Friday , November 22 2019
Breaking News
Masa Keimamahan Imam Husain A.s Hingga Syahidnya

Masa Keimamahan Imam Husain A.s Hingga Syahidnya

Rasul Saw bersabda: “Ini kedua anakku (Hasan dan Husain) adalah imam, baik ketika mereka bangkit (melakukan revolusi) maupun duduk (melakukan perdamaian)” 

Permulaan imamah Imam Husain bin Ali as bersamaan dengan tahun ke-10 pemerintahan Muawiyah. Muawiyah pada tahun 41 H/661 . [1] setelah perjanjian damai dengan Imam Hasan as, ia mengambil pemerintahan dan membangun dinasti Umayah. Sumber-sumber literatur Ahlusunah menilai bahwa Muawiyah adalah seseorang yang cerdik. [2] Ia secara lahir menjalankan ajaran-ajaran agama dan bahkan untuk memperkuat pemerintahannya, ia memanfaatkan ajaran-ajaran akidah dan menggunakan siasat politik untuk mempertahankan kekuasaannya. [3] Ia menilai bahwa pemerintahannya merupakan karunia Allah dan qadha Ilahi. [4] Ia menganggap memiliki kedudukan seperti Nabi bagi masyarakat Suriah, sebagai orang-orang saleh, sebagai pembela agama dan ahkamnya. [5] Dalam sumber-sumber sejarah dituliskan bahwa Muawiyah telah merubah sistem kekhalifahan menjadi kesultanan dan kerajaan [6] dan secara terang-terangan berkata bahwa ia tidak akan berurusan dengan keagamaan masyarakatnya. [7]

Salah satu masalah yang ada pada masa pemerintahan Muawiyah adalah adanya kepercayaan Syiah di antara masyarakat, khususnya masyarakat Irak. Kaum Syiah adalah musuh Muawiyah sebagaimana Khawarij yang juga merupakan musuh Muawiyah, namun Khawarij tidak memiliki basis massa, tidak seperti kaum Syiah karena adanya pengaruh Imam Ali dan ahlulbait yang memiliki pelindung yang kuat. Oleh karena itu, Muawiyah dan pegawai kerajaannya, menggunakan cara-cara yang lembut dan keras dalam menghadapi masyarakat.

Salah satu tindakan yang diambil oleh Muawiyah adalah menanamkan kebencian masyarakat kepada Imam Ali as seperti dengan cara melaknat Imam Ali pada masa pemerintahannya dan hal ini berlanjut secara terus menerus pada masa dinasti Umayah. [8] Muawiyah setelah memperkuat kekuatannya, mengambil langkah untuk menekan kaum Syiah dan kepada pegawainya memerintahkan untuk menyingkirkan nama-nama pecinta Ali as dan menghapus mereka akan haknya untuk menerima uang dari baitul mal dan tidak menerima kesaksiannya. [9] Ia juga mengancam orang-orang yang mengatakan tentang kebaikan Imam Ali hingga ahli hadis menyebut Imam Ali dengan sebutan ‘seorang laki-laki dari suku Quraisy’, salah seorang sahabat Nabi saw dan Abu Zainab. [10]

Dalil-Dalil Imamah

Setelah kesyahidan Imam Hasan as sebagai saudaranya, Imam Husain menduduki posisi imamah pada tahun 50 H/670 dan hingga tahun 61 H/681 mengemban amanah pemimpin bagi kaum Muslimin. Ulama Syiah di samping memiliki dalil-dalil umum untuk menetapkan keimamahan para Imam, [11] juga memiliki dalil untuk menetapkan keimamahan setiap Imam. Syaikh Mufid dalam kitab al-Irsyādbmenuliskan tentang hadis-hadis yang berkaitan dengan imamah Imam Hasan as diantaranya ketika Nabi Muhammad saw bersabda: Ini kedua anakku (Hasan dan Husain) adalah imam, baik ketika mereka bangkit (melakukan revolusi) maupun duduk (melakukan perdamaian)” [12]

