan, antara langit dan bumi, antara dunia ini dan akhirat, antara cinta terhadap diri sendiri dan cinta terhadap Tuhan, antara realitas dan kebenaran, antara kepuasan dan kesempurnaan, antara harapan dan kenyataan, antara perhambaan dan kemerdekaan, antara ketidakpedulian dan tanggung jawab, antara keimanan dan kekufuran, antara untuk ‘aku’ dan untuk ‘kita’ dan yang terakhir, antara siapa yang ada dan siapa seharusnya.

Pada hari kedua Ibrahim mempertimbangkan antara kecintaannya terhadap Ismail dengan kewajibannya terhadap Allah. Hidup Ismail berada dalam bahaya, setan berupaya menipu Ibrahim persis seperti ketika membujuk Adam untuk memakan “buah terlarang” di surga. Sebagai manusia yang memiliki potensi-potensi dialektis yang tercipta dari lumpur dan roh Allah Ibrahim dilanda keraguan mana yang harus dipilih, anak-nya atau “pesan Tuhan”.

Dan mengilhamkan (kesadaran) tentang mana yang salah dan mana yang benar. (QS. asy-Syams: 8) 

  • Wahai Nabi Allah, pesan itu wajib engkau laksanakan.
  • Wahai Nabi Allah, apakah engkau ingin tetap menjadi bapak untuk anakmu?
  • Apakah aku harus mengorbankan Ismail dengan tanganku sendiri?
  • Benar! Aku harus mengorbankan anakku karena Allah.
  • Kewajiban (ikatan) emosional tidak ada artinya sedikit pun bila dibandingkan dengan ideologiku.
  • Haruskah aku tetap menjadi bapak Ismail atau melaksanakan pesan Tuhan?

Setan berusaha menggoda lagi: “Tapi aku mendengar pesan ini dalam ‘mimpi’-ku; bagaimana mungkin mimpi itu benar?. Dan ini adalah yang kedua kalinya ia menolak untuk mengorbankan anaknya. ‘Korbankanlah anakmu Ismail’. Kali ini pesan tersebut begitu jelas sehingga sulit untuk mencari-cari dalih dengan ‘penjelasan’ macam apa pun untuk menyangkalnya. Ia tidak punya pilihan karena seruan tersebut sejelas hitam dan putih. Setan, dengan segenap kepintaran dan keterampilannya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengubah keputusan itu. Menolak pesan Tuhan berarti menaati setan. Ia berada di tepi lembah yang sangat dalam; duhai apalah jadinya andaikan Ibrahim, sang penghancur berhala-berhala dan Nabi besar pendiri Islam yang memimpin ummah jatuh dari ketinggian puncak tauhid yang gemilang ke dalam lembah kekufuran, bukan kekufuran, tapi keimanan kepada banyak tuhan dan menyembah yang lain di samping Tuhan (musyrik).

Alquran menggambarkan Ibrahim berdiri di Mina menghadapi Allah dan setan. Ia tidak bisa berpihak kepada keduanya dan juga tidak bisa mengabaikan keduanya. Sungguh kisah yang menakutkan, manusia sebagai wakil Tuhan yang dapat berbuat menyerupai Tuhan untuk melakukan nyaris apa pun yang diinginkannya dan mengatur seluruh dunia, di sini ia begitu lemah dan tak berdaya. Ia memiliki roh Tuhan namun juga memiliki kelemahan.

Karena manusia diciptakan lemah. (QS. an-Nisa’: 28)

Di dunia ini tidak ada orang yang lolos dari jatuh. Seperti seorang anak yang baru belajar berjalan, engkau harus berhati-hati agar tidak jatuh. Seandainya Nabi Tuhan yang terakhir dahulu tidak hati-hati maka ia sudah jatuh dan tidak lagi tanpa dosa.

“Jika engkau mempersekutukan Allah maka sia-sialah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang merugi. (QS. az-Zumar: 65)

Di akhir hidupnya, Ibrahim, bapak dari para nabi besar Islam dan sosok paling mulia yang memiliki semangat kemanusiaan dan cinta Allah, digiring ke tepi lubang perangkap ini karena ‘kecintaannya yang wajar terhadap Ismail’ Setelah menjadi orang beriman yang benar dan sejati selama seratus tahun, Ibrahim nyaris saja ditipu oleh setan.

