Thursday , November 14 2019
Breaking News
Memahami Geopolitik dan Pengafiran Syiah di Timur Tengah

Memahami Geopolitik dan Pengafiran Syiah di Timur Tengah

Ada dua kutub politik dan ideologi di Timur Tengah secara umum dan Dunia Islam secara khusus dalam menyikapi Imperialisme dan Zionisme Israel. Salah satu kutub mendukung proposal perdamaian dengan Israel yang ditawarkan Amerika Serikat (AS). Kutub ini diwakili rezim-rezim Arab terutama di Teluk Persia seperti Arab Saudi dan Qatar yang didukung mayoritas anggota Liga Arab dan negara-negara Muslim. Rezim-rezim Arab lebih panik memikirkan cara mempertahankan kekuasaan ketimbang memperjuangkan pembebasan Palestina dari cengkeraman rezim Israel.

Kutub di hadapannya adalah kelompok lebih kecil yang dikenal dengan blok resistensi. Kelompok ini mendukung perlawanan bersenjata demi membebaskan Palestina dari Israel dan menolak proposal perdamaian AS dan Barat. Kelompok resistensi ini hanya didukung oleh satu pemerintah Arab, yaitu Suriah yang dipimpin oleh Bashar Asad yang berideologi sosialis Naserit Baathis dan secara kultural berasal dari sekte Alawit (bukan Syiah Imamiyah). Rezim Asad bersekutu dengan Iran dan Hezbollah yang diasosiasikan dengan mazhab Syiah.

Iran sejak revolusi yang diletuskan Imam Khomeini menjadi sebuah sentra kekuatan ideologi resistensi terhadap hegemoni neo-kolonialisme dan zionisme Israel. Dengan pengalaman hidup dalam embargo dunia dalam segala bidang, Iran mampu mendayagunakan keterasingan sebagai sumber kekuatan internal dalam segala bidang, terutama teknologi militer.

Keberhasilan Iran keluar dari ragam konspirasi dan intimidasi Barat dan menguatnya Hezbollah dalam peta politik Lebanon setelah mengusir Israel dari Lebanon Selatan serta merebaknya tren muqawamah (perlawanan rakyat) dalam masyarakat Arab dengan Sayid Hasan Nasrullah sebagai ikon baru muqawamah menimbulkan keresahan para pemegang kekuasaan yang sadar tidak mempunyai legitimasi.

Karena proyek embargo dan pengucilan dalam pergaulan inter-nasional sejak jatuhnya Shah Iran tidak berhasil menumbangkan atau minimal menundukkan Iran, ditempuhlah modus baru yang diharapkan mampu melemahkannya, yaitu memisahkan Iran yang kian populer di dunia Islam dengan memunculkan sentimen sektarian Sunni-Syiah. Dari sinilah penyesatan Syiah lalu pengafirannya menjadi tren baru dan merebak ke dunia Arab dan dunia Islam. Tunisia dan Libya dijadikan sebagai pusat pembiakan radikalisme dan lahan pembentukan kader-kader yang siap melakukan aksi-aksi perlawanan di mana pun. Target utama berikutnya adalah menumbangkan rezim Asad dan memotong mata rantai aliansi resistensi Iran-Suriah-Lebanon (Hezbollah).

Demi memuluskan rencana tersebut, modus pengafiran Syiah pertama kali diterapkan di Suriah sebagai alat propaganda efektif untuk menjatuhkannya dan menghimpun dukungan umat Islam di seluruh dunia Arab dan dunia Islam, termasuk Indonesia. Dewasa ini terjadi gelombang baru “Salafisasi” di beberapa bagian dari dunia Islam Sunni, seperti tampak pada kemenangan mengejutkan partai Salafi di Mesir. Belakangan, sikap kaku-keras Salafisme semakin mengkristal akibat kekecewaan mereka atas kenyataan bahwa perjalanan sejarah dari mayoritas Muslim tampaknya cenderung mengakomodasi perkembangan peradaban modern, sesuatu yang dianggap mencemari kemurnian Islam yang mereka promosikan. Perkembangan ini dipandang sebagai ancaman bagi Islam yang mereka yakini, khususnya ketika perasaan ini tercampur dengan perasaan menjadi korban (victimized) oleh negara-negara adikuasa yang “anti-Islam” (yang mereka pandang berkolaborasi dengan kaum Muslim pembuat bid’ah ini, seperti akan disinggung lebih jauh setelah ini).