Demikian juga ketika Imam Ali as syahid menjelaskan keimamahan Imam Husain as setelah imamah Imam Hasan as. [13] Imam Hasan ketika syahid juga mewasiatkan kepada Muhammad bin Hanafiyah bahwa Husain bin Ali as adalah orang yang akan mengemban posisi imamah setelahnya. [14] Syaikh Mufid dengan berargumen dengan menggunakan hadis ini menetapkan keimamahan Imam Husain as. Menurut perkataan Syaikh Mufid, Imam Husain as karena bertaqiyyah dan karena adanya peristiwa Perjanjian Damai Imam Hasan as dengan Muawiyah, selama Muawiyah masih hidup, Imam Husain as tidak mengajak masyarakat untuk membaiat kepadanya dan keimamahannya tidak ditampakkan, namun setelah Muawiyah meninggal, Imam Husain as menjelaskan keimamahannya kepada orang-orang yang belum memahami. [15]

Dalam sumber-sumber referensi disebutkan bahwa sebelum Imam Husain as keluar dari Madinah pada tahun 60 H/680, sebagian wasiat-wasiat dan wadayi’ (tanda-tanda keimamahan) imamah dititipkan kepada Ummu Salamah, istri Nabi [16] dan sebagian lainnya sebelum syahadahnya, pada bulan Muharam tahun 61 H/681 diberikan kepada putrinya, Sayidah Fatimah az-Zahra sa [17] dan selanjutnya diberikan kepada Imam Sajjad as.

Setia kepada Perjanjian Damai Imam Hasan a.s

Imam Husian as selama masa pemerintahan Muawiyah berlangsung, tetap setia kepada perjanjian perdamain yang dibuat oleh saudaranya. [18]Dalam menjawab surat sebagian pengikut Syiah yang menerima kepemimpinannya dan hendak melawan Bani Umayyah berkata: Sekarang keyakinanku tidaklah demikian, bahwa aku harus melawan Muawiyah, selama Muawiyah masih hidup, tetaplah berada di rumah-rumah kalian dan jauhilah tindakan-tindakan yang akan membahayakan kalian. ApAbia ia mati, dan aku masih hidup, aku akan menuliskan pendapatku. [19]

Sikap Imam Husain a.s terhadap Kebijakan Muawiyah

Meskipun Imam Husain as selama masa kekuasaan Muawiyah tidak melakukan tindakan apapun yang menunjukkan perlawanannya kepada Muawiyah, namun menurut Rasul Ja’fariyan[20], seorang sejarawan masa kini, hubungan antara Imam Husain as dan Muawiyah dan perundingan antara keduanya menunjukkan bahwa Imam Husain as secara jelas tidak menerima kekuasaan Muawiyah, adanya surat-surat yang banyak antara Husain bin Ali dan Muawiyah menunjukkan hal itu.

Dari laporan sejarah bisa dipahamai bahwa Muawiyah seperti tiga khalifah secara lahir menghormati Imam Husain as [21] dan kepada orang-orangnya berkata bahwa jangan melawan anak Rasulullah dan jangan sampai tidak menghormatinya. [22][23]

Protes Terhadap Pembunuhan Penolong Imam Ali as

Tindakan Muawiyah yang membunuh orang-orang seperti Hujr bin Adi, Amr bin Umq Khazai dan Hadhrami beserta para pengikutnya adalah diantara yang mendapat kritikan dan perlawanan Imam Husain as yang paling sulit dan keras. [24] Berdasarkan laporan sejarah, Imam Husain as menulis surat kepada Muawiyah dan mengecam tindakan brutal yang dilakukan kepada penolong Imam Ali as. Imam Husain as berkata: Aku tidak memiliki cara yang mulia kecuali berjihad melawanmu demi untuk membela jiwaku dan agamaku sendiri. Dalam lanjutan suratnya, Imam Husain as menulis: Aku tidak melihat fitnah terbesar dalam umatku kecuali fitnah atas pemerintahan yang berada di atas pundakmu. [25]

Demikian juga dinukilkan bahwa ketika Muawiyah sedang berhaji [26] ia berhadap-hadapan dengan Imam Husain. Ia berkata: Apakah kamu mendengar tindakan apa yang kami ambil atas Syiah kalian dan penolong ayahmu? Imam menjawab: Apa yang kalian lakukan? Muawiyah menjawab: Mereka kami bunuh, kami kafani, kami salati dan kami kuburkan. Imam Husain as bersabda: Namun apabila kami membunuh pembela kalian, mereka tidak akan kami kafankan, tidak akan kami salatkan dan tidak akan kami kuburkan. [27]

