Tuesday , January 28 2020
Breaking News
Memahami Keyakinan Mazhab Syiah untuk Mencari Titik Temu

Memahami Keyakinan Mazhab Syiah untuk Mencari Titik Temu

Semarang –  Dalam rangka tugas program sosial dari Study of US Institute Religious Freedom and Pluralism, Semarang Religious Diversity Youth For Peace bekerja sama dengan Gusdurian UIN Walisongo di hari toleransi internasional mengadakan kunjungan ke Pimpinan Wilayah Muslimah Ahlulbait Indonesia (Pimwil MAI) Jawa Tengah dan menggelar diskusi bertema ‘Memahami Keyakinan Mazhab Syiah untuk Mencari Titik Temu’.

Kegiatan berlangsung pada Minggu, 07 Desember 2019 di Pimwil MAI Jawa Tengah. Para mahasiswa UIN Walisongo mengaku memiliki tugas untuk menyelami dan merajut kesepahaman lintas agama maupun lintas mazhab. Sebelumnya mereka sudah berkunjung ke tempat penganut agama Hindu, Budha, Kristen, dan aliran lainnya. Tujuan kedatangan mereka kali ini adalah untuk juga mengetahui apa itu Syiah dan pandangan-pandangannya.

Acara dibuka oleh ustaz Nur Cholis selalu dilanjutkan dengan pembukaan dari koordinator mahasiswa, Suko Riyanto. Para peserta sangat antusias dalam menyimak pemaparan mengenai akidah dari ustaz Luthfi dan pada sesi tanya jawab, beberapa menanyakan beberapa isu terkait rujukan ilmu orang Muslim Syiah, posisi wanita dalam pandangan Syiah, serta makna pentingnya peringatan Asyura.

Terakhir adalah pemberian kenang-kenangan dari peserta, foto bersama, dan pemberian buku Syiah Menurut Syiah dan Kosmologi Perempuan dari ketua Pimwil MAI Jateng, Andi Astuti, kepada koordinator mahasiswa.

Di antara yang poin yang dipaparkan oleh ustaz Luthfi adalah bahwa semua aliran apapun di setiap agama, tidak ada yang mengajarkan keburukan, hal-hal baik pasti didorong untuk melakukannya. Perbedaan antara Mazhab dalam agama hanya pada cabang (furu), untuk Islam sendiri, secara ushuluddin (pokok) pasti mengacu pada 3 hal utama yakni: Ketuhanan, Kenabian, dan hari kebangkitan. Adapun imamah dalam Mazhab Syiah dimasukan ke dalam ushul Mazhab.

“Penyakit dari masyarakat khususnya yang ada di masyarakat Indonesia adalah kadang tidak mengerti letak posisi perbedaan ada di mana, sehingga sering ribut pada hal-hal yang memang pada dasarnya bisa saja berbeda (furu) contohnya sedekap dalam salat dan sebagainya. Masyarakat perlu menyadari bahwa kondisi ataupun fenomena-fenomena yang terjadi dalam negeri tidak terlepas dari kondisi geopolitik di luar sana. Sehingga alangkah indahnya segala perbedaan dicari titik temunya, bukan malah memperuncing perbedaan yang ada,” paparnya.

“Masyarakat pun perlu menyadari bahwa sejarah selalu berulang, hanya saja aktornya yang berbeda. Sejak zaman Rasulullah, ada tiga kelompok yang merusak dan patut diwaspadai adalah pedagang yg selalu mencari untung, ulama yang jahat, serta politikus. Di era sekarang, itu pun juga masih ada,” tambahnya.

Pesan Ustaz Luthfi kepada generasi muda Islam adalah untuk menjadi agen Islam yang membawa misi damai Rasulullah, perlihatkan akhlak manusia suci nan sempurna ke seluruh manusia, dan berhati-hati dalam membawa nama Rasul SAW ataupun saat membicarakan beliau. (dewi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top