Sunday , January 26 2020
Breaking News
Membincang Pengaruh Wahabisme di Dunia Islam

Membincang Pengaruh Wahabisme di Dunia Islam

Beberapa tahun terakhir, atmosfer umat Islam di Indonesia diramaikan oleh kelompok Wahabi dengan slogan mereka yang sangat familiar di telinga masyarakat, yaitu “Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah”. Faktanya, yang terjadi justru upaya Wahabi memilah-milah umat Islam ke dalam kelompok-kelompok, bahkan tak jarang mengeluarkan kelompok-kelompok “luar” yang berbeda paham dengan mereka dari Islam.

Hal itu, menurut Ahmad Najib Burhani, Peneliti LIPI dan MAARIF Institute adalah akibat doktrin Wahabi yang disebut Al-Wala’ Wa-l-Bara’. “Yaitu kependekan dari mencintai dan membenci,” terang Najib dalam Tadarus Ramadhan bertema “Pengaruh Wahabisme di dunia Islam,” di Utan Kayu, Rabu (1/7) malam.

Maksud dari doktrin tersebut adalah mencintai sesama muslim dan membenci kelompok non-Muslim. Namun dalam pandangan Najib, doktrin itu pula yang telah menciptakan perpecahan di antara kelompok Wahabi, seperti perpecahan yang terjadi antara Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan Ansharu Tauhid (AT). Dengan doktrin itu intinya Wahabi ingin mencoba menguatkan sesama Islam. “Tapi faktanya, banyak sekali mereka mengeluarkan orang Islam dari komunitas Islam,” terang Najib.

Adil Menyikapi Wahabi       

Sementara itu, Ihsan Ali-Fauzi, Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina, sebagai pembicara kedua menerangkan bahwa belakangan ini kata “Wahabisme” sudah menjadi keranjang sampah, sehingga tidak bisa membedakan antara Wahabisme dengan Salafisme.

Menurut beberapa peneliti Wahabi seperti Madawi al-Rasheed (2006), Tareq Masoud (2010) dan Quintan Wiktorowicz (2006), secara garis besar Wahabisme dibagi dalam tiga kelompok besar yaitu, Wahabi apolitis (Qyuitist), Wahabi Reformis (Sahwis) dan Jihadis. Bahkan selain tiga kelompok tersebut masih banyak kelompok-kelompok lain lagi, seperti warna-warni pelangi.

Terkait seringnya Wahabisme dihubungkan dengan kekerasan, bagi Ihsan hal tersebut bukan saja tidak adil tapi juga berbahaya, sebab tentu tidak semua Wahabi mendukung aksi-aksi kekerasan. Untuk itu Ihsan mengajak audiensi malam itu untuk membuka pikiran dan menyadari bahwa di dalam Wahabisme juga ada keragaman.

“Maka penting bagi kita untuk tidak gebyah-uyah terkait wahabisme,” pungkas Ihsan. (Lutfi/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top