Protes terhadap Pengangkatan Putra Mahkota bagi Yazid

Pada tahun 56 H/676, Muawiyah tidak menepati isi Perjanjian Damai bahwa seharusnya ia tidak mengangkat putra mahkota sebagai penggantinya (Muawiyah menyuruh masyarakat untuk membaiat Yazid sebagai pengganti bagi dirinya). [28] Sebagian tokoh-tokoh seperti Imam Husain as tidak mau memberikan baiatnya kepada Yazid. Muawiyah pergi ke Madinah untuk meminta dukungan supaya pembesar Madinah memberi dukungan kepada keputusannya tentang pengangkatan Yazid sebagai putra mahkotanya. [29] Imam Husain as dalam majelis yang dihadiri oleh Muawiyah, Ibnu Abbas dan sebagian pembesar keluarga Umawiyyah, mengecam Muawiyah dan dengan mengisyaratkan tentang keburukan Yazid, Muawiyah diingatkan supaya hati-hati dalam menentukan penggantinya disamping juga menjelaskan kedudukannya dan membatalkan argumen Muawiyah untuk memberikan baiatnya kepada Yazid. [30]

Demikian juga dalam majelis lain yang dihadiri oleh kebanyakan masyarakat, Imam Husain as dalam memberikan reaksi perkataan Muawiyah tentang kelayakan Yazid, Imam Husain as menilai bahwa dirinya lebih layak untuk memegang tampuk kekhalifahan sedangkan Yazid adalah orang yang gemarnya mabuk-mabukan dan menuruti hawa nafsu. [31]

Khutbah Imam di Mina

Imam Husain as pada tahun 58 H/678, dua tahun sebelum Muawiyah meninggal, berpidato yang isinya pemrotesan terhadap Muawiyah di Mina. [102] Pada masa itu, tekanan yang diberikan Muawiyah kepada pengikut Syiah sangat keras. [33] Dalam khutbah ini, beliau disamping menjelaskan tentang keutamaan Amirul Mukminin as dan Ahlulbait, mengajak untuk melakukan “amar ma’ruf dan nahi munkar” dan menekankan pentingnya kewajiban ini, mengingatkan kewajiban ulama dan gerakan mereka dalam menghadapi kerusakan dan kezaliman atas pemerintahan yang berkuasa serta menjelaskan tentang bahayanya berdiam diri atas perilaku mereka.

Sikap Imam Husain as terhadap Kekhalifahan Yazid

Setelah kematian Muawiyah pada tanggal 15 Rajab tahun 60 H/680, [[Yazid menempati posisi sebagai khalifah. [34] Ia berkeinginan supaya orang-orang yang tidak menerima dirinya atas pengangkatan yang dilakukan Muawiyah sebagai putra mahkota, diantaranya Husain bin Ali as supaya diambil baiatnya. [35] Namun Imam Husain as tetap tidak mau membaiat Yazid. [36] Imam Husain as meninggalkan Madinah dan pergi ke Mekah pada tanggal 28 Rajab. [37]

Di Mekah, Imam Husain as disambut oleh orang-orang yang sedang melakukan umrah. [38] Lebih dari 4 bulan (semenjak 3 Sya’ban hingga 8 Dzulhijah) Imam Husain as tinggal di Mekah. [39] Selama itu, kaum Kufah mengetahui bahwa Imam ke-3 tidak memberikan baiatnya kepada Yazid. Kemudian mereka mengirim surat kepada Imam Husain untuk diundang ke Kufah. [40] Imam, mengutus Muslim bin Aqil ke Kufah untuk mengetahui kebenaran ini dan nantinya akan dimintai laporan tentang keadaan Kufah kepada Imam Husain as. [41] Imam Husain berangkat ke Kufah pada tanggal 8 Dzulhijjah [42] bersama dengan keluarga dan para sahabatnya. Dari sebagian laporan sejarah memberitakan bahwa Imam Husain as mengetahui telah ada makar untuk membunuh dirinya, oleh karena itu, untuk memelihara kehormatan kota Mekah, beliau keluar dari kota Mekah. [43]