Baca juga Tradisi Pengafiran dan Bahayanya Terhadap Islam

Takfirisme kontemporer, yang tak lain lahir dari ekstremitas keagamaan ini kiranya juga dipantik oleh ketimpangan politik dan ekonomi. Kelompok keagamaan memiliki, atau setidak-tidaknya dianggap demikian, akses istimewa kepada pemerintahan, kekayaaan, posisi penting di pemerintahan dan kehidupan kultural. Kontestasi pengaruh di dalam tubuh umat Islam ini dipertajam oleh keterlibatan pemerintahan asing Amerika dan Eropa yang tidak ingin kehilangan cengkeramannya di wilayah ini, dengan mendukung rezim-rezim tertentu sejauh dapat mengamankan kepentingan politik dan ekonomi mereka.

Keterlibatan negara-negara super power ini terbukti sangat berpengaruh dan melanggengkan jika bukannya memperparah gejala ekstremitas, dan konflik-konflik sektarian yang lahir darinya. Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa, sejak era 1970-an dan 1980-an, berbarengan dengan munculnya fenomena Perang Dingin dan apa yang biasa disebut Kebangkitan Islam, AS (dengan dukungan negara-negara Eropa) berkepentingan untuk memastikan bahwa sebanyak mungkin negara Muslim bergerak di bawah pengaruh orbitnya.

Secara umum, menguatnya takfirisme juga terkait dengan perang dingin regional antara Sunni yang diwakili Arab Saudi dan Syiah yang diwakili Iran untuk memobilisasi dukungan regional. Saudi di satu pihak memposisikan diri sebagai pelindung kaum Sunni, sementara di pihak lain, Teheran secara alami mencari sekutu-sekutu di antara komunitas Syiah yang hidup di Lebanon, Irak, dan beberapa negara lain. Karena alasan inilah Arab Saudi dan beberapa negara Arab dengan senang hati memberikan dukungan finansial kepada kelompok-kelompok konservatif, khususnya, kelompok Salafi, sebagai proxy mereka demi memastikan bahwa kubu Islam anti-Syiah dapat selalu mempertahankan pengaruh dan perannya sebagai pembendung perkembangan aliran Syiah dan ekspansi politik Syiah di negeri-negeri Muslim.

Perkembangan Musim-Semi Arab (Arab Spring) belakangan ini merupakan peristiwa mutakhir yang, sayangnya, justru kian memperparah kecenderungan ekstremitas dan takfirisme di negara-negara seperti Arab Saudi, Bahrain, dan Suriah. Sebagaimana di Indonesia setelah Reformasi, demokratisasi yang lahir dari Musim Semi Arab ini seolah-olah seperti membuka kotak pandora, yang memungkinkan kelompok-kelompok ekstrem Islam termasuk yang beraspirasi kekerasan, yang tadinya tertahan oleh otoritarianisme yang berkuasa—mendapatkan ruang untuk berkembang bebas. Hal ini, khususnya akibat lemahnya pemerintahan dan persaingan politik dalam negeri, telah memakan korban tragis dalam bentuk pembiaran persekusi kelompok-kelompok yang lebih moderat oleh para ekstremis-takfiri sebagai tampak di Libya, Aljazair, Mesir (khususnya setelah kudeta militer), Suriah (di wilayah-wilayah yang di dalamnya kaum Salafi-jihadis memiliki sebatas tertentu kekuasaan), dan berbagai wilayah lain. (Haidar Bagir, artikel “Takfirisme”, satuislam.org)

(Dikutip dari Buku “Syiah Menurut Syiah” Tim Penulis Ahlulbait Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top