Tuesday , February 18 2020
Breaking News
Manuskrip Klasik: Pilar Studi Keislaman Indonesia

Manuskrip Klasik: Pilar Studi Keislaman Indonesia

Riuhnya fenomena Islam Nusantara menjadi tanda bangkit dan berkembangnya diskusi keislaman di Indonesia. Inilah yang diutarakan oleh Rektor Universitas Paramadina, Firmanzah, Ph.D, dalam membuka Seminar Arah Studi Islam di Indonesia: Tantangan dan Prospek, Rabu (19/18), di Jakarta.

“Lima-enam tahun terakhir kembali muncul berkembang, bangkit diskusi keislaman di Indonesia,”ujar Firmanzah. “Di sini kita ingin melanjutkan cita-cita Cak Nur untuk menciptakan studi Islam yang berkarakter Nusantara, yang rahmatan lil alamin, memayungi dan mengayomi, namun juga tidak gagap dengan teknologi dan perkembangan zaman.”

Fachry Ali, MA, salah seorang pembicara menyebutkan bahwa dalam studi Islam Indonesia, pertama yang harus dilakukan adalah melakukan studi terhadap Indonesia itu sendiri.

“Jika mau melakukan studi Islam, langkah pertama yang harus dilakukan adalah studi tentang Indonesia itu sendiri. Sejarahnya, perbenturan politiknya, sosialnya, dan seterusnya,”ujar Fachry. “Seperti yang dilakukan Cak Nur.”

Manuskrip Klasik, Sumber Primer Islam Indonesia

Imam Ash ShadiqSenada dengan Fachry, Prof. Dr. Oman Fathurrahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah menekankan, kunci penentu arah studi keislaman di Indonesia terletak pada sumber primernya, yaitu manuskrip klasik Islam.

“Kenapa pemikiran Cak Nur itu aspek keislamannya sangat kuat? Karena direkonstruksi berdasarkan sumber-sumber primer,”ujar Oman.

“Semakin menggunakan sumber yang lebih asli (manuskripnya), maka akan semakin kuat. Ibaratnya jika menarik anak panah dari busurnya, semakin jauh ke belakang, semakin kuat lesatannya ke masa depan,”ujar Oman.

Pentingnya menggunakan sumber primer ini juga diamini oleh Prof.  Muhammad Ali, Ph.D dari Religious Studies Department, University of California, Riverside.

“Di Amerika, dunia akademisnya tidak murni akademisi. Malah menurut saya anti akademis, karena kajian-kajian keislamannya sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor politik,”ujar Muhammad.

“Inilah pentingnya merujuk ke manuskrip klasik yang asli, sehingga kita tidak bergantung pada rumusan orang-orang Barat, para Orientalis yang tentu memiliki perspektif dan konstruksi tertentu demi kepentingan politiknya,” tambah Muhammad.

“Karena itu teks dan konteks filologi mesti diperkuat. Tak ada alasan Islam klasik tak dikaji. Inilah pilar membangun keislaman Indonesia. Tak hanya ilmu untuk ilmu, tapi ilmu untuk aksi, ilmu untuk gerakan dan perubahan,”pungkas Oman. (Muhammad/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top