Peristiwa Karbala

Peristiwa Karbala yang telah menyebabkan Imam Husain as dan para sahabat setianya syahid adalah bagian terpenting dari kehidupan Imam Husain as. Berdasarkan sebagian laporan sejarah, Imam Husain as sebelum bergerak ke Irak, telah mengetahui kabar kesyahidannya. Peristiwa ini terjadi karena beliau tidak mau membaiat Yazid. Husain as dengan undangan masyarakat Kufah pergi ke sana bersama dengan keluarga dan para penolongnya. Dalam perjalanannya pasukan beliau bertemu dengan pasukan Hurr bin Yazid Riyahi di sebuah tempat bernama Dzu Husam, oleh karenanya Imam Husain mengubah rute perjalanannya. [44]

Menurut nukilan sebagian besar referensi, rombongan Imam Husain as sampai di Karbala pada hari ke-2 bulan Muharam. [45] Hari besoknya, terdapat pasukan sebanyak empat ribu orang dari pasukan orang Kufah dibawah pimpinan Umar bin Sa’ad memasuki Karbala. [46] Berdasarkan laporan sejarah, beberapa adu argumentasi terjadi antara Husain bin Ali dan Umar bin Sa’ad [47] namun Ibnu Ziyad tidak akan rela selama Imam Husain tidak membaiat kepadanya atau perang. [48]

Sore hari tasu’a Umar Sa’ad telah siap untuk berperang namun Imam Husain as meminta supaya malamnya diberikan kesempatan untuk bermunajat kepada Allah. [49] Pada Malam Asyura Imam Husain as memberi kesempatan kepada para penolongnya untuk meninggalkan beliau, namun mereka justru membuktikan kesetiaannya kepada Imam Husain as. [50] Pagi hari Asyura perang dimulai hingga pada siang hari telah banyak dari para sahabatnya syahid. [51] Pada saat perang berkecamuk, Hurr, komandan pasukan Kufah bergabung dengan pasukan Imam Husain as. [52] Setelah para penolong Imam syahid, keluarga Imam pergi ke medan perang, pertama dari mereka adalah Ali al-Akbar [54]. Para penolong Imam pada akhirnya, satu per satu juga syahid. Kemudian Imam Husain as sendiri pergi ke medan perang, dan pada sore hari Asyura pada tanggal 10 Asyura syahid. Syimr bin Dzil Jausyan [54] dan menurut nukilan lain Sinan bin Anas [55] memenggal kepala Imam Husain as dan mengirimkan kepala itu untuk Yazid. [56]

Umar bin Sa’ad dalam melaksanakan perintah Ibnu Ziyad memerintahkan beberapa kuda untuk menginjak-injak badan suci Imam Husain as, hal ini menyebabkan tulang-tulang jenazah Imam Husain as remuk. [57] Para perempuan dan anak-anak serta Imam Sajjad a.s yang sedang sakit, ditawan dan dibawa ke Kufah kemudian ke Suriah. [58] Jenazah Imam Husain as dan beberapa penolong setianya kira-kira 72 orang[59], pada hari 11 [60] atau 13 Muharram dikuburkan di tempat itu juga oleh Bani Asad dan berdasarkan nukilan lain, Imam Sajad as juga turut serta menguburkan jenazah-jenazah itu. [61]

Source: wikishia.net

 

