Wednesday , April 8 2020
Breaking News
Melawan Hoax, Merawat Indonesia

Melawan Hoax, Merawat Indonesia

Rabu (25/1), Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi mengadakan diskusi dengan tema “Strategi Menang Melawan Hoax dan Fitnah” di Gedung Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Hadir sebagai narasumber dalam diskusi ini Unifah Rosyandi (Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia), Ahmad Mukhlis Yusuf (Pokja Revolusi Mental), Yosep Adi Prasetyo (Ketua Dewan Pers) dan Hariqo Wibawa Satria (Ditektur Eksekutif Komunikonten).

Unifah Rosyidi menjelaskan tentang kondisi bangsa Indonesia yang sedang dihadapkan dengan perang berita. Di dunia pendidikan, hal itu bisa mendistrosi cara berpikir sehingga berpengaruh pada mutu pendidikan. Karena itu, para guru khususnya, harus peka dalam mengendalikan rasa ingin tahu untuk dirinya dan anak didiknya.

“Meningkatkan mutu pendidikan diawali dari guru, murid dan sekolah. Guru harus menjadi insan pencerah dengan membuka ruang cara berpikir anak,” ujarnya.

Sementara Ahmad Mukhlis Yusuf menjelaskan, Revolusi Mental dan perubahannya bukan hal yang mustahil diwujudkan. Bahkan Revolusi Mental merupakan paradigma untuk melawan hoax.

Selanjutnya Yosep Adi Prasetyo menambahkan tentang sejarah maraknya hoax di Indonesia, ketika medsos (Media Sosial) menjadi sumber berita alternatif dan dianggap lebih dapat dipercaya karena berasal dari orang dekat melalui jalinan pertemanan. Sehingga tak diragukan lagi kebenaran beritanya.

“Penyebaran berita hoax di medsos dapat menenggelamkan berita fakta, sehingga medsos berubah manfaatnya yang awalnya mencari dan menemukan pertemanan, kemudian menjadi perang,” tambah Yosep Adi Prasetyo selaku Ketua Dewan Pers.

Sedangkan Hariqo Wibawa Satria menjelaskan tentang langkah untuk melawan hoax yaitu dengan mengajak masyarakat lebih aktif membuat konten yang positif sesuai bidangnya masing-masing. Salah satu contoh, di dunia pendidikan bisa dilihat berapa siswa yang aktif berpartipasi untuk memosting hasil karya tulisnya di internet. Jika tingkat partisipasi mereka rendah maka perlu terus ditingkatkan. (Zainuddin/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top