Tuesday , February 18 2020
Breaking News
Memaknai dan Melestarikan Tradisi Muharam

Memaknai dan Melestarikan Tradisi Muharam

Terdapat beragam tradisi Islam Nusantara yang diwariskan para ulama terdahulu, mulai dari sastra, upacara-upacara, permainan tradisional, nyanyian atau tembang, seni pertunjukan dan lain sebagainya. Aneka tradisi luhur tersebut lahir melalui proses akulturasi dengan kebudayaan lokal Nusantara. Sehingga memiliki makna Islam yang luhur dan kearifan lokal yang kaya. Pada akhirnya, tradisi-tradisi yang sudah berusia ratusan tahun itu menjadi jati diri bangsa dan kekayaan Islam Nusantara hingga kini. Sebagai contoh adalah tradisi bulan Muharam.

Dalam perkembangannya, tradisi-tradisi Muharam nyaris kehilangan maknanya hanya menjadi prosesi seremonial saja, bahkan dieksplorasi hanya sebagai daya tarik wisata. Hanya kalangan tertentu saja yang benar-benar menjaga nilai perjuangan keluarga Rasulullah saw yang tersirat dalam tradisi Muharam.

Melihat hal ini, Rumah Kajian Al-Quran Dzulfiqar mengadakan seminar nasional bertema Memaknai Tradisi Muharam Sebagai Kekayaan Bangsa dan Khazanah Islam Nusantara di gedung Syahida INN Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (11/11). Dalam acara ini hadir Sejarawan sekaligus Budayawan Agus Sunyoto, Intelektual muda NU Zuhairi Misrawi serta Cendekiawan Muslim Muhammad Rusli Malik sebagai pembicara.

Muhammad Rusli Malik yang juga pengasuh Rumah Kajian Al-Quran Dzulfiqar menuturkan bahwa acara tersebut juga dimaksudkan untuk memperkenalkan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga nilai-nilai kebudayaan termasuk dalam tradisi Muharam. Menurutnya, perkembangan tradisi Muharam di penjuru negeri tak lepas dari sejarah gugurnya Sayidina Husein dalam Tragedi Karbala pada 10 Muharam (Asyura).

Sementra itu Zuhairi Misrawi berkesimpulan bahwa memang, alasan umat jauh dari agamanya dikarenakan jauh dari Keluarga Nabi. Sayidina Husein selaku Ahlul Bait (Keluarga) Nabi, telah mengambil peran penting dari sisi historis dan nilai-nilai perjuangan yang dibawanya berkembang melalui tradisi Muharam.

Acara ini juga diramaikan pagelaran foto-foto peringatan bulan Muharam serta pemutaran film pendek yang menayangkan tradisi-tradisi Muharam di penjuru dunia serta kutipan pernyataan para tokoh dunia yang terinspirasi perjuangan Sayidina Husein yang kini lestari dalam berbagai tradisi. Selain itu juga dihadirkan pertunjukan Tari Saman, mendengarkan alunan lagu Bubuy Bulan (lagu daerah Jawa Barat) yang juga lekat dengan nilai historis kisah Sayidina Husein. (Malik/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top