Catatan kaki

  1.  Ibnu Asakir, Tārikh Madinah Damisyq, 1415, jld. 13, hlm. 262.
  2. Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, Dar al-Fikr, jld. 5, hlm. 338; Tārikh al-Khulafā, 1425, jld. 1, hlm. 149.
  3. Thaqusy, Daulat Umawiyān, 1389, hlm. 19.
  4. Thaqusy, Daulat Umawiyān, 1389, hlm. 19 menurut nukilan dari Kand Hali, Hayāt al-Shahabah, jld. 3, hlm. 63.
  5. Nashr bin Muzahim, Waqa’ah Shiffin, 1403, hlm. 31-33.
  6. Ibnu Hajar Asqalani, al-Ashābah, 1410, jld. 1, hlm. 64; Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, Dar al-Fikr, jld. 6, hlm. 220.
  7. 14; Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, Dar al-Fikr, jld. 8, hlm. 131.
  8. Thaqus, Daulat Umawiyān, 1389, hlm. 28-29.
  9. Thabarsi, al-Ihtijāj, 1403, jld. 2, hlm. 295.
  10. Ibnu Syahr Asyub, al-Manāqib, 1379, jld. 2, hlm. 381.
  11. Misalnya silahkan lihat: Syaikh Shaduq, al-I’tiqadat, hal 104; Ibnu Babuwaih Qumi, al-Imāmāh wa al-Tabsyarah, hlm. 104.
  12. Syaikh Mufid, al-Irsyād, 1413, jld. 2, hlm. 30
  13. Kulaini, al-Kāfi, 1362, jld. 1, hlm. 297.
  14. Kulaini, al-Kāfi’’, 1362, jld. 1, hlm. 301.
  15. Syaikh Mufid, al-Irsyād, 1413, jld. 2, hlm. 31
  16. Kulaini, al-Kāfi, 1362, jld. 1, hlm. 304.
  17.  Kulaini, al-Kāfi, 1362, jld. 1, hlm. 291
  18. Syaikh Mufid, al-Irsyād, 1413, jld. 2, hlm. 32; Ibnu Syahr Asyub, Manāqib Ali Abi Thālib, jld. 4, hlm. 87.
  19. Dinawari, al-Akhbār al-Thiwāl, 1368, hlm. 222; Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, 1417, jld. 3, hlm. 152.
  20. a’fariyan, Hayāt Fikri wa Siyāsi Aimah, 1381 S, hlm. 175.
  21. Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, 1993, jld. 3, hlm. 175.
  22. Dinawari, al-Akhbār al-Thiwāl, 1368, hlm. 224, Kasyi, Rijal al-Kasyi, 1348, hlm. 48.
  23. Ibnu Sa’ad, al-Tabaqāt al-Kubra, 1418, jld. 10, hlm. 441; Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, 1387, jld. 5, hlm. 322; Ibnu A’tsam Kufi, al-Futuh, 1991, jld. 4, hlm. 349-350.
  24. Dinawari, al-Akhbār al-Thiwāl, 1368, hlm. 222-225; Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, 1417, jld. 3, hlm. 120-121, Ibnu Qutaibah, al-Imāmah wa al-Siyāsah, jld. 1, hlm. 202-204.
  25. Ibnu Sa’ad, al-Tabaqāt al-Kubrā, 1418, jld. 10, hlm. 440; Syaikh Thusi, Ikhtiyār Ma’rifah al-Rijāl (Rijal Kasyi), 1348, hlm. 50; Dzahabi, Tārikh al-Islām, 1409 H, jld. 5, hlm. 6; Ibnu Asakir, Tārikh Madinah al-Damisyq, 1415, jld. 14, hlm. 206.
  26. Thabarsi, al-Ihtijāj, 1403, jld. 2, hlm. 296.
  27. Ya’qubi, Tārikh al-Ya’qubi, Dar Shadir, jld. 2, hlm. 231; Syaikh Thusi, Ikhtiyār Ma’rifah al-Rijāl (Rijal Kasyi), 1348, hlm. 48; Arbili, Kasyf al-Ghumah fi Ma’rifah al-Aimah, 1421, jld. 1, hlm. 574.
  28. Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, Dar al-Fikr, jld. 8, hlm. 79.
  29. Ibnu Qutaibah, al-Imāmah wa al-Siyāsah, 1510, jil 1, hlm. 204.
  30. Ibnu Qutaibah, al-Imāmah wa al-Siyāsah 1410, jld. 1, hlm. 208-209.
  31. Ibnu Qutaibah, al-Imāmah wa al-Siyāsah, 1410, jld. 1, hlm. 211
  32. Ibnu Sya’bah Harani, Tuhaf al-Uqul, 1404, hlm. 68.
  33. Kumpulan Peneliti Sejarah, Tārikh Qiyām wa Maqtal Jāmi’ Sayid al-Syuhadā, 1389, jld. 1, ha. 392.
  34. Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, 1417, jld. 3, hlm. 155; Mufid, al-Irsyād, 1399, jld. 2, hlm. 32.
  35. Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, 1387, jld. 5, hlm. 338.
  36. Abu Mikhnaf, Maqtal Husain, Mathbu’ah al-Ilmiyah, hlm. 5; al-Irsyād, 1413, jld. 2, hlm. 33.
  37. Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, 1417, jld. 3, hlm. 160; Syaikh Mufid, al-Irsyād, 1413, jld. 2, hlm. 34.