Ibrahim, ‘tidak ada pilihan bagimu’, Allah berada di kanan dan setan di kirimu. Mana yang akan kau pilih? Sekarang tidak ada lagi keraguan terhadap pesan itu. Pencari kebenaran hampir tidak melakukan kesalahan persis sebagaimana lebah madu mencari sarangnya dalam kegelapan, dalam badai gurun pasir atau di atas gunung yang tinggi. Tidak, Ibrahim yang menjalani kehidupan panjang dan dapat dipercaya tidak akan tertipu oleh setan. Menerima pesan Tuhan itu bagaikan terjun ke dalam api; dan setan -musuh manusia- berusaha mengeluarkannya. Engkau tidak bisa membedakan seorang musuh dengan seorang sahabat dari apa yang dia lakukan; penilaian ini jangan didasarkan pada kepentingan sendiri.

Sudah jelas apa yang harus dilakukan lbrahim. Segala keraguan sebelumnya ditimbulkan oleh kecintaannya yang sangat kepada Ismail. Bapak yang tua dan miskin itu benar-benar menantikan seorang anak selama bertahun-tahun. Memang menyakitkan, sungguh menyakitkan!. Duhai tragedi yang begitu menakutkan! kewajiban yang harus dilaksanakan Ibrahim berada di luar kesanggupan seorang bapak tua yang sebatang kara yang harus mengorbankan anaknya. Akan jauh ‘lebih mudah kalau Ibrahim saja yang dikorbankan oleh Ismail. Tentu mudah dan menyenangkan bukan! Tapi tidak, Ismail muda tetap harus mati dan sang bapak tua harus tetap hidup dalam kesepian dan kesedihan, dengan tangan yang sudah keriput dan berlumur darah.

Ketika Ibrahim merenungi bahwa itu adalah pesan Tuhan maka ia benar-benar pasrah, tapi ketika ia berpikir bahwa yang harus ia korbankan itu adalah Ismail maka ia dilanda rasa pilu yang tak tertanggungkan yang meremukkan tulang tubuhnya dan menunjukkan ekspresi sedih di wajahnya. Setan yang melihat Ibrahim dalam keadaan yang mengenaskan itu mencoba untuk memperdayanya lagi. Setan adalah musuh manusia, kapan pun dan siapa pun yang menunjukkan tanda ketakutan, kelemahan, keraguan, kecemburuan, keputus-asaan, dan bahkan kecintaan, maka ia muncul untuk melakukan perbuatan jahatnya. Ia memberikan hiburan dan mencegahmu dari menunaikan kewajiban sehingga kebenaran dari pesan Tuhan pun tidak disadari.

Bahkan kecintaan terhadap anakmu pun merupakan jalan untuk mengujimu. (QS. al-Anfal: 28)

Kecintaan terhadap Ismail merupakan ujian bagi Ibrahim; inilah satu-satunya kelemahan dia manakala berhadapan dengan Iblis. Ibrahim tahu bahwa pesan itu adalah wahyu yang terang dan bahwa ia harus mengorbankan anaknya. Ia merasa sedih dan hatinya hancur berkeping-keping. Suasana hati Ibrahim yang seperti ini dijadikan peluang oleh setan untuk memperdanya lagi. Dengan memanfaatkan situasi, setan muncul di hadapan Ibrahim dan membisikkan hal yang itu-itu juga. “Aku mendengar perintah ini hanya dalam mimpiku”! “Tidak, cukup cukuplah sudah”, Ibrahim berkata kepada dirinya sendiri untuk melawan bisikan hatinya. Ia mengambil keputusan dan pilihannya tegas. Kemerdekaan yang mutlak dengan menaati perintah Allah, yakni mengorbankan Ismail. Inilah kendala terakhir di jalan kemerdekaannya. Ibrahim, memutuskan untuk memberitahukan perintah tersebut kepada Ismail, maka ia memanggilnya, Ismail datang memenuhi panggilan bapaknya dan sang bapak memandangi sang anak dari kepala hingga kaki. Ismail adalah seorang korban, korban yang demikian agung.

Selanjutnya #MaknaHaji: Dialog antara Bapak dan Anak

Ali Syariati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top