  38. Baladzuri, Ansab, Ansāb al-Asyrāf, 1417 H, jld. 3, hlm. 156; Syaikh Mufid, al-Irsyād, 1413 H, jld. 2, hlm. 36.
  39. Mufid, al-Irsyād, 1413 H, jld. 2, hlm. 66.
  40. Baladzuri, Ansab, Ansāb al-Asyrāf, 1417 H, jld. 3, hlm. 157-159; Syaikh Mufid, al-Irsyād, 1413 H, jld. 2, hlm. 36-38.
  41. Mufid, al-Irsyād, 1413 H, jld. 2, hlm. 41.
  42. Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, 1417 H, jld. 3, hlm. 160; Syaikh Mufid, al-Irsyād, 1413 H, jld. 2, hlm. 66.
  43. Ibnu Sa’ad, Al-Thabaqāt al-Kubrā, 1418 H, jld. 10, hlm. 450; Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, Dar al-Fikr, jld. 8, hlm. 159 dan 161.
  44. Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, 1387, jld. 5, hlm. 408, Miskawai, Tajārib al-Umam, 1379 H, jld. 2, hlm. 6 8; Ibnu Atsir, al-Kamil, 1965, jld. 4, hlm. 51.
  45. Ibnu A’tsam, al-Kufial-Futuh, 1991, jld. 5, hlm. 83; Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 5, hlm. 409; Syaikh Mufid, al-Irsyād, 1413 H, jld. 2, hlm. 84; Ibnu Miskawaih, Tajārib al-Umam, 1379 H, jld. 2, hlm. 58.
  46. Dinawari, al-Akhbār al-Thiwāl, 1368 H, hlm. 253; Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 3, hlm. 176; Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1378, jld. 5, hlm. 409; Ibnu Atsir, al-Kamil, 1965, jld. 4, hlm. 52.
  47. Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, 1378 H, jld. 5, hlm. 414; Ibnu Miskawaih, Tajārib al-Umam, 1379, jld. 2, hlm. 71.
  48. Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, 1417 H, jld. 3, hlm. 182; Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, 1378 H, jld. 5, hlm. 414; Syaikh Mufid, al-Irsyād, 1399 H, jld. 2, hlm. 89.
  49. Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, 1378 H, jld. 5, hlm. 417; Syaikh Mufid, al-Irsyād, 1399 H, jld. 2, hlm. 91.
  50. Syaikh Mufid, al-Irsyād, 1413 H, jld .2, hlm. 91-94
  51. Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, 1378 H, jld. 5, hlm. 429-530.
  52. Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, 1378 H, jld. 5, hlm. 428; Syaikh Mufid, al-Irsyād, 1413 H, jld. 2, hlm. 99.
  53. Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, 1378 H, jld. 5, hlm. 446; Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibin, Dar al-Ma’rifah, hlm. 80.
  54. Mufid, al-Irsyād, 1399 H, jld. 2, hlm. 112; Khawarazmi, Maqātil al-Husain as, 1423 H, jld. 2, hlm. 41; Thabarsi, I’lām al-Wara, 1390 H, jld. 1, hlm. 469.
  55. Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, 1378 H, jld. 5, hlm. 450-453; Ibnu Sa’ad, al-Thabaqāt al-Kubrā, 1968, jld. 6, hlm. 441; Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibin, Dar al-Ma’rifah, hlm. 118; Mas’ud, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 3, hlm. 62; Mufid, al-Irsyād, 1399 H, jld. 2, hlm. 112.
  56. Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, 1417 H, jld. 3, hlm. 411; Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, 1378 H, jld. 5, hlm. 456.
  57. Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 113; Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 3, hlm. 204; Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, 1378 H, jld. 5, hlm. 455; Mas’udi, Muruj al-Dzahab, jld. 3, hlm. 259.
  58. Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, 1378 H, jld. 5, hlm. 456.
  59. Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, 1378 H, jld. 5, hlm. 455.
  60. Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, 1378 H, jld. 5, hlm. 455.
  61. Muqarram, Maqtal al-Husain, 1426 H, hlm. 335-